Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni

image

Upaya membangun kesadaran lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Desa Tibubeneng, Bali, langkah itu justru dimulai dari ruang yang paling mendasar: pendidikan anak-anak dan keterlibatan komunitas.

Pada pertengahan April 2026 Founder sekaligus Pembina Ginting Institute, Daniel Ginting, bersama Quoriena Ginting melakukan kunjungan ke Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency di Tibubeneng. Kunjungan ini bukan sekadar agenda institusional, melainkan bagian dari upaya merancang kolaborasi yang berfokus pada satu isu krusial: penanganan sampah berbasis kesadaran sejak usia dini. Wija Reksa Quoriena, direncanakan menjadi pusat aktivitas seni budaya dan pertukaran gagasan lintas disiplin berbasis etika pendidikan.

Dalam pertemuan bersama Kepala Desa Tibubeneng, Made Kamajaya, arah kolaborasi mulai difokuskan pada bagaimana edukasi dapat menjadi fondasi perubahan. Desa yang setiap hari menerima ribuan wisatawan ini menghadapi tantangan nyata dalam pengelolaan sampah, di tengah pertumbuhan kawasan yang semakin pesat. Pertemuan ini juga menjadi momentum awal untuk membangun sinergi antara komunitas kreatif dan pemerintah desa dalam menjadikan art hub sebagai ruang inkubasi ide yang mengintegrasikan seni, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Selama ini, berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah desa, mulai dari pembangunan ribuan lubang biopori hingga sistem pengelolaan sampah berbasis banjar dengan melibatkan Karang Taruna. Namun, seperti disadari bersama, solusi teknis saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku. Pemerintah desa juga menetapkan tiga fokus utama: pengurangan sampah, pencegahan kriminalitas, dan penguraian kemacetan, dengan isu sampah sebagai prioritas paling mendesak.

Di titik inilah pendekatan Ginting Institute menjadi relevan. Alih-alih melihat sampah semata sebagai persoalan lingkungan, Ginting Institute menghubungkannya dengan praktik seni dan pendidikan. Sampah dipandang sebagai medium, sebuah pintu masuk untuk membangun kesadaran melalui pengalaman langsung.

Program yang dirancang bersama pemerintah desa akan menyasar siswa sekolah dasar di Tibubeneng, dengan pendekatan berbasis pembelajaran aktif. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada jenis-jenis sampah dan dampaknya, tetapi juga diajak untuk terlibat dalam proses kreatif yaitu mengolah, memahami, dan memberi makna baru pada limbah yang mereka temui sehari-hari.

Untuk memperkuat pendekatan ini, sejumlah seniman akan dilibatkan secara langsung. Seniman Bali Made Bayak akan menghadirkan praktik pengolahan limbah plastik menjadi karya seni, sementara Jango Pramartha bersama Bog Komunikartun akan mengembangkan workshop visual berbasis kartun yang lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh anak-anak. Keterlibatan ini juga diperkuat oleh partisipasi Ari Wiranata dan Ida Bagus Surya, memperluas eksplorasi seni sebagai medium edukasi sekaligus ruang dialog antara generasi muda, lingkungan, dan praktik artistik kontemporer.

Kolaborasi ini menjadi jembatan antara edukasi lingkungan dan praktik seni. Kesadaran tentang sampah tidak hanya diajarkan, tetapi diterjemahkan menjadi karya bersama antara seniman, siswa, dan pemuda desa, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui workshop dan pelatihan, generasi muda desa diharapkan menjadi penggerak yang mampu meneruskan edukasi ini di tingkat komunitas.

Pendekatan ini juga menempatkan seni bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat. Alat untuk membangun kesadaran, membuka dialog, dan menciptakan pengalaman yang membekas. Dari proses tersebut, nilai tidak diajarkan secara teoritis, tetapi dialami secara langsung. Bagi Daniel Ginting, Wija Reksa Quoriena ini tidak hanya menjadi ruang produksi karya, tetapi ruang bersama bagi masyarakat untuk belajar, berekspresi, dan berkembang secara kolektif, sekaligus memperkuat identitas Tibubeneng sebagai destinasi seni budaya yang hidup dan dinamis di kawasan Kuta Utara.

Rangkaian kolaborasi ini juga memiliki fase lanjutan yang penting. Karya-karya hasil workshop yang melibatkan seniman, siswa, dan komunitas, direncanakan akan dipamerkan di acara pembukaan Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency. Selain itu, karya-karya tersebut juga akan hadir di sejumlah hotel dan restoran di Desa Tibubeneng, membawa pesan lingkungan ke ruang publik yang lebih luas.

Langkah ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga strategi untuk memperluas dampak. Isu sampah tidak lagi berhenti di ruang edukasi, tetapi masuk ke ruang-ruang yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.

Di balik seluruh inisiatif ini, ada pendekatan yang sederhana: seni perlu lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seniman, kolektor, dan galeri tidak hanya hadir di ruang-ruang pamer yang eksklusif, tetapi juga terlibat langsung dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui Wija Reksa Quoriena, kolaborasi ini membuka ruang bagi seniman untuk berinteraksi, memahami isu di lapangan, dan berkarya bersama komunitas. Bukan berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama. Di Tibubeneng, seni bisa hadir di tengah masyarakat, menjadi bagian dari solusi, dan membangun kesadaran yang lebih luas. Wija Reksa Quoriena menjadi ruang yang saling menguatkan, mempertemukan pendidikan, lingkungan, dan praktik kreatif. Ke depan, Wija Reksa Quoriena dan Desa Tibubeneng diharapkan menjadi ruang kolaborasi terbuka yang inklusif, melibatkan pelaku kreatif nasional dan internasional, serta pihak korporasi yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan budaya.

Jika dijalankan secara konsisten, langkah ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan sampah, tetapi juga membentuk cara pandang baru bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, dari sana, perubahan yang lebih besar akan tumbuh.