1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan

715397267 18585193162011380 4970328418866651949 n

Kesadaran lingkungan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari proses belajar yang konsisten, dimulai dari hal-hal sederhana yang dikenalkan sejak usia dini. Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi lingkungan bertajuk “Ayo Peduli Sampah” yang digelar di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali.

Program yang merupakan bagian dari rangkaian Tibubeneng Sustainable Art ini berlangsung sepanjang Juni 2026 melalui kolaborasi antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, dan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency. Pada 4 Juni 2026, kegiatan edukasi dilaksanakan di MI Al Hasanah dan SDN 3 Tibubeneng, melibatkan ratusan siswa sekolah dasar yang mengikuti pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan.

Antusiasme para siswa menjadi pemandangan yang membekas bagi para fasilitator yang terlibat. Salah satunya dirasakan oleh Yudha Bantono, yang turut mendampingi kegiatan tersebut. Ia mengaku mendapatkan energi baru setelah melihat semangat dan rasa ingin tahu para siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

“Melihat antusiasme mereka membuat energi saya terisi kembali. Anak-anak ini kelak akan menjadi pemimpin bangsa dalam beberapa dekade mendatang,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan ketertarikan yang tinggi saat diajak berdiskusi tentang sampah, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari yang dapat membantu mengurangi pencemaran.

714881942 18585192952011380 1601105258417246346 n

Yang cukup mengejutkan, tim pelaksana menemukan bahwa sebagian besar siswa ternyata belum pernah mendapatkan pembelajaran khusus mengenai pengelolaan sampah di sekolah. Padahal, isu sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia.

Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya memperluas pendidikan lingkungan ke tingkat sekolah dasar. Banyak anak yang sebenarnya memiliki rasa ingin tahu tinggi mengenai alam dan lingkungan, tetapi belum mendapatkan ruang belajar yang memadai untuk memahami persoalan tersebut secara sistematis.

Melalui program ini, siswa diperkenalkan pada prinsip dasar pengelolaan sampah yang sederhana namun penting, mulai dari mengenali jenis sampah, memahami dampaknya terhadap lingkungan, hingga mengenal konsep 4R: Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Materi disampaikan melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan agar mudah dipahami oleh anak-anak.

714541429 18585192931011380 7525564752879923994 n

Dalam kurun waktu tiga hari, program ini menjangkau sekitar 1.500 siswa sekolah dasar di wilayah Tibubeneng. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya antusiasme sekolah dan masyarakat terhadap pendidikan lingkungan yang selama ini masih relatif terbatas.

Bagi Ginting Institute dan Pemerintah Desa Tibubeneng, program ini bukan sekadar kegiatan edukasi sesaat. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun budaya peduli lingkungan sejak dini. Anak-anak tidak ditempatkan sebagai penerima informasi semata, melainkan sebagai generasi yang kelak akan menentukan bagaimana lingkungan mereka dikelola di masa depan.

Program edukasi ini juga menjadi bagian dari perjalanan menuju pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, sebuah ruang kolaborasi yang menghubungkan seni, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai workshop dan kegiatan partisipatif yang berlangsung sepanjang Juni, masyarakat diajak melihat bahwa isu lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.

711905503 18585192712011380 827665239933070779 n

Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Bali hari ini, pemandangan ratusan siswa yang bersemangat belajar tentang sampah memberikan alasan untuk optimistis. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari ruang kelas sederhana, dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul di benak anak-anak, dan dari kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika pendidikan lingkungan dapat terus ditanamkan secara konsisten, maka generasi yang tumbuh hari ini bukan hanya akan menjadi pemimpin masa depan, tetapi juga penjaga masa depan lingkungan mereka sendiri.