News

20b102b3 a479 452c 8f48 6fde8a471222

Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu

Pameran seni rupa “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua” hadir sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan karya-karya seni dari berbagai generasi, latar pengalaman, serta lingkungan penciptaan yang berbeda. Pameran ini menghadirkan gagasan bahwa sebuah karya seni tidak pernah lahir secara terpisah, melainkan selalu memiliki hubungan dengan karya-karya yang telah hadir sebelumnya, pengalaman manusia, serta berbagai konteks yang membentuknya. Melalui pendekatan tersebut, pameran ini mengajak para seniman untuk merespons karya yang telah ada melalui ekspresi artistik baru. Hubungan antara karya lama dan karya baru tidak dipandang sebagai pengulangan, melainkan sebagai percakapan kreatif yang terus berkembang—sebuah dialog imajiner yang melintasi ruang dan waktu, mempertemukan masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Tema “Sahaja” menyoroti momen ketika rupa bersua—ketika sebuah karya berdampingan dengan karya lainnya dan membuka ruang bagi lahirnya pemaknaan baru. Pertemuan tersebut tidak hanya memperlihatkan hubungan antara penciptaan sebelumnya dengan penciptaan berikutnya, tetapi juga menghadirkan kemungkinan munculnya tafsir, inspirasi, dan pengalaman artistik yang baru. Dalam konteks ini, seni dipahami sebagai proses yang terus bergerak. Ia tidak berhenti pada satu bentuk, satu pemahaman, ataupun satu batasan tertentu. “Kala Rupa Bersua” tidak berupaya menempatkan karya dalam hierarki nilai, melainkan menghadirkan ruang yang memungkinkan setiap karya berbicara melalui keberadaannya sendiri. Pameran ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali hubungan antara seni, seniman, dan karya seni. Selama ini, pemahaman terhadap sebuah karya sering kali dikaitkan dengan latar pengetahuan, konsep, atau pengalaman penciptanya. Namun, melalui “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA”, karya diberikan ruang untuk hadir sebagai entitas yang dapat menyapa, berinteraksi, dan membangun hubungan dengan karya lain maupun dengan publik yang mengapresiasinya. Setiap karya yang hadir membawa jejak pengalaman manusia, nilai-nilai etis, kondisi sosial budaya, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan semesta yang lebih luas. Karya seni tidak hanya menjadi objek visual yang dilihat, tetapi juga menjadi ruang pengalaman yang terus terbuka untuk ditafsirkan oleh berbagai generasi. Pertemuan antara karya yang telah ada dan karya yang baru tercipta menunjukkan bahwa perjalanan seni selalu berlangsung melalui proses saling merespons, saling memengaruhi, dan saling menghidupkan. Sebuah karya dapat menjadi awal bagi karya berikutnya, membangun kesinambungan gagasan yang membuat seni terus tumbuh dan berkembang. Lebih dari sekadar sebuah pameran, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua” merupakan undangan untuk memahami seni sebagai ruang perjumpaan, refleksi, dan dialog. Seni tidak berhenti di ruang pamer, tetapi hadir di tengah masyarakat sebagai medium untuk membuka percakapan, membangun empati, serta memperluas cara manusia memahami kehidupan. Melalui peristiwa ketika rupa bersua ini, seni dihadirkan bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan, direnungkan, diperdebatkan, dan terus dihidupkan sebagai bagian dari perjalanan bersama dalam memahami manusia, dunia, dan berbagai kemungkinan makna yang lahir di antaranya. Baca Juga: Ruang Dialog Seni di Tengah Perjumpaan Ekosistem Seni Rupa Indonesia Foto-foto: Jessy

Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu Read More »

img 3656 small

“Rimpang Rasa, Narasi Rawan”: Dialog Antar Generasi Melalui Seni

Seni bukan sekadar objek untuk dilihat, tetapi ruang untuk merasakan, berdialog, dan memahami kembali hubungan manusia dengan dunia di sekitarnya. Berangkat dari gagasan tersebut, Ginting Institute bersama Galeri ZEN1 dan Kiniko Art mempersembahkan pameran bersama bertajuk “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” melalui program SAHAJA: Kala Rupa Bersua. Pameran ini menghadirkan perjumpaan antara karya seni dari berbagai generasi, waktu, dan pengalaman hidup. Setiap karya diposisikan bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari rantai penciptaan yang terus bergerak di mana inspirasi, tradisi, pengalaman personal, serta nilai-nilai etis saling terhubung dan membentuk narasi baru. “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” mengajak publik melihat seni sebagai sebuah percakapan panjang. Karya yang telah hadir sebelumnya bertemu dengan karya yang lahir sebagai respons, menciptakan hubungan antara masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Bagi Ginting Institute, seni memiliki peran yang lebih luas dari sekadar pengalaman estetika. Seni harus mampu hadir di tengah masyarakat, membuka ruang percakapan, membangun empati, serta mendorong kesadaran dan tindakan. Pemikiran tersebut menjadi salah satu dasar perjalanan Daniel Ginting sebagai kolektor seni sekaligus penulis buku Rimpang Rasa. Baginya, mengoleksi karya seni bukan hanya tentang memiliki objek, tetapi tentang memahami cerita, perjalanan, dan nilai yang melekat di balik sebuah karya. “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, yang menghadirkan pendekatan kuratorial tentang bagaimana karya seni dapat saling merespons dan membentuk jaringan makna. Pameran ini menghadirkan karya dari sejumlah seniman lintas pendekatan, yaitu Andry Boy Kurniawan, Budi Kustarto, Daniel Timbul, Eko Rachmiyanto, Jumaldi Alfi, Lugas Syllabus, M. Irfan, Radetyo Itok, S Dwi Stya Acong, dan Ugo Untoro. Melalui beragam medium dan perspektif, para seniman menghadirkan eksplorasi tentang pengalaman manusia, ingatan, perubahan zaman, serta bagaimana seni terus berkembang melalui proses perjumpaan. Rangkaian pembukaan pameran akan diawali dengan diskusi publik yang menghadirkan Daniel Ginting (Penulis Buku Rimpang Rasa), Rizki A. Zaelani (Kurator), dan Ugo Untoro (Seniman) dengan moderator Jumaldi Alfi. Diskusi ini menjadi ruang untuk membahas hubungan antara koleksi, penciptaan karya, dan bagaimana seni membangun komunikasi lintas generasi. Pameran kemudian akan resmi dibuka oleh Daniel Ginting pada Sabtu, 20 Juni 2026. Kehadiran pameran ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem seni yang lebih terbuka di mana galeri, seniman, kolektor, dan masyarakat dapat bertemu dalam ruang dialog yang saling memperkaya. Melalui SAHAJA: Kala Rupa Bersua, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” menunjukkan bahwa seni selalu memiliki kehidupan yang melampaui ruang pamer. Ia tumbuh melalui hubungan, pengalaman, dan pertemuan manusia yang terus menciptakan makna baru. Pameran ini berlangsung pada 20 Juni – 20 Juli 2026 di Kiniko Art, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta dan terbuka untuk publik.

“Rimpang Rasa, Narasi Rawan”: Dialog Antar Generasi Melalui Seni Read More »

dsf1718 copy small

Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial

Pembukaan Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency sekaligus menjadi momentum penyelenggaraan Tibubeneng Sustainable Art, sebuah pameran seni yang mengangkat isu lingkungan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dari pameran seni yang hanya berfokus pada estetika, program ini menghadirkan seni sebagai medium edukasi, dialog, dan upaya membangun kesadaran bersama terhadap persoalan lingkungan. Bagi Daniel Ginting, Founder Ginting Institute sekaligus kolektor seni, kehadiran WRQ sejak awal dirancang sebagai ruang yang tidak berhenti pada aktivitas seni semata. “Seni itu tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” ujar Daniel. Menurut Daniel, seni memiliki kemampuan untuk menjembatani berbagai kelompok masyarakat. Melalui ruang seperti WRQ, seniman, komunitas, intelektual, dan masyarakat dapat bertemu untuk membangun gagasan yang memiliki dampak lebih luas. Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Quoriena Ginting, kolektor seni yang memiliki perhatian besar terhadap warisan budaya Nusantara. Ia melihat bahwa karya seni yang berbicara tentang lingkungan bukan hanya persoalan visual, tetapi juga menjadi pengingat terhadap kondisi bumi. “Seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan bukan sekadar tampilan yang mengejar keindahan. Ada pesan yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, sadar, dan mengambil tindakan,” ungkap Quoriena. Salah satu bagian menarik dalam pameran ini adalah keterlibatan siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng. Melalui program edukasi lingkungan, para siswa mengikuti workshop Plasticology bersama seniman Made Bayak. Dalam proses tersebut, mereka belajar mengolah limbah plastik menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan. Karya-karya anak-anak tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan dapat dibangun melalui pengalaman kreatif. Banyak pengunjung mengapresiasi hasil karya siswa yang mampu menghadirkan visual kuat dari material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah. Di ruang galeri WRQ, pameran juga menghadirkan karya dari berbagai seniman lintas disiplin yang merespons isu lingkungan. Sejumlah seniman yang terlibat antara lain Made Wianta (alm.), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan. Sementara dari bidang seni kartun hadir Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, serta Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Pameran ini juga menampilkan karya fotografi dari Andang Iskandar dan Tjandra Hutama. Kurator pameran, Yudha Bantono, menjelaskan bahwa Tibubeneng Sustainable Art merupakan inisiatif yang mempertemukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan. “Pameran ini menjadi ruang dialog kreatif antara anak-anak, seniman, masyarakat desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran serta solusi nyata terhadap tantangan lingkungan,” ujar Yudha. Menurutnya, seni dapat menjadi alat transformasi sosial ketika dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Penggunaan material daur ulang, bahan ramah lingkungan, serta pendekatan kreatif menjadi cara untuk menghadirkan pesan keberlanjutan secara lebih mudah diterima publik. Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya melihat Tibubeneng Sustainable Art sebagai bentuk nyata kolaborasi berbagai pihak dalam menjawab persoalan lingkungan, khususnya isu sampah yang menjadi perhatian desa. “Melalui seni, budaya, dan kegiatan kreatif, masyarakat dapat lebih mudah diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” katanya. Pameran Tibubeneng Sustainable Art menghadirkan lebih dari 20 karya seni berupa lukisan, instalasi, kartun, hingga fotografi. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali. Melalui WRQ, Tibubeneng menunjukkan bahwa seni dapat mengambil peran lebih besar: bukan hanya sebagai ruang ekspresi, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan membangun kesadaran, kepedulian, dan masa depan lingkungan yang lebih baik.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial Read More »

dsf2087 copy small

Ginting Institute dan Desa Tibubeneng Resmikan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Ruang Kolaborasi Seni untuk Perubahan Sosial dan Lingkungan

Tibubeneng, Badung, Bali, 13 Juni 2026 — Ginting Institute bersama Pemerintah Desa Tibubeneng resmi membuka Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency (WRQ), sebuah ruang kolaborasi yang dirancang untuk mempertemukan seniman, masyarakat, generasi muda, dan berbagai komunitas dalam menciptakan perubahan melalui seni, budaya, pendidikan, dan kepedulian lingkungan. Kehadiran WRQ menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem seni yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat antara seni dan kehidupan masyarakat. Berlokasi di Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali, ruang ini hadir sebagai tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dan berbagai inisiatif sosial yang berorientasi pada keberlanjutan. Peresmian Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency sekaligus menjadi puncak dari rangkaian program Tibubeneng Sustainable Art, sebuah gerakan kolaboratif yang mengajak masyarakat untuk melihat persoalan lingkungan, khususnya sampah, melalui pendekatan seni dan pendidikan. Program ini berangkat dari pemahaman bahwa isu lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis. Dibutuhkan perubahan cara pandang dan kesadaran bersama yang dibangun sejak dini. Melalui seni, sampah tidak hanya dilihat sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga sebagai medium pembelajaran, ekspresi, dan refleksi terhadap hubungan manusia dengan alam. Pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, menyampaikan bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik. “Seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan mendorong tindakan. Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency hadir sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, masyarakat, dan berbagai gagasan yang dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Daniel. Berbeda dari ruang seni konvensional, WRQ dirancang sebagai ruang yang terbuka dan partisipatif. Selain menjadi tempat berkarya dan residensi seniman, WRQ akan menjadi pusat berbagai program edukasi, pengembangan komunitas, pelestarian budaya, serta inisiatif lingkungan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, mengatakan bahwa kolaborasi bersama Ginting Institute memperkuat komitmen desa dalam membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan seni menjadi salah satu cara efektif untuk mengajak masyarakat terlibat karena pesan lingkungan dapat disampaikan melalui pengalaman kreatif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Ketika pesan lingkungan hadir melalui karya seni dan kegiatan kreatif, masyarakat dapat lebih mudah memahami dan merasakan relevansinya. Ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bersama, terutama bagi generasi muda,” katanya. Rangkaian Tibubeneng Sustainable Art sebelumnya dimulai melalui program edukasi lingkungan “Ayo Peduli Sampah” yang melibatkan siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng. Para siswa diperkenalkan pada pengelolaan sampah, prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace), pengolahan kompos, hingga pemahaman mengenai dampak limbah terhadap lingkungan. Program tersebut kemudian berkembang melalui workshop kreatif yang melibatkan seniman Bali dan Indonesia. Melalui workshop Plasticology bersama Made Bayak, peserta diajak memahami bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan. Selain itu, workshop kartun bersama Jango Pramartha memperkenalkan pendekatan visual storytelling, di mana isu lingkungan diterjemahkan melalui gambar dan narasi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Pada pembukaan WRQ, masyarakat dapat melihat hasil perjalanan kolaborasi tersebut melalui pameran karya yang melibatkan siswa SD Desa Tibubeneng bersama sejumlah seniman Bali dan Indonesia, antara lain Made Wianta, Made Bayak, Boy Andry, Jango Pramartha, Gus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky, Putu Dian Ujiana, Tjandra Hutama, dan Andang Iskandar. Karya-karya yang ditampilkan membawa berbagai refleksi mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah menjadi karya yang menghadirkan pesan tentang kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan. Ke depan, Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency akan terus mengembangkan berbagai program yang mempertemukan seni, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi bersama seniman, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat menjadikan Tibubeneng sebagai contoh bahwa seni dapat mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan. Melalui WRQ, seni tidak ditempatkan sebagai ruang eksklusif, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan persoalan di sekitarnya. Sebuah ruang yang menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi bagian dari solusi. Pameran Tibubeneng Sustainable Art terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali.

Ginting Institute dan Desa Tibubeneng Resmikan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Ruang Kolaborasi Seni untuk Perubahan Sosial dan Lingkungan Read More »

714541429 18585192931011380 7525564752879923994 n

1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan

Kesadaran lingkungan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari proses belajar yang konsisten, dimulai dari hal-hal sederhana yang dikenalkan sejak usia dini. Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi lingkungan bertajuk “Ayo Peduli Sampah” yang digelar di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Program yang merupakan bagian dari rangkaian Tibubeneng Sustainable Art ini berlangsung sepanjang Juni 2026 melalui kolaborasi antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, dan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency. Pada 4 Juni 2026, kegiatan edukasi dilaksanakan di MI Al Hasanah dan SDN 3 Tibubeneng, melibatkan ratusan siswa sekolah dasar yang mengikuti pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan. Antusiasme para siswa menjadi pemandangan yang membekas bagi para fasilitator yang terlibat. Salah satunya dirasakan oleh Yudha Bantono, yang turut mendampingi kegiatan tersebut. Ia mengaku mendapatkan energi baru setelah melihat semangat dan rasa ingin tahu para siswa selama proses pembelajaran berlangsung. “Melihat antusiasme mereka membuat energi saya terisi kembali. Anak-anak ini kelak akan menjadi pemimpin bangsa dalam beberapa dekade mendatang,” ujarnya. Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan ketertarikan yang tinggi saat diajak berdiskusi tentang sampah, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari yang dapat membantu mengurangi pencemaran. Yang cukup mengejutkan, tim pelaksana menemukan bahwa sebagian besar siswa ternyata belum pernah mendapatkan pembelajaran khusus mengenai pengelolaan sampah di sekolah. Padahal, isu sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya memperluas pendidikan lingkungan ke tingkat sekolah dasar. Banyak anak yang sebenarnya memiliki rasa ingin tahu tinggi mengenai alam dan lingkungan, tetapi belum mendapatkan ruang belajar yang memadai untuk memahami persoalan tersebut secara sistematis. Melalui program ini, siswa diperkenalkan pada prinsip dasar pengelolaan sampah yang sederhana namun penting, mulai dari mengenali jenis sampah, memahami dampaknya terhadap lingkungan, hingga mengenal konsep 4R: Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Materi disampaikan melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan agar mudah dipahami oleh anak-anak. Dalam kurun waktu tiga hari, program ini menjangkau sekitar 1.500 siswa sekolah dasar di wilayah Tibubeneng. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya antusiasme sekolah dan masyarakat terhadap pendidikan lingkungan yang selama ini masih relatif terbatas. Bagi Ginting Institute dan Pemerintah Desa Tibubeneng, program ini bukan sekadar kegiatan edukasi sesaat. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun budaya peduli lingkungan sejak dini. Anak-anak tidak ditempatkan sebagai penerima informasi semata, melainkan sebagai generasi yang kelak akan menentukan bagaimana lingkungan mereka dikelola di masa depan. Program edukasi ini juga menjadi bagian dari perjalanan menuju pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, sebuah ruang kolaborasi yang menghubungkan seni, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai workshop dan kegiatan partisipatif yang berlangsung sepanjang Juni, masyarakat diajak melihat bahwa isu lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Bali hari ini, pemandangan ratusan siswa yang bersemangat belajar tentang sampah memberikan alasan untuk optimistis. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari ruang kelas sederhana, dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul di benak anak-anak, dan dari kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika pendidikan lingkungan dapat terus ditanamkan secara konsisten, maka generasi yang tumbuh hari ini bukan hanya akan menjadi pemimpin masa depan, tetapi juga penjaga masa depan lingkungan mereka sendiri.

1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan Read More »

683544618 18104508967940906 6830464171537029681 n

Made Bayak dan Plasticology: Ketika Sampah Menjadi Seni, Kesadaran Menjadi Gerakan

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan sampah di Bali, seni kembali menunjukkan kemampuannya untuk berbicara dengan cara yang berbeda. Bukan melalui data atau kampanye yang bersifat instruktif, melainkan melalui pengalaman visual yang mampu menyentuh kesadaran publik secara lebih mendalam. Salah satu sosok yang konsisten menempuh jalur tersebut adalah Made Bayak, seniman visual sekaligus aktivis lingkungan asal Bali yang dikenal melalui praktik seni bertajuk Plasticology. Selama bertahun-tahun, Made Bayak menjadikan limbah plastik sebagai medium utama dalam berkarya. Plastik-plastik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dikumpulkan, disusun, dilapisi, dan diolah menjadi karya visual yang kuat secara estetika sekaligus sarat pesan lingkungan. Melalui pendekatan ini, ia mengajak publik melihat kembali hubungan manusia dengan alam, laut, dan sampah yang dihasilkan dari pola konsumsi sehari-hari. Bagi Made Bayak, sampah bukan sekadar residu yang harus dibuang. Di balik setiap lembar plastik yang terdampar di pantai atau menumpuk di tempat pembuangan, terdapat cerita tentang pilihan hidup manusia, pola produksi, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dari sanalah lahir konsep Plasticology, sebuah pendekatan artistik yang mengubah limbah menjadi medium refleksi sekaligus advokasi. Semangat inilah yang kemudian menjadi bagian dari program #Grow (Green Responsibility for Our World), sebuah inisiatif yang mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan melalui pendidikan, kolaborasi, dan praktik kreatif. Program ini dikembangkan melalui kerja sama antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, serta komunitas kreatif dan masyarakat setempat. Fokus utama program ini adalah membangun kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini. Melalui pendidikan lingkungan berbasis komunitas, siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng akan diperkenalkan pada prinsip 4R: Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Namun pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada teori semata. Anak-anak akan diajak untuk belajar melalui pengalaman langsung, termasuk mengenal bagaimana sampah dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai dan makna baru. Dalam konteks ini, Made Bayak akan memimpin workshop Plasticology yang melibatkan siswa, pemuda desa, serta masyarakat dalam proses kreatif bersama. Workshop tersebut menjadi bagian dari perjalanan partisipatif yang lebih luas. Tujuannya bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Ketika anak-anak terlibat langsung dalam proses mengolah limbah menjadi karya, mereka tidak hanya belajar tentang seni, tetapi juga memahami konsekuensi dari sampah yang mereka hasilkan setiap hari. Lebih jauh, program ini juga menjadi ruang pertemuan antara seniman profesional dan masyarakat. Seni ditempatkan sebagai alat pendidikan sekaligus jembatan dialog yang mampu menerjemahkan isu lingkungan menjadi pengalaman yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Seluruh rangkaian kegiatan ini akan bermuara pada pembukaan resmi Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency yang direncanakan berlangsung pada 13 Juni 2026. Pada momentum tersebut, karya-karya Plasticology hasil kolaborasi antara Made Bayak, siswa sekolah dasar, pemuda desa, dan masyarakat akan dipamerkan kepada publik. Pameran ini bukan sekadar menampilkan karya seni, tetapi menjadi simbol dari sebuah proses belajar bersama. Sebuah proses yang menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil: memahami sampah, mengubah cara pandang, dan tumbuh bersama dalam kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi Bali hari ini, Plasticology menawarkan satu pesan penting: bahwa sesuatu yang dianggap sebagai akhir dapat menjadi awal yang baru. Dan melalui seni, kesadaran itu dapat tumbuh lebih jauh, menjangkau lebih banyak orang, serta menjadi bagian dari gerakan kolektif menuju Bali yang lebih bersih, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan.

Made Bayak dan Plasticology: Ketika Sampah Menjadi Seni, Kesadaran Menjadi Gerakan Read More »

young asian people raising hands as sign unity while together cafe

Gotong Royong, Warisan yang Menjadikan Kita Kuat

Di tengah dunia yang semakin individualistis, ada satu nilai yang sejak lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Indonesia: kebersamaan. Nilai ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari gotong royong di lingkungan sekitar, solidaritas saat menghadapi bencana, hingga kepedulian sederhana antar sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan kekuatan sosial yang membentuk identitas bangsa. Sering kali kebersamaan dipahami sebagai sesuatu yang besar dan seremonial. Padahal, dalam praktiknya, kebersamaan tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus. Ia hadir ketika seseorang membantu tetangganya tanpa diminta, ketika masyarakat bekerja bersama membersihkan lingkungan, atau ketika sebuah komunitas saling mendukung untuk menghadapi tantangan bersama. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi memang membuat manusia semakin terhubung secara digital, tetapi tidak selalu membuat hubungan sosial menjadi lebih dekat. Banyak orang hidup berdampingan, namun kehilangan ruang untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Di sinilah makna kebersamaan menemukan relevansinya. Harmoni sosial tidak muncul begitu saja. Ia dibangun melalui kesediaan untuk berbagi, mendengarkan, dan peduli terhadap orang lain. Harmoni adalah hasil dari proses yang diciptakan bersama, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Indonesia memiliki sejarah panjang tentang bagaimana kekuatan kolektif mampu mengatasi berbagai tantangan. Dari perjuangan kemerdekaan hingga menghadapi berbagai krisis sosial dan ekonomi, masyarakat Indonesia berkali-kali menunjukkan bahwa ketika bergerak bersama, mereka memiliki daya tahan yang luar biasa. Kekuatan tersebut tidak lahir dari individu yang bekerja sendiri, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk saling menopang. Dalam budaya gotong royong, keberhasilan seseorang tidak dipandang sebagai kemenangan pribadi semata, tetapi juga bagian dari keberhasilan bersama. Sebaliknya, ketika ada anggota masyarakat yang tertinggal, komunitas merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu mengangkatnya. Nilai ini menjadi warisan yang sangat berharga di tengah berbagai perubahan zaman. Ketika dunia semakin kompetitif, kebersamaan mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus dicapai dengan meninggalkan orang lain. Justru kemajuan yang berkelanjutan lahir ketika masyarakat tumbuh bersama dan saling memperkuat. Dalam konteks pembangunan sosial, pendidikan, lingkungan, maupun ekonomi, prinsip ini tetap relevan. Banyak inisiatif yang berhasil karena dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, komunitas, dunia usaha, hingga generasi muda. Setiap pihak membawa peran yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Kekuatan itu juga terletak pada kualitas hubungan antarmanusianya. Ketika masyarakat mampu menjaga rasa saling percaya dan kepedulian, maka fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik akan semakin kuat. Warisan terbesar yang dimiliki Indonesia bukan hanya keberagaman budaya atau kekayaan alamnya, tetapi juga semangat gotong royong yang hidup di tengah masyarakat. Sebuah keyakinan bahwa kita dapat melangkah lebih jauh ketika berjalan bersama. Sebab sejak dulu, kekuatan kita tidak pernah sepenuhnya bersifat individual. Kekuatan itu selalu lahir dari kebersamaan, dari kesediaan untuk saling mengangkat, dan dari keyakinan bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang dirasakan bersama.

Gotong Royong, Warisan yang Menjadikan Kita Kuat Read More »

wrq

Menuju Pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency: Membangun Ruang Kolaborasi dan Kedaulatan Ekologis

Inisiatif kolaboratif antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, dan komunitas kreatif Bali kini bergerak menuju tahap yang lebih nyata. Menjelang pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, serangkaian program partisipatif mulai dijalankan sebagai bagian dari perjalanan bersama untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis pendidikan dan seni. Rangkaian program ini tidak dirancang sekadar sebagai pengantar menuju grand opening, melainkan sebagai proses keterlibatan publik yang tumbuh secara bertahap dengan membangun kesadaran penanganan sampah sejak usia dini melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.  Fokus utamanya adalah membangun ruang kolaborasi dari berbagai unsur masyarakat. Prosesnya dimulai melalui koordinasi bersama pemerintah desa, pemuda Tibubeneng, dan para seniman Bali. Dari awal, pendekatan yang dibangun bukan berupa kampanye satu arah, melainkan ruang kolaborasi yang mengajak masyarakat ikut terlibat dalam proses belajar dan menciptakan perubahan bersama. Salah satu langkah awal diwujudkan melalui program literasi lingkungan untuk siswa sekolah dasar di Tibubeneng. Anak-anak diajak melihat persoalan sampah bukan hanya sebagai isu kebersihan, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan cara hidup sehari-hari. Pendekatan ini diperkuat dengan materi ajar interaktif yang menggabungkan cerita, visual, permainan, dan pengalaman kreatif agar lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak. Di saat yang sama, pemuda desa juga dipersiapkan sebagai fasilitator komunitas. Mereka dilibatkan dalam workshop dan pelatihan agar dapat menjadi penghubung antara program edukasi, masyarakat, dan ruang-ruang kreatif yang sedang dibangun melalui Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency. Memasuki fase berikutnya, pendekatan seni mulai memainkan peran yang lebih kuat. Ginting Institute menghubungkan isu lingkungan dengan praktik artistik melalui serangkaian workshop yang melibatkan seniman dan masyarakat secara langsung. Seniman Made Bayak menghadirkan praktik plasticology, mengajak peserta melihat limbah plastik sebagai medium ekspresi sekaligus refleksi atas persoalan lingkungan yang dihadapi Bali hari ini. Sementara itu, Janggo Pramartha bersama Bog Komunikartun mengembangkan workshop berbasis kartun dan ilustrasi visual untuk menerjemahkan isu sampah ke dalam bahasa yang lebih ringan, komunikatif, dan dekat dengan generasi muda. Melalui pendekatan ini, pesan lingkungan tidak hadir dalam bentuk ceramah, tetapi melalui proses kreatif yang lebih membekas. Dari rangkaian workshop tersebut, muncul perubahan cara pandang yang menarik. Sampah tidak lagi semata dipahami sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang dapat diolah, diberi makna baru, bahkan menjadi medium cerita tentang lingkungan dan kehidupan sosial. Program & workshop tersebut bukan hanya sekadar seremoni semata, melainkan upaya menciptakan ruang pertemuan bagi berbagai elemen: dari seniman profesional, anak sekolah, hingga masyarakat umum. Seluruh perjalanan partisipatif ini akan bermuara pada pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency pada 13 Juni 2026 yang nantinya akan menjadi ruang bersama yang dibangun bersama masyarakat . Momentum ini akan memamerkan hasil karya kolaboratif yang melibatkan siswa, pemuda desa, dan seniman profesional. Publik akan melihat karya-karya hasil workshop yang melibatkan siswa, pemuda desa, dan para seniman Bali. Karya plasticology Made Bayak serta pameran kartun bertema lingkungan dari Janggo Pramartha dan Bog Komunikartun akan menjadi bagian dari narasi besar tentang hubungan antara seni, pendidikan, dan kesadaran ekologis. Menariknya, karya-karya tersebut tidak hanya akan berdiam di dalam galeri, tetapi juga akan didistribusikan ke hotel dan restoran di kawasan Tibubeneng. Ini adalah pernyataan tegas bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab kolektif yang harus hadir di setiap sudut ruang publik. ​Wija Reksa Quoriena hadir bukan sekadar sebagai gedung seni, melainkan sebagai sebuah ekosistem. Di sini, seni ditempatkan sebagai jembatan dialog dan alat pendidikan yang memanusiakan individu—terutama anak-anak—untuk berdaulat atas masa depan lingkungan. Salah satu pilar utama dalam rangkaian program ini adalah reposisi peran anak sekolah. Sejak dini, mereka diajak untuk tidak sekadar menjadi pendengar pasif (objek) dari ceramah lingkungan, melainkan menjadi subjek aktif dalam penanganan sampah.

Menuju Pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency: Membangun Ruang Kolaborasi dan Kedaulatan Ekologis Read More »

screenshot 2026 05 19 101207

Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM

Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia (YBBAI), Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, menilai kolaborasi dengan Ginting Institute menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan SMP-SMK Plus BLM di Lengkong, Tangerang Selatan. Kerja sama yang dimulai sejak 2018 itu dinilai tidak hanya membantu penguatan sistem sekolah, tetapi juga membuka peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia di kawasan tersebut. Farida menjelaskan, sekolah yang awalnya hanya berupa SMP kini telah berkembang menjadi SMP dan SMK dengan jumlah sekitar 350 siswa. Sekolah tersebut berdiri di kawasan Lengkong, wilayah yang memiliki nilai sejarah karena menjadi tempat perjuangan almarhum Prof. Dr. Soebroto pada masa kemerdekaan Indonesia. “Komitmen kami sejak awal adalah melanjutkan amanah Pak Subroto untuk membangun kapasitas sumber daya manusia anak-anak di Lengkong,” ujar Farida dalam wawancara. Menurut dia, posisi Lengkong yang berada di kawasan industri Tangerang membuat pendidikan vokasi menjadi penting. Sekolah diharapkan mampu menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga siap mengisi kebutuhan dunia kerja di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Namun, Farida menegaskan bahwa pendidikan di SMP-SMK Plus BLM tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual. Yayasan juga menempatkan pembentukan karakter dan budi pekerti sebagai fondasi utama pendidikan. “Kami selalu menekankan bahwa anak-anak tidak hanya harus pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki adab dan fondasi moral yang kuat,” katanya. Dalam perjalanannya, pihak yayasan menyadari pengembangan sekolah membutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Di titik itulah kerja sama dengan Ginting Institute mulai dibangun. Meski sempat terhambat pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah program vakum hampir tiga tahun, Farida menilai hubungan kolaboratif tersebut kini mulai kembali berjalan dan menunjukkan hasil nyata. Salah satu kontribusi utama Ginting Institute, kata Farida, terlihat pada penguatan sistem administrasi dan tata kelola yayasan. Pendampingan dilakukan mulai dari operasional sekolah hingga pengelolaan administrasi dan keuangan. “Kami mendapatkan pendampingan dari profesional yang disediakan oleh Ginting Institute, sehingga tata kelola sekolah menjadi lebih efisien,” ujarnya. Selain tata kelola, Farida juga menyoroti perkembangan koperasi sekolah yang dibangun bersama Ginting Institute. Awalnya koperasi hanya berfungsi memenuhi kebutuhan internal sekolah, namun kini mulai berkembang menjadi unit dengan aset yang terus bertumbuh. “Kami sangat bangga dengan perkembangan koperasi ini. Sekarang bukan lagi sekadar koperasi kebutuhan sekolah, tetapi sudah mulai berkembang dengan baik dan punya potensi besar untuk terus dikembangkan,” katanya. Farida melihat Ginting Institute bukan sekadar mitra pendukung, tetapi partner strategis dalam membangun kualitas pendidikan di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan. Ia berharap kolaborasi ini dapat memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja. “Kami berharap kerja sama ini bisa memberikan manfaat yang nyata bagi pembangunan sumber daya manusia. Harapannya, anak-anak di Lengkong dan Tangerang Selatan bisa berkembang dan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih luas,” ujarnya. Bagi Farida, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu menciptakan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Read More »

expressing love mature mom

Menemukan Makna Kenaikan dalam Belas Kasih dan Kepedulian

Ada masa-masa dalam hidup ketika manusia merasa langit seolah lebih dekat. Bukan karena dunia berubah menjadi lebih ringan, melainkan karena batin perlahan diajak untuk melihat kehidupan dengan cara yang berbeda, lebih tenang, lebih jernih, dan lebih penuh kasih. Dalam keheningan itulah manusia sering menyadari bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam pencapaian besar, melainkan dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh kompetisi, banyak orang mengukur “ketinggian” hidup dari kekuasaan, pencapaian, atau seberapa jauh seseorang berhasil meninggalkan orang lain di belakangnya. Padahal, semakin dewasa seseorang memahami kehidupan, semakin terlihat bahwa yang benar-benar mengangkat manusia bukanlah kekuatan, melainkan kepedulian. Belas kasih memiliki cara kerja yang sunyi, tetapi kuat. Ia hadir dalam perhatian sederhana, dalam kemampuan mendengarkan, dalam kesediaan untuk tetap tinggal ketika orang lain sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Di sana, kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Kehidupan modern sering kali membuat manusia terbiasa melihat segala sesuatu secara instan. Relasi menjadi cepat, empati menjadi tipis, dan perhatian sering kalah oleh kesibukan. Tidak sedikit orang akhirnya merasa sendirian di tengah keramaian. Di situ, nilai kasih dan kepedulian menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai sikap moral, tetapi sebagai kebutuhan sosial yang mendasar. Ada alasan mengapa banyak tradisi dan nilai spiritual selalu menempatkan cinta kasih sebagai inti kehidupan. Sebab manusia pada dasarnya tidak dibentuk hanya untuk hidup bagi dirinya sendiri. Kehidupan menjadi lebih bermakna ketika seseorang mampu hadir bagi orang lain, terutama dalam masa-masa sulit. Kebaikan yang paling tulus sering lahir bukan dari kelimpahan, tetapi dari kemampuan memahami rasa sakit orang lain. Mereka yang pernah melewati kehilangan, kegagalan, atau masa rapuh biasanya lebih mampu melihat luka yang tidak terlihat oleh banyak orang. Dari pengalaman itu, tumbuh kesadaran bahwa kekuatan sejati bukan tentang menjadi paling kuat, tetapi tentang tetap memiliki hati yang lembut di tengah kerasnya dunia. Dalam konteks inilah, “kenaikan” atau pertumbuhan manusia menemukan maknanya yang lebih dalam. Menjadi lebih tinggi bukan berarti menjauh dari kehidupan, melainkan semakin dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin besar pula kapasitasnya untuk memahami, merangkul, dan membantu orang lain. Nilai-nilai seperti ini terasa semakin relevan di tengah masyarakat yang kerap terpecah oleh perbedaan, tekanan ekonomi, hingga derasnya arus digital yang membuat banyak orang kehilangan koneksi emosional. Dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang hebat. Kadang, yang paling dibutuhkan justru lebih banyak manusia yang mau peduli. Belas kasih juga bukan berarti kelemahan. Sebaliknya, dibutuhkan keberanian besar untuk tetap memilih menjadi baik ketika dunia sering memberi alasan untuk bersikap sebaliknya. Dibutuhkan keteguhan hati untuk tetap menjaga empati di tengah budaya yang semakin individualistis. Karena itu, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk “naik” dalam arti yang sesungguhnya. Bukan naik dalam status atau pengakuan, tetapi naik dalam kualitas hati dan cara memandang kehidupan. Dari sana, manusia belajar bahwa cinta yang paling bermakna adalah cinta yang mampu melampaui dirinya sendiri. Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian hidup hari ini, itulah hal yang paling penting untuk diingat: bahwa dunia akan selalu membutuhkan lebih banyak kasih, lebih banyak perhatian, dan lebih banyak manusia yang memilih hadir bagi sesamanya.

Menemukan Makna Kenaikan dalam Belas Kasih dan Kepedulian Read More »