News

kartini]

Kartini dan Cahaya yang Terus Diteruskan

Ada momen-momen dalam sejarah yang tidak lahir dari suara yang keras, tetapi dari keberanian yang tumbuh perlahan, tenang, namun mengubah arah. Perjuangan Raden Ajeng Kartini adalah salah satunya. Ia tidak berdiri di garis depan dengan sorak-sorai, tetapi menyalakan sesuatu yang jauh lebih dalam: kesadaran. Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar hak, melainkan jalan untuk memanusiakan manusia. Di tengah keterbatasan yang membatasi ruang gerak perempuan pada masanya, ia berani membayangkan dunia yang berbeda. Dunia di mana perempuan memiliki suara, pilihan, dan martabat yang setara. Perjuangan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana dari pikiran yang tidak mau berhenti bertanya. Dari keberanian untuk menulis ketika banyak yang memilih diam. Dari keyakinan bahwa masa depan bisa dibentuk, bahkan ketika keadaan seolah tidak memberi ruang. Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi tentang generasi yang belum lahir. Ia menanamkan gagasan bahwa pendidikan adalah cahaya, sesuatu yang tidak hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain. Etika, dalam konteks ini, tidak hadir sebagai konsep yang abstrak. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan dengan kesadaran. Kartini menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan yang keras. Ia bisa hadir dalam keteguhan untuk tetap berpikir, tetap belajar, dan tetap menyuarakan apa yang diyakini benar. Di tengah dunia yang sering menuntut keseragaman, Kartini memilih untuk berbeda. Ia tidak menolak tradisi secara frontal, tetapi meresponsnya dengan cara yang lebih halus melalui pemikiran, refleksi, dan tulisan. Di sanalah kekuatannya berada: pada kemampuannya mengubah keheningan menjadi gerakan. Warisan Kartini tidak berhenti pada zamannya. Ia bergerak, mengalir, dan menjelma dalam berbagai bentuk di generasi berikutnya. Setiap perempuan yang berani melanjutkan pendidikan, setiap suara yang memilih untuk tidak dibungkam, adalah bagian dari perjalanan panjang yang ia mulai. Namun, relevansi Kartini hari ini tidak hanya berbicara tentang perempuan. Ia berbicara tentang nilai. Tentang bagaimana integritas dibangun dari keberanian untuk tetap setia pada apa yang diyakini, bahkan ketika tidak mudah. Tentang bagaimana perubahan tidak selalu datang dengan cepat, tetapi tumbuh dari konsistensi. Dalam dunia yang semakin kompleks, makna pendidikan juga terus berkembang. Ia bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang cara kita memahami, merasakan, dan merespons kehidupan. Pendidikan menjadi ruang untuk membentuk karakter tempat di mana etika, empati, dan tanggung jawab bertumbuh bersama. Kartini mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam dominasi. Ia hadir dalam kemampuan untuk membuka jalan bagi orang lain. Dalam kesediaan untuk berbagi cahaya, bukan hanya menyimpannya untuk diri sendiri. Hari ini, ketika kita memperingati Hari Kartini, yang sebenarnya kita rayakan bukan hanya sosoknya, tetapi nilai yang ia wariskan. Nilai tentang keberanian untuk berpikir, tentang pentingnya pendidikan, dan tentang tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang lebih adil bagi semua. Karena pada akhirnya, perjuangan Kartini bukan tentang masa lalu. Ia adalah tentang masa kini dan masa depan yang masih terus kita bangun bersama.

Kartini dan Cahaya yang Terus Diteruskan Read More »

thumbnail pak sendy (1)

Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, ruang publik kian dipenuhi oleh narasi yang sering kali menjauh dari nilai etika dan integritas. Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi lahirnya Ginting Institute, sebuah yayasan yang didirikan oleh Daniel Ginting bersama Kiky Pulungan, dengan satu tujuan utama: mengembalikan etika sebagai fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. “Ginting Institute kami dirikan untuk mempromosikan etika dan integritas di berbagai bidang kehidupan, khususnya pendidikan, seni, dan budaya,” ujar Daniel Ginting dalam wawancara khusus. Menurut Daniel, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin sempitnya ruang untuk membicarakan etika secara terbuka. Diskursus tentang nilai sering kali terbatas hanya di ruang-ruang privat, rumah ibadah, keluarga, atau forum tertutup. Padahal etika seharusnya menjadi bagian dari percakapan publik yang hidup dan relevan. “Kita melihat bahwa masyarakat semakin sering dipertontonkan hal-hal yang jauh dari etika dan integritas. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang terbuka di mana nilai-nilai ini bisa dibicarakan, dipertanyakan, dan diperkuat bersama,” jelasnya. Bagi Ginting Institute, etika bukan sekadar konsep normatif. Ia adalah praktik yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dalam cara bekerja, berinteraksi, hingga dalam proses pengambilan keputusan. Pilihan untuk fokus pada sektor pendidikan bukan tanpa alasan. Daniel meyakini bahwa pendidikan adalah titik paling strategis untuk menanamkan nilai etika dan integritas sejak dini. “Ketika etika dibangun sejak masa sekolah, itu akan menjadi bekal ketika mereka kelak menjadi pemimpin,” katanya. Salah satu contoh konkret adalah pendampingan yang dilakukan Ginting Institute terhadap Sekolah BLM. Selama tujuh tahun, yayasan ini terlibat dalam proses pembenahan manajemen sekolah, peningkatan kualitas pengajaran, hingga penguatan sistem internal. Hasilnya mulai terlihat. Pada akhir 2025, sekolah yang sebelumnya menghadapi berbagai tantangan berhasil meraih akreditasi A, sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga keberhasilan dalam membangun budaya disiplin dan nilai. “Pendampingan kami tidak hanya di level manajemen, tetapi juga menyentuh guru dan pengurus yayasan. Ini adalah kerja kolektif,” tambah Daniel. Memasuki tahun 2026, Ginting Institute mulai memperluas cakupan programnya dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan lintas sektor. Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan adalah kampanye kesadaran lingkungan terkait penanganan sampah, yang akan dilakukan di desa Tibubeneng Bali. Menariknya, program ini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga menggabungkan unsur seni dan pendidikan. Ginting Institute akan bekerja sama dengan para seniman untuk mengajak siswa SD dan karang taruna serta komunitas dalam mengolah sampah menjadi karya kreatif. Ginting Institute bekerjasama dengan desa Tibubeneng juga menyiapkan bahan ajar kesadaran penanganan sampah bagi siswa sekolah. “Kami ingin mengkombinasikan etika, kesadaran lingkungan, seni, dan pendidikan. Hasil karya anak-anak nanti akan dipamerkan di galeri maupun hotel,” jelas Daniel. Pendekatan ini menunjukkan bahwa etika tidak berdiri sendiri. Ia dapat hadir dalam berbagai bentuk termasuk melalui ekspresi kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tahun 2026 dipandang sebagai fase penting bagi Ginting Institute. Dengan kepemimpinan eksekutif direktur yang baru, Daniel berharap yayasan ini dapat bergerak lebih luas dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. “Kami berharap ini menjadi kebangkitan baru. Kami ingin lebih banyak pihak terlibat dalam mengkampanyekan pentingnya etika dan integritas,” ujarnya. Bagi Daniel, membangun bangsa tidak hanya soal pembangunan fisik atau ekonomi. Lebih dari itu, ia adalah proses membangun peradaban yang hanya bisa bertahan jika ditopang oleh nilai. Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan sederhana namun tegas:“Tetap semangat membangun Indonesia.” Di tengah tantangan zaman, Ginting Institute hadir bukan hanya sebagai lembaga, tetapi sebagai pengingat bahwa etika dan integritas bukan nilai yang usang, melainkan fondasi yang justru semakin relevan untuk masa depan.

Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman Read More »

foto anak stc

Ketika Dunia Terhenti, Pendidikan Harus Tetap Berjalan

Di tengah situasi krisis, ada satu hal yang hampir selalu menjadi korban pertama: pendidikan. Sekolah ditutup, ruang belajar terhenti, dan anak-anak dipaksa menunda proses yang seharusnya menjadi fondasi masa depan mereka. Padahal, justru dalam kondisi paling genting, pendidikan menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Realitas ini yang mendorong berbagai pihak untuk tidak tinggal diam. Bukan sekadar menjaga agar sistem tetap berjalan, tetapi memastikan bahwa proses belajar tetap hadir dalam bentuk yang relevan, aman, dan manusiawi. Di sinilah kolaborasi lintas sektor memainkan peran penting, menghadirkan solusi yang tidak selalu ideal, tetapi cukup untuk menjaga harapan tetap hidup. Di wilayah seperti Aceh dan Sumatera Utara, upaya pemulihan pendidikan mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Anak-anak kembali belajar, meski bukan di ruang kelas yang sempurna. Ruang belajar sementara didirikan, kegiatan pembersihan sekolah dilakukan, dan perlengkapan belajar didistribusikan untuk memastikan proses pendidikan tidak sepenuhnya terhenti. Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia bukan hanya soal mengembalikan aktivitas belajar, tetapi juga memulihkan rasa aman, rutinitas, dan kepercayaan diri anak-anak yang terdampak situasi krisis. Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi sekadar soal kurikulum atau pencapaian akademik. Ia berubah menjadi ruang pemulihan baik secara emosional maupun sosial. Anak-anak tidak hanya belajar membaca atau berhitung, tetapi juga belajar kembali merasa aman, terhubung, dan memiliki harapan. Namun, menjaga keberlangsungan pendidikan dalam situasi darurat tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur. Peran guru dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi kunci. Mereka berada di garis depan, memastikan bahwa proses belajar tetap berjalan, bahkan dalam keterbatasan. Melalui pendekatan Training of Trainers, para guru dan tenaga pendidikan diberikan dukungan untuk menghadapi situasi yang tidak biasa. Mereka dilatih untuk mengajar dengan pendekatan yang lebih fleksibel, adaptif, dan sensitif terhadap kondisi psikologis anak-anak. Pendekatan ini menekankan tiga hal utama: fleksibilitas, keamanan, dan dukungan psikososial. Fleksibilitas diperlukan agar proses belajar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang terus berubah. Keamanan menjadi prioritas, karena tanpa rasa aman, proses belajar tidak akan pernah efektif. Sementara itu, dukungan psikososial menjadi fondasi untuk memastikan bahwa anak-anak tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga siap secara mental. Di balik semua itu, ada satu kesadaran yang semakin menguat: pendidikan bukan sekadar sistem, tetapi komitmen etis. Ia menyangkut tanggung jawab kolektif untuk menjaga martabat manusia, terutama mereka yang paling rentan. Bagi Ginting Institute, keterlibatan dalam pemulihan pendidikan bukan hanya bagian dari program kerja, tetapi juga refleksi dari nilai yang mereka pegang. Pendidikan dilihat sebagai ruang untuk merawat, melindungi, dan mempersiapkan masa depan bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk masyarakat secara luas. Ketika pendidikan dijaga, yang sebenarnya sedang dilindungi adalah masa depan itu sendiri. Di tengah dunia yang kerap tidak pasti, satu hal menjadi jelas: belajar tidak harus menunggu kondisi sempurna. Justru dalam keterbatasan, pendidikan menemukan makna yang paling mendasar sebagai upaya untuk tetap bertahan, tetap tumbuh, dan tetap percaya bahwa masa depan layak diperjuangkan. Foto-foto: Save The Children

Ketika Dunia Terhenti, Pendidikan Harus Tetap Berjalan Read More »

img 7833 small

Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi

Di tengah geliat pameran seni yang kian padat di ibu kota, pembukaan Living Eden di Neo Gallery, Jakarta, Sabtu (4/4/2026), datang dengan nada yang sedikit berbeda. Ia bukan sekadar peristiwa estetika, tetapi juga menyentuh satu isu yang kerap dihindari: lemahnya ekosistem seni rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Anna Sungkar. Founder Ginting Institute, Daniel Ginting, yang membuka pameran tersebut, secara terbuka menyinggung persoalan yang selama ini berulang, kualitas karya seniman Indonesia diakui, tetapi belum sepenuhnya ditopang oleh sistem yang kuat. Pameran Living Eden sendiri mengangkat tema alam sebagai ruang estetika, emosional, dan spiritual. Namun di balik narasi tersebut, terselip upaya untuk menarik percakapan yang lebih luas: bagaimana seni diposisikan dalam konteks budaya, ekonomi, dan bahkan etika. Pameran ini mempertemukan karya maestro seperti Affandi, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Dullah, hingga Basoeki Abdullah dengan generasi seniman kontemporer. Nama-nama seperti Akbar Linggaprana, Putu Sutawijaya, Siont Teja, Tommy F. Awuy, serta Susilo Bambang Yudhoyono hadir membawa pendekatan yang beragam. Di luar itu, kehadiran Bambang Sudarto, Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Ni Nyoman Sani, P. Lanny Andriani, Pardoli Fadli, Prabu Perdana, R.E. Hartanto, dan Syakieb Sungkar memperlihatkan bahwa secara praktik, seni rupa Indonesia tidak kekurangan energi kreatif. Data Pasar: Vietnam Melaju, Indonesia Tertahan Dalam pidatonya, Daniel mengungkapkan data pasar lelang internasional (Christie’s dan Sotheby’s dari tahun 2020 hingga 2025 ) menunjukkan bahwa Vietnam dalam beberapa tahun terakhir mampu melampaui Indonesia dalam hal konsistensi nilai dan pertumbuhan harga karya. Perbandingan ini bukan hal baru, tetapi jarang disampaikan secara terbuka di ruang publik seni. Vietnam dinilai berhasil membangun ekosistem yang lebih terintegrasi dari galeri, kurator, hingga kolektor yang bekerja dalam satu arah. Sementara Indonesia masih cenderung berjalan parsial, dengan ketergantungan besar pada nama-nama besar masa lalu. Ekosistem: Kata Kunci yang Terlalu Lama Diulang Isu ekosistem bukan hal baru dalam diskursus seni rupa Indonesia. Namun, sebagaimana terlihat dalam berbagai momentum, isu ini sering berhenti pada wacana. Salah satu poin yang mengemuka adalah peran galeri. Dalam praktiknya, relasi antar galeri di Indonesia masih kerap diwarnai kompetisi yang tidak produktif. Alih-alih membangun kolaborasi, tidak sedikit galeri yang justru berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling berebut pasar atau menjatuhkan satu sama lain. Pola ini, secara tidak langsung, menghambat pertumbuhan ekosistem yang sehat dan ini menjadi tantangan Galeri untuk saling berkolaborasi, karena biar bagaimana pun dalam ekosistem seni, galeri menjadi simpul penting yang menghubungkan seniman, kolektor, dan publik. Ginting Institute, dalam konteks ini, mencoba mendorong agar percakapan tersebut bergerak ke arah yang lebih konkret. Bukan hanya melalui diskusi, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam pendidikan, kolaborasi lintas sektor, dan dukungan terhadap ruang-ruang seni. Pendekatan ini menempatkan seni tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan pendidikan, nilai, dan pembentukan kesadaran publik. Persoalan lain yang disorot adalah jarak antara seni dan masyarakat. Seni rupa masih kerap diposisikan sebagai ruang eksklusif baik secara akses maupun pemahaman. Padahal, tanpa basis publik yang kuat, pasar domestik sulit berkembang. Daniel menegaskan bahwa seni harus kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dinikmati oleh kolektor atau kalangan terbatas, tetapi juga dipahami oleh masyarakat luas. Living Eden: Simbol atau Awal? Dalam konteks itu, Living Eden bisa dibaca sebagai dua hal sekaligus: simbol dan peluang. Simbol, karena ia menunjukkan bahwa dialog lintas generasi masih hidup. Peluang, karena ia membuka ruang untuk percakapan yang lebih jujur tentang kondisi seni rupa Indonesia hari ini. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah momentum seperti ini akan berlanjut menjadi gerakan yang lebih sistematis, atau kembali berhenti sebagai peristiwa? Pameran akan berlangsung hingga 25 April 2026. Selebihnya, pekerjaan rumah tetap ada. Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: seni rupa Indonesia tidak kekurangan talenta, tidak kekurangan sejarah, bahkan tidak kekurangan perhatian. Yang masih dicari adalah satu hal yang paling mendasar adalah ekosistem yang benar-benar bekerja.

Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi Read More »

silhouetted hands forming heart shape against glowing sunset creating symbol love hope

Menata yang Tak Terlihat: Tentang Integritas yang Tumbuh dari Dalam

Kita hidup dalam kebiasaan yang hampir otomatis: menata apa yang terlihat. Kita merapikan ruang kerja, menyusun rencana, membangun citra, bahkan mengatur bagaimana diri kita hadir di hadapan orang lain. Semua yang tampak menjadi prioritas, seolah di sanalah letak kendali atas hidup kita. Namun, ada satu ruang yang sering terlewat, ruang yang justru paling menentukan arah langkah kita: ruang di dalam diri. Ada sesuatu yang perlu ditata, bukan di luar, melainkan di dalam. Ruang batin adalah tempat di mana niat lahir, di mana keputusan mulai terbentuk sebelum akhirnya terlihat dalam tindakan. Ia tidak selalu terlihat, tidak selalu terukur, tetapi dampaknya nyata. Kita mungkin bisa mengatur kata-kata, tetapi alasan di balik kata-kata itu sering kali luput untuk kita periksa. Kita terbiasa memilih, bertindak, merespons tanpa benar-benar berhenti untuk bertanya: mengapa? Mengapa saya mengatakan ini?Mengapa saya memilih itu? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini jarang diberi ruang. Padahal, di sanalah awal dari kesadaran terbentuk. Ketika seseorang mulai berani melihat ke dalam, ia mulai menyadari bahwa tidak semua keputusan lahir dari kebutuhan yang jernih. Ada ego, ada ketakutan, ada dorongan untuk diakui, semuanya bekerja diam-diam, membentuk arah tanpa disadari. Menata ruang dalam diri bukan pekerjaan yang cepat. Ia tidak bisa diselesaikan dalam satu keputusan atau satu momen refleksi. Ia adalah proses yang berjalan pelan melibatkan kejujuran, kesabaran, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang mungkin tidak nyaman. Namun ketika ruang batin mulai tenang, sesuatu berubah. Keputusan tidak lagi diambil dengan tergesa-gesa. Respons tidak lagi dipenuhi reaksi spontan yang didorong oleh emosi sesaat. Ada jarak yang sehat antara rangsangan dan tindakan. Di ruang itulah, kesadaran mulai mengambil alih. Seseorang tidak lagi hanya bereaksi, tetapi mulai memilih. Dari sinilah integritas bertumbuh. Bukan sebagai aturan yang dipaksakan dari luar, bukan pula sebagai citra yang ingin ditampilkan, tetapi sebagai kompas dari dalam. Integritas bukan tentang terlihat benar, melainkan tentang tetap benar bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ia bekerja dalam diam, tetapi menentukan arah dengan jelas. Integritas menuntut keberanian bukan keberanian yang keras atau penuh suara, tetapi keberanian untuk menahan diri. Menahan keinginan untuk membalas, menahan dorongan untuk mengambil jalan pintas, menahan ego yang ingin selalu menang. Ia juga membutuhkan kerendahan hati. Kemampuan untuk mengakui kesalahan, untuk belajar, untuk tidak selalu merasa paling tahu. Dalam dunia yang sering menghargai kepastian dan kecepatan, kerendahan hati menjadi kualitas yang langka padahal justru di situlah pertumbuhan terjadi. Dan pada saat yang sama, integritas menuntut ketegasan. Ketegasan untuk berdiri pada nilai yang diyakini, tanpa harus meninggikan suara. Tidak semua kebenaran perlu diumumkan dengan keras. Kadang, cukup dijalankan dengan konsisten. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati tidak selalu yang paling terlihat. Ia bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, atau siapa yang paling menonjol di permukaan. Kekuatan sejati adalah kejernihan dan kemampuan untuk tetap tahu arah, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Kemampuan untuk tetap berjalan sesuai nilai, bahkan ketika tidak ada tekanan untuk melakukannya. Di dunia yang semakin bising, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah lebih banyak suara, melainkan lebih banyak keheningan. Bukan untuk menjauh dari realitas, tetapi untuk kembali memahami apa yang sebenarnya menggerakkan kita. Karena dari dalamlah semuanya bermula. Dan dari sanalah, arah kehidupan ditentukan.

Menata yang Tak Terlihat: Tentang Integritas yang Tumbuh dari Dalam Read More »

blm ethics1

BLM Student Journey: Ketika Usaha, Etika, dan Prestasi Tumbuh Bersama

Setiap pencapaian selalu memiliki cerita. Di balik sebuah medali, sertifikat, atau tepuk tangan di atas panggung, selalu ada perjalanan panjang yang jarang terlihat oleh banyak orang. Bagi para siswa di BLM, perjalanan itu bukan sekadar tentang memenangkan kompetisi atau meraih prestasi akademik. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah proses membentuk karakter tentang bagaimana usaha, etika, dan ketekunan berjalan berdampingan. Keberhasilan tidak pernah lahir dari kebetulan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten: disiplin datang ke kelas, kesungguhan mendengarkan pelajaran, latihan yang diulang berkali-kali, hingga keberanian untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan. Dalam dunia pendidikan yang ideal, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil alami dari proses belajar yang dijalani dengan penuh komitmen. Di Sekolah BLM, perjalanan seorang siswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga hidup di ruang latihan, di panggung pertunjukan, di lapangan olahraga, dan di berbagai arena kompetisi. Setiap ruang itu memberikan pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya mengajarkan pelajaran yang sama: bahwa pertumbuhan tidak terjadi dalam sekejap. Di ruang kelas, para siswa belajar membangun fondasi pengetahuan. Di sana mereka dilatih untuk berpikir kritis, bertanya, dan memahami dunia secara lebih luas. Sementara itu, di panggung atau arena kompetisi, mereka belajar tentang keberanian dan kepercayaan diri tentang bagaimana menghadapi penonton, menghadapi lawan, dan menghadapi diri sendiri. Namun yang membedakan perjalanan siswa BLM bukan hanya tentang seberapa banyak prestasi yang mereka raih. Nilai yang dijunjung tinggi dalam proses ini adalah etika. Prestasi tanpa etika hanya akan menjadi angka di atas kertas. Sebaliknya, ketika keberhasilan dibangun bersama integritas, ia akan membentuk karakter yang bertahan jauh lebih lama daripada trofi atau penghargaan. Para siswa diajak untuk memahami bahwa kemenangan memang patut dirayakan. Setiap keberhasilan adalah hasil dari kerja keras yang layak dihargai. Namun dalam perspektif pendidikan yang lebih luas, kemenangan hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan. Pelajaran terbesar justru hadir dalam prosesnya ketika seseorang belajar mengelola kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan tetap melangkah maju meskipun hasil belum sesuai harapan. Perjalanan seorang siswa juga merupakan perjalanan membangun harapan. Setiap langkah kecil yang mereka ambil hari ini akan menjadi fondasi bagi masa depan mereka. Nilai-nilai seperti kerja keras, tanggung jawab, dan integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal penting ketika mereka melangkah ke dunia yang lebih luas. Karena itu, perjalanan siswa BLM tidak berhenti pada satu pencapaian. Ia adalah proses yang terus bergerak. Para siswa didorong untuk terus belajar, terus berkembang, dan tidak berhenti mencari kemungkinan baru. Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang mencapai garis finis lebih cepat. Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang menjalani perjalanannya dengan usaha yang sungguh-sungguh, dengan etika yang kuat, dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah memiliki makna. Itulah semangat yang ingin ditanamkan dalam perjalanan siswa BLM: mencapai dengan usaha, dan berjalan dengan etika.

BLM Student Journey: Ketika Usaha, Etika, dan Prestasi Tumbuh Bersama Read More »

whatsapp image 2026 02 27 at 10.27.49 am (1)

Belajar Memahami Pasar Sejak Dini: Digital Marketing Sharing Session di Sekolah Plus BLM

Di tengah perubahan dunia yang bergerak cepat, kemampuan membaca peluang menjadi salah satu keterampilan paling penting yang perlu dimiliki generasi muda. Dunia kerja, bisnis, hingga kehidupan sehari-hari kini semakin terhubung dengan teknologi digital. Karena itu, memperkenalkan literasi digital termasuk pemahaman tentang pemasaran digital menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Digital Marketing Sharing Session di Sekolah Plus BLM. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar praktis bagi para siswa untuk memahami bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan secara produktif bukan sekadar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun kreativitas, kewirausahaan, dan kemampuan komunikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah berubah menjadi ruang ekonomi baru. Banyak produk lahir dari platform digital, banyak usaha kecil berkembang melalui konten sederhana yang mampu menjangkau pasar luas. Fenomena ini menunjukkan bahwa peluang kini tidak selalu membutuhkan modal besar. Yang dibutuhkan adalah pemahaman, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba. Melalui sesi berbagi ini, para siswa diperkenalkan pada konsep dasar digital marketing: bagaimana mengenali audiens, bagaimana menyampaikan pesan yang jelas, serta bagaimana membangun kepercayaan melalui konten yang relevan. Bagi sebagian siswa, ini mungkin menjadi pengalaman pertama mereka melihat media sosial dari sudut pandang yang berbeda bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sebagai kreator dan pengelola ide. Tujuan utama dari kegiatan ini sederhana namun penting: membantu siswa memahami bahwa media sosial dapat digunakan untuk menawarkan barang, jasa, atau bahkan gagasan. Dalam konteks pendidikan, ini adalah langkah awal untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang sehat, kewirausahaan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memahami nilai kerja keras, tanggung jawab, dan etika dalam berinteraksi di ruang digital. Di ruang kelas, teori sering kali menjadi dasar pembelajaran. Namun kegiatan seperti sharing session memberikan dimensi lain: pengalaman. Para siswa diajak melihat contoh nyata bagaimana sebuah produk dapat dipresentasikan secara menarik, bagaimana cerita di balik produk dapat membangun kedekatan dengan konsumen, dan bagaimana konsistensi menjadi kunci dalam membangun kepercayaan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kesadaran tentang etika digital. Dunia online membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan. Informasi bergerak cepat, opini dapat menyebar tanpa kendali, dan reputasi dapat terbentuk hanya dalam hitungan detik. Karena itu, pemahaman tentang tanggung jawab dalam menggunakan media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diskusi. Digital marketing pada akhirnya bukan hanya soal menjual sesuatu. Ia adalah tentang komunikasi. Tentang bagaimana seseorang mampu menyampaikan ide dengan jujur, membangun hubungan dengan audiens, dan menghadirkan nilai yang relevan bagi orang lain. Bagi siswa Sekolah Plus BLM, kegiatan ini diharapkan menjadi pintu awal untuk melihat masa depan dengan perspektif yang lebih luas. Bahwa teknologi bukan sekadar alat konsumsi, melainkan juga sarana untuk berkarya dan menciptakan peluang. Pendidikan yang baik tidak hanya mempersiapkan siswa untuk lulus dari sekolah. Pendidikan yang baik membantu mereka memahami dunia yang sedang berubah dan memberi mereka keberanian untuk mengambil peran di dalamnya. Digital Marketing Sharing Session di Sekolah Plus BLM adalah langkah kecil menuju tujuan tersebut: membekali generasi muda dengan pengetahuan, kreativitas, dan kepercayaan diri untuk memanfaatkan ruang digital secara bijak dan produktif.

Belajar Memahami Pasar Sejak Dini: Digital Marketing Sharing Session di Sekolah Plus BLM Read More »

screenshot 2026 03 08 212059 omar

Merayakan Kekuatan yang Tenang: International Women’s Day 2026

“Ekspresi lukisan itu menunjukkan segi kecantikan dan keanggunan dari kesederhanaan, tetapi seluruhnya mampu menangkap semangat etos kerja yang luar biasa.”— Daniel Ginting | Rimpang Rasa Tidak semua kekuatan bersuara lantang.Sebagiannya berjalan tenang, memikul yang tak terlihat. Dalam perbincangan publik, kekuatan sering digambarkan dengan cara yang dramatis, pidato yang berapi-api, keputusan besar yang mengubah arah sejarah, atau sosok yang berdiri di panggung dengan sorotan lampu. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita tahu bahwa kekuatan memiliki bentuk yang jauh lebih sunyi. Ia hadir dalam ketekunan. Ia hidup dalam rutinitas yang berulang: merawat keluarga, menata ruang kerja, menjaga komunitas tetap berjalan, atau sekadar memastikan bahwa sesuatu yang rapuh tidak runtuh. Banyak dari pekerjaan itu tidak selalu terlihat, jarang dirayakan, dan sering dianggap sebagai kewajaran. Padahal, di sanalah fondasi kehidupan sosial dibangun. Hari Perempuan Internasional bukan sekadar peringatan tahunan yang diisi dengan ucapan selamat atau simbol-simbol perayaan. Lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa sejarah manusia tidak pernah bergerak tanpa kontribusi perempuan baik yang tercatat dalam buku sejarah maupun yang hidup dalam ruang-ruang domestik, ruang pendidikan, ruang sosial, dan ruang kreatif. Sering kali, yang paling kuat justru tidak mencari panggung. Mereka hadir dalam kerja yang konsisten. Dalam kemampuan untuk bertahan ketika keadaan tidak selalu berpihak. Dalam kepekaan membaca situasi, dalam kesabaran membangun sesuatu yang hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Ada kualitas etis dalam cara banyak perempuan menjalani perannya di dunia: kesadaran bahwa kehidupan adalah ruang bersama. Bahwa kemajuan bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi sesuatu yang harus memungkinkan orang lain ikut bertumbuh. Karena itu, ketika kita berbicara tentang kesetaraan, pembicaraan tersebut tidak hanya berhenti pada kesempatan yang sama. Kesetaraan juga berbicara tentang pembagian tanggung jawab yang adil. Etika dalam kehidupan sosial menuntut kita untuk melihat kembali bagaimana kerja baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat dan dihargai. Siapa yang diberi ruang untuk berkembang. Siapa yang masih harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Hari Perempuan Internasional mengingatkan kita bahwa penghormatan bukan hanya soal simbol. Ia hadir dalam cara kita memperlakukan satu sama lain setiap hari. Dalam kebijakan yang memberi ruang setara bagi perempuan untuk memimpin, berkarya, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Dalam lingkungan kerja yang menghargai kompetensi, bukan stereotip. Dalam keluarga yang berbagi tanggung jawab secara wajar. Pada akhirnya, perayaan ini bukan hanya tentang perempuan. Ia adalah tentang kualitas kemanusiaan kita bersama. Sebuah masyarakat yang menghormati perempuan pada dasarnya sedang menjaga martabat dirinya sendiri. Seperti dalam kutipan Daniel Ginting, ada sesuatu yang sangat kuat dalam kesederhanaan dalam keanggunan yang tidak perlu berisik untuk menunjukkan nilainya. Di sanalah kita sering menemukan etos kerja yang paling tulus: bekerja bukan untuk pengakuan, tetapi karena pekerjaan itu memang harus dilakukan. Dan dunia berjalan karena orang-orang seperti itu ada. Hari ini kita merayakan mereka yang terlihat maupun yang tidak. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan komitmen untuk membangun dunia yang lebih adil, lebih beretika, dan lebih manusiawi. Selamat Hari Perempuan Internasional. ❤️

Merayakan Kekuatan yang Tenang: International Women’s Day 2026 Read More »

thumbnail pak sendy

Muhammad Aswary Pulungan: Membangun Peradaban Beretika sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia

Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, isu etika kerap terpinggirkan oleh pragmatisme dan kompetisi. Namun bagi Muhammad Aswary Pulungan atau biasa dipanggil Kiky, Co-Founder Ginting Institute, etika justru merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang sehat dan berkelanjutan. Dalam wawancara khusus dengan Kiky, Kiky menegaskan bahwa lembaga yang ia dirikan bersama Daniel Ginting lahir dari kegelisahan yang sama: bagaimana memajukan isu-isu etika di Indonesia secara konkret dan berkelanjutan. “Kami membangun yayasan ini dengan tujuan yang jelas memajukan isu-isu tentang etika di Indonesia,” ujar Kiky membuka percakapan. Selama kurang lebih delapan tahun terakhir, Ginting Institute telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membicarakan, mendiskusikan, dan mengembangkan potensi yang dapat dibangun melalui sejumlah sektor penting di Indonesia. Salah satu sektor utama yang menjadi fokus adalah pendidikan. Menurut Kiky, kesadaran tentang pentingnya etika harus ditanamkan sejak dini. “Kami memiliki keyakinan bahwa jika ada kesadaran di tengah masyarakat tentang pentingnya etika, maka nilai itu akan terbawa dalam setiap aktivitas baik saat bekerja, berkarya, maupun berinteraksi,” jelasnya. Ginting Institute aktif berdiskusi dengan tokoh-tokoh pendidikan dan pemangku kepentingan di berbagai jenjang mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat kondisi aktual pendidikan di Indonesia sekaligus merumuskan langkah strategis untuk masa depan. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, Kiky menyoroti berbagai isu yang berkembang di masyarakat, khususnya terkait integritas dan kejujuran. Ia melihat bahwa pembangunan Indonesia yang sehat dan bersih tidak dapat dilepaskan dari penguatan nilai etika. “Banyak isu etika yang berkembang, terutama dalam kaitannya dengan integritas dan kejujuran. Bagi kami, ini bukan sekadar wacana, tetapi sebuah kesadaran yang harus dibangun sejak dini,” tegasnya. Diskusi yang dilakukan Ginting Institute tidak terbatas pada isu pendidikan semata, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi, sosial, hingga kebaharian. Dalam pandangan Kiky, Indonesia memiliki sejarah peradaban yang kuat terutama di wilayah pesisir yang dibangun bukan hanya atas dasar kejayaan ekonomi, tetapi juga nilai yang dijunjung tinggi. “Peradaban Indonesia pernah jaya karena ada nilai yang dipertahankan. Persatuan bangsa ini bertahan karena kita memiliki prinsip utama yang sama,” ujarnya. Ke depan, Ginting Institute berkomitmen memperluas dampaknya melalui kolaborasi lintas sektor. Kiky mengakui bahwa banyak pihak baik lembaga nirlaba, perusahaan, maupun donor yang memiliki harapan untuk bekerja sama. “Kami melihat ini sebagai peluang besar untuk memajukan etika bersama-sama. Kolaborasi menjadi penting selama memiliki kesamaan nilai untuk membangun Indonesia tanpa melepaskan isu utama: membangun peradaban yang memiliki etika kuat,” jelasnya. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu memperluas jangkauan program dan memperkuat dampak sosial yang berkelanjutan. Bagi Kiky, generasi muda adalah bagian dari mimpi besar Indonesia. Dalam perjalanan Ginting Institute, anak-anak muda selalu dilibatkan sebagai tolak ukur arah gerak lembaga. “Kami belajar dari mereka, apa yang menjadi perhatian dan cita-cita mereka. Ada yang ingin membangun di sektor pertanian, perikanan, teknologi. Mereka adalah masa depan bangsa,” katanya. Ia berpesan agar generasi muda melihat kemajuan bangsa tidak hanya dari sisi fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari sisi nilai. “Kemajuan sejati tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi dari nilai yang kita pegang,” tegasnya. Ginting Institute membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat, berkolaborasi, dan membangun kesadaran etika sebagai fondasi utama memajukan bangsa. Menutup wawancara, Kiky menyampaikan ajakan terbuka kepada seluruh masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Bagi Ginting Institute, etika bukan sekadar wacana, melainkan komitmen jangka panjang untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat. “Etika harus terus dijaga dan dilestarikan. Itulah fondasi peradaban yang ingin kita bangun bersama,” pungkasnya.

Muhammad Aswary Pulungan: Membangun Peradaban Beretika sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia Read More »

dsc09763small

Ginting Institute Paparkan Program Kerja 2026: Membangun Etika, Merangkul Kemanusiaan

Ginting Institute memulai agenda strategis tahun 2026 dengan memaparkan program kerja pada Jumat, 20 Februari 2026 lalu. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Founder dan Co Founder Daniel Ginting dan Kiki Pulungan, Direktur Eksekutif Sisi Soeratman-Suhardjo, pengurus Yayasan Bina Bangun Anak Indonesia (YBBAI) dimana Ginting Institute adalah mitra YBBAI dalam mengelola Sekolah Plus BLM, dan para sahabat Ginting Institute. Sejak awal, Ginting Institute menempatkan etika sebagai fondasi utama dalam setiap program. Bukan hanya sebagai konsep, melainkan sebagai praktik nyata dalam pendidikan, lingkungan, dan literasi kebangsaan. Program Kerja 2026: Etika sebagai Fondasi Dalam sesi pemaparan menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada capaian akademik. Pendidikan harus melahirkan manusia yang sadar nilai, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial. Program kerja 2026 dirancang dengan pendekatan multidimensi, mencakup pendidikan, lingkungan, serta penguatan literasi sejarah, seni dan budaya. Beberapa program utama yang disampaikan antara lain: 1. Pendampingan Sekolah Plus BLMProgram ini menjadi prioritas strategis dalam penguatan kualitas pendidikan berbasis nilai dan etika. Pendampingan dilakukan secara komprehensif, mencakup pengembangan kurikulum berbasis etika, peningkatan kapasitas guru, serta penguatan sistem pembelajaran yang berorientasi pada karakter. Ginting Institute berkomitmen memastikan Sekolah Plus BLM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi ruang aman bagi pertumbuhan siswa secara emosional dan sosial. 2. Pengelolaan Sampah Plastik di BaliMenjawab tantangan lingkungan yang semakin mendesak, Ginting Institute turut mengambil peran aktif dalam program pengelolaan sampah plastik di Bali. Inisiatif ini bertujuan membangun kesadaran kolektif mengenai tanggung jawab ekologis, sekaligus mendorong sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Edukasi lingkungan menjadi bagian integral, terutama bagi generasi muda, agar etika tidak hanya berhenti pada relasi antarmanusia, tetapi juga relasi dengan alam. 3. Menjaga Hutan sebagai Mitigasi BencanaIsu perubahan iklim dan bencana alam menjadi perhatian serius. Program pelestarian hutan difokuskan sebagai langkah mitigasi bencana sekaligus investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekosistem. Hutan dipahami bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai penyangga kehidupan. Dalam perspektif etika, menjaga hutan adalah bentuk tanggung jawab lintas generasi. 4. Penerbitan Historical Fiction NovelDi bidang literasi dan kebudayaan, Ginting Institute juga akan menerbitkan novel historical fiction yang mengangkat narasi sejarah dengan pendekatan humanis. Proyek ini bertujuan membangun kesadaran sejarah, memperkuat identitas, serta menghadirkan pembelajaran nilai melalui medium sastra. Sejarah tidak hanya dihafal, tetapi dipahami sebagai pengalaman manusia yang membentuk masa kini. Diskusi Etika dan Support System Setelah pemaparan program kerja, acara dilanjutkan dengan diskusi mendalam mengenai etika dalam kehidupan dan pentingnya support system dalam dunia pendidikan. Para akademisi dan pejabat Sekolah BLM menyoroti bahwa di tengah percepatan teknologi dan tekanan kompetisi global, pendidikan harus tetap berakar pada nilai kemanusiaan. Support system yang kuat baik dari institusi, keluarga, maupun komunitas dipandang sebagai kunci menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Pendampingan emosional, komunikasi terbuka, serta kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan siswa dan guru menjadi elemen yang tak terpisahkan dari pendidikan beretika. Menutup dengan Kebersamaan Acara ditutup dengan buka puasa bersama dalam suasana hangat dan penuh refleksi. Momen ini menegaskan bahwa kerja institusi bukan sekadar agenda administratif, melainkan perjalanan kolektif yang dibangun atas dasar kebersamaan dan nilai. Melalui program kerja 2026, Ginting Institute menegaskan posisinya sebagai lembaga yang tidak hanya berorientasi pada capaian, tetapi pada makna dan etika. Dengan semangat Membangun Etika, Merangkul Kemanusiaan, Ginting Institute melangkah ke depan membawa visi pendidikan dan sosial yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat luas.

Ginting Institute Paparkan Program Kerja 2026: Membangun Etika, Merangkul Kemanusiaan Read More »