Menuju Pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency: Membangun Ruang Kolaborasi dan Kedaulatan Ekologis

wrq

Inisiatif kolaboratif antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, dan komunitas kreatif Bali kini bergerak menuju tahap yang lebih nyata. Menjelang pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, serangkaian program partisipatif mulai dijalankan sebagai bagian dari perjalanan bersama untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis pendidikan dan seni.

Rangkaian program ini tidak dirancang sekadar sebagai pengantar menuju grand opening, melainkan sebagai proses keterlibatan publik yang tumbuh secara bertahap dengan membangun kesadaran penanganan sampah sejak usia dini melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.  Fokus utamanya adalah membangun ruang kolaborasi dari berbagai unsur masyarakat.

Prosesnya dimulai melalui koordinasi bersama pemerintah desa, pemuda Tibubeneng, dan para seniman Bali. Dari awal, pendekatan yang dibangun bukan berupa kampanye satu arah, melainkan ruang kolaborasi yang mengajak masyarakat ikut terlibat dalam proses belajar dan menciptakan perubahan bersama.

Salah satu langkah awal diwujudkan melalui program literasi lingkungan untuk siswa sekolah dasar di Tibubeneng. Anak-anak diajak melihat persoalan sampah bukan hanya sebagai isu kebersihan, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan cara hidup sehari-hari. Pendekatan ini diperkuat dengan materi ajar interaktif yang menggabungkan cerita, visual, permainan, dan pengalaman kreatif agar lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak.

Di saat yang sama, pemuda desa juga dipersiapkan sebagai fasilitator komunitas. Mereka dilibatkan dalam workshop dan pelatihan agar dapat menjadi penghubung antara program edukasi, masyarakat, dan ruang-ruang kreatif yang sedang dibangun melalui Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency.

dscf094small2
Foto: Jessy Juniago

Memasuki fase berikutnya, pendekatan seni mulai memainkan peran yang lebih kuat. Ginting Institute menghubungkan isu lingkungan dengan praktik artistik melalui serangkaian workshop yang melibatkan seniman dan masyarakat secara langsung. Seniman Made Bayak menghadirkan praktik plasticology, mengajak peserta melihat limbah plastik sebagai medium ekspresi sekaligus refleksi atas persoalan lingkungan yang dihadapi Bali hari ini.

Sementara itu, Janggo Pramartha bersama Bog Komunikartun mengembangkan workshop berbasis kartun dan ilustrasi visual untuk menerjemahkan isu sampah ke dalam bahasa yang lebih ringan, komunikatif, dan dekat dengan generasi muda. Melalui pendekatan ini, pesan lingkungan tidak hadir dalam bentuk ceramah, tetapi melalui proses kreatif yang lebih membekas.

Dari rangkaian workshop tersebut, muncul perubahan cara pandang yang menarik. Sampah tidak lagi semata dipahami sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang dapat diolah, diberi makna baru, bahkan menjadi medium cerita tentang lingkungan dan kehidupan sosial. Program & workshop tersebut bukan hanya sekadar seremoni semata, melainkan upaya menciptakan ruang pertemuan bagi berbagai elemen: dari seniman profesional, anak sekolah, hingga masyarakat umum.

Seluruh perjalanan partisipatif ini akan bermuara pada pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency pada 13 Juni 2026 yang nantinya akan menjadi ruang bersama yang dibangun bersama masyarakat . Momentum ini akan memamerkan hasil karya kolaboratif yang melibatkan siswa, pemuda desa, dan seniman profesional.

Publik akan melihat karya-karya hasil workshop yang melibatkan siswa, pemuda desa, dan para seniman Bali. Karya plasticology Made Bayak serta pameran kartun bertema lingkungan dari Janggo Pramartha dan Bog Komunikartun akan menjadi bagian dari narasi besar tentang hubungan antara seni, pendidikan, dan kesadaran ekologis.

Menariknya, karya-karya tersebut tidak hanya akan berdiam di dalam galeri, tetapi juga akan didistribusikan ke hotel dan restoran di kawasan Tibubeneng. Ini adalah pernyataan tegas bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab kolektif yang harus hadir di setiap sudut ruang publik.

​Wija Reksa Quoriena hadir bukan sekadar sebagai gedung seni, melainkan sebagai sebuah ekosistem. Di sini, seni ditempatkan sebagai jembatan dialog dan alat pendidikan yang memanusiakan individu—terutama anak-anak—untuk berdaulat atas masa depan lingkungan. Salah satu pilar utama dalam rangkaian program ini adalah reposisi peran anak sekolah. Sejak dini, mereka diajak untuk tidak sekadar menjadi pendengar pasif (objek) dari ceramah lingkungan, melainkan menjadi subjek aktif dalam penanganan sampah.