News

714541429 18585192931011380 7525564752879923994 n

1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan

Kesadaran lingkungan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari proses belajar yang konsisten, dimulai dari hal-hal sederhana yang dikenalkan sejak usia dini. Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi lingkungan bertajuk “Ayo Peduli Sampah” yang digelar di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Program yang merupakan bagian dari rangkaian Tibubeneng Sustainable Art ini berlangsung sepanjang Juni 2026 melalui kolaborasi antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, dan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency. Pada 4 Juni 2026, kegiatan edukasi dilaksanakan di MI Al Hasanah dan SDN 3 Tibubeneng, melibatkan ratusan siswa sekolah dasar yang mengikuti pembelajaran mengenai pengelolaan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan. Antusiasme para siswa menjadi pemandangan yang membekas bagi para fasilitator yang terlibat. Salah satunya dirasakan oleh Yudha Bantono, yang turut mendampingi kegiatan tersebut. Ia mengaku mendapatkan energi baru setelah melihat semangat dan rasa ingin tahu para siswa selama proses pembelajaran berlangsung. “Melihat antusiasme mereka membuat energi saya terisi kembali. Anak-anak ini kelak akan menjadi pemimpin bangsa dalam beberapa dekade mendatang,” ujarnya. Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan ketertarikan yang tinggi saat diajak berdiskusi tentang sampah, lingkungan, dan kebiasaan sehari-hari yang dapat membantu mengurangi pencemaran. Yang cukup mengejutkan, tim pelaksana menemukan bahwa sebagian besar siswa ternyata belum pernah mendapatkan pembelajaran khusus mengenai pengelolaan sampah di sekolah. Padahal, isu sampah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya memperluas pendidikan lingkungan ke tingkat sekolah dasar. Banyak anak yang sebenarnya memiliki rasa ingin tahu tinggi mengenai alam dan lingkungan, tetapi belum mendapatkan ruang belajar yang memadai untuk memahami persoalan tersebut secara sistematis. Melalui program ini, siswa diperkenalkan pada prinsip dasar pengelolaan sampah yang sederhana namun penting, mulai dari mengenali jenis sampah, memahami dampaknya terhadap lingkungan, hingga mengenal konsep 4R: Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Materi disampaikan melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan agar mudah dipahami oleh anak-anak. Dalam kurun waktu tiga hari, program ini menjangkau sekitar 1.500 siswa sekolah dasar di wilayah Tibubeneng. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya antusiasme sekolah dan masyarakat terhadap pendidikan lingkungan yang selama ini masih relatif terbatas. Bagi Ginting Institute dan Pemerintah Desa Tibubeneng, program ini bukan sekadar kegiatan edukasi sesaat. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun budaya peduli lingkungan sejak dini. Anak-anak tidak ditempatkan sebagai penerima informasi semata, melainkan sebagai generasi yang kelak akan menentukan bagaimana lingkungan mereka dikelola di masa depan. Program edukasi ini juga menjadi bagian dari perjalanan menuju pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, sebuah ruang kolaborasi yang menghubungkan seni, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai workshop dan kegiatan partisipatif yang berlangsung sepanjang Juni, masyarakat diajak melihat bahwa isu lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tanggung jawab bersama. Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi Bali hari ini, pemandangan ratusan siswa yang bersemangat belajar tentang sampah memberikan alasan untuk optimistis. Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari ruang kelas sederhana, dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul di benak anak-anak, dan dari kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika pendidikan lingkungan dapat terus ditanamkan secara konsisten, maka generasi yang tumbuh hari ini bukan hanya akan menjadi pemimpin masa depan, tetapi juga penjaga masa depan lingkungan mereka sendiri.

1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan Read More »

683544618 18104508967940906 6830464171537029681 n

Made Bayak dan Plasticology: Ketika Sampah Menjadi Seni, Kesadaran Menjadi Gerakan

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan sampah di Bali, seni kembali menunjukkan kemampuannya untuk berbicara dengan cara yang berbeda. Bukan melalui data atau kampanye yang bersifat instruktif, melainkan melalui pengalaman visual yang mampu menyentuh kesadaran publik secara lebih mendalam. Salah satu sosok yang konsisten menempuh jalur tersebut adalah Made Bayak, seniman visual sekaligus aktivis lingkungan asal Bali yang dikenal melalui praktik seni bertajuk Plasticology. Selama bertahun-tahun, Made Bayak menjadikan limbah plastik sebagai medium utama dalam berkarya. Plastik-plastik yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dikumpulkan, disusun, dilapisi, dan diolah menjadi karya visual yang kuat secara estetika sekaligus sarat pesan lingkungan. Melalui pendekatan ini, ia mengajak publik melihat kembali hubungan manusia dengan alam, laut, dan sampah yang dihasilkan dari pola konsumsi sehari-hari. Bagi Made Bayak, sampah bukan sekadar residu yang harus dibuang. Di balik setiap lembar plastik yang terdampar di pantai atau menumpuk di tempat pembuangan, terdapat cerita tentang pilihan hidup manusia, pola produksi, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dari sanalah lahir konsep Plasticology, sebuah pendekatan artistik yang mengubah limbah menjadi medium refleksi sekaligus advokasi. Semangat inilah yang kemudian menjadi bagian dari program #Grow (Green Responsibility for Our World), sebuah inisiatif yang mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan melalui pendidikan, kolaborasi, dan praktik kreatif. Program ini dikembangkan melalui kerja sama antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, serta komunitas kreatif dan masyarakat setempat. Fokus utama program ini adalah membangun kesadaran pengelolaan sampah sejak usia dini. Melalui pendidikan lingkungan berbasis komunitas, siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng akan diperkenalkan pada prinsip 4R: Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Namun pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada teori semata. Anak-anak akan diajak untuk belajar melalui pengalaman langsung, termasuk mengenal bagaimana sampah dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai dan makna baru. Dalam konteks ini, Made Bayak akan memimpin workshop Plasticology yang melibatkan siswa, pemuda desa, serta masyarakat dalam proses kreatif bersama. Workshop tersebut menjadi bagian dari perjalanan partisipatif yang lebih luas. Tujuannya bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi membangun kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga lingkungan. Ketika anak-anak terlibat langsung dalam proses mengolah limbah menjadi karya, mereka tidak hanya belajar tentang seni, tetapi juga memahami konsekuensi dari sampah yang mereka hasilkan setiap hari. Lebih jauh, program ini juga menjadi ruang pertemuan antara seniman profesional dan masyarakat. Seni ditempatkan sebagai alat pendidikan sekaligus jembatan dialog yang mampu menerjemahkan isu lingkungan menjadi pengalaman yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Seluruh rangkaian kegiatan ini akan bermuara pada pembukaan resmi Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency yang direncanakan berlangsung pada 13 Juni 2026. Pada momentum tersebut, karya-karya Plasticology hasil kolaborasi antara Made Bayak, siswa sekolah dasar, pemuda desa, dan masyarakat akan dipamerkan kepada publik. Pameran ini bukan sekadar menampilkan karya seni, tetapi menjadi simbol dari sebuah proses belajar bersama. Sebuah proses yang menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil: memahami sampah, mengubah cara pandang, dan tumbuh bersama dalam kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi Bali hari ini, Plasticology menawarkan satu pesan penting: bahwa sesuatu yang dianggap sebagai akhir dapat menjadi awal yang baru. Dan melalui seni, kesadaran itu dapat tumbuh lebih jauh, menjangkau lebih banyak orang, serta menjadi bagian dari gerakan kolektif menuju Bali yang lebih bersih, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan.

Made Bayak dan Plasticology: Ketika Sampah Menjadi Seni, Kesadaran Menjadi Gerakan Read More »

young asian people raising hands as sign unity while together cafe

Gotong Royong, Warisan yang Menjadikan Kita Kuat

Di tengah dunia yang semakin individualistis, ada satu nilai yang sejak lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat Indonesia: kebersamaan. Nilai ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari gotong royong di lingkungan sekitar, solidaritas saat menghadapi bencana, hingga kepedulian sederhana antar sesama dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan kekuatan sosial yang membentuk identitas bangsa. Sering kali kebersamaan dipahami sebagai sesuatu yang besar dan seremonial. Padahal, dalam praktiknya, kebersamaan tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus. Ia hadir ketika seseorang membantu tetangganya tanpa diminta, ketika masyarakat bekerja bersama membersihkan lingkungan, atau ketika sebuah komunitas saling mendukung untuk menghadapi tantangan bersama. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi memang membuat manusia semakin terhubung secara digital, tetapi tidak selalu membuat hubungan sosial menjadi lebih dekat. Banyak orang hidup berdampingan, namun kehilangan ruang untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Di sinilah makna kebersamaan menemukan relevansinya. Harmoni sosial tidak muncul begitu saja. Ia dibangun melalui kesediaan untuk berbagi, mendengarkan, dan peduli terhadap orang lain. Harmoni adalah hasil dari proses yang diciptakan bersama, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Indonesia memiliki sejarah panjang tentang bagaimana kekuatan kolektif mampu mengatasi berbagai tantangan. Dari perjuangan kemerdekaan hingga menghadapi berbagai krisis sosial dan ekonomi, masyarakat Indonesia berkali-kali menunjukkan bahwa ketika bergerak bersama, mereka memiliki daya tahan yang luar biasa. Kekuatan tersebut tidak lahir dari individu yang bekerja sendiri, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk saling menopang. Dalam budaya gotong royong, keberhasilan seseorang tidak dipandang sebagai kemenangan pribadi semata, tetapi juga bagian dari keberhasilan bersama. Sebaliknya, ketika ada anggota masyarakat yang tertinggal, komunitas merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu mengangkatnya. Nilai ini menjadi warisan yang sangat berharga di tengah berbagai perubahan zaman. Ketika dunia semakin kompetitif, kebersamaan mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus dicapai dengan meninggalkan orang lain. Justru kemajuan yang berkelanjutan lahir ketika masyarakat tumbuh bersama dan saling memperkuat. Dalam konteks pembangunan sosial, pendidikan, lingkungan, maupun ekonomi, prinsip ini tetap relevan. Banyak inisiatif yang berhasil karena dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, komunitas, dunia usaha, hingga generasi muda. Setiap pihak membawa peran yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi. Kekuatan itu juga terletak pada kualitas hubungan antarmanusianya. Ketika masyarakat mampu menjaga rasa saling percaya dan kepedulian, maka fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik akan semakin kuat. Warisan terbesar yang dimiliki Indonesia bukan hanya keberagaman budaya atau kekayaan alamnya, tetapi juga semangat gotong royong yang hidup di tengah masyarakat. Sebuah keyakinan bahwa kita dapat melangkah lebih jauh ketika berjalan bersama. Sebab sejak dulu, kekuatan kita tidak pernah sepenuhnya bersifat individual. Kekuatan itu selalu lahir dari kebersamaan, dari kesediaan untuk saling mengangkat, dan dari keyakinan bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang dirasakan bersama.

Gotong Royong, Warisan yang Menjadikan Kita Kuat Read More »

wrq

Menuju Pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency: Membangun Ruang Kolaborasi dan Kedaulatan Ekologis

Inisiatif kolaboratif antara Ginting Institute, Pemerintah Desa Tibubeneng, dan komunitas kreatif Bali kini bergerak menuju tahap yang lebih nyata. Menjelang pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, serangkaian program partisipatif mulai dijalankan sebagai bagian dari perjalanan bersama untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis pendidikan dan seni. Rangkaian program ini tidak dirancang sekadar sebagai pengantar menuju grand opening, melainkan sebagai proses keterlibatan publik yang tumbuh secara bertahap dengan membangun kesadaran penanganan sampah sejak usia dini melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.  Fokus utamanya adalah membangun ruang kolaborasi dari berbagai unsur masyarakat. Prosesnya dimulai melalui koordinasi bersama pemerintah desa, pemuda Tibubeneng, dan para seniman Bali. Dari awal, pendekatan yang dibangun bukan berupa kampanye satu arah, melainkan ruang kolaborasi yang mengajak masyarakat ikut terlibat dalam proses belajar dan menciptakan perubahan bersama. Salah satu langkah awal diwujudkan melalui program literasi lingkungan untuk siswa sekolah dasar di Tibubeneng. Anak-anak diajak melihat persoalan sampah bukan hanya sebagai isu kebersihan, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan cara hidup sehari-hari. Pendekatan ini diperkuat dengan materi ajar interaktif yang menggabungkan cerita, visual, permainan, dan pengalaman kreatif agar lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak. Di saat yang sama, pemuda desa juga dipersiapkan sebagai fasilitator komunitas. Mereka dilibatkan dalam workshop dan pelatihan agar dapat menjadi penghubung antara program edukasi, masyarakat, dan ruang-ruang kreatif yang sedang dibangun melalui Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency. Memasuki fase berikutnya, pendekatan seni mulai memainkan peran yang lebih kuat. Ginting Institute menghubungkan isu lingkungan dengan praktik artistik melalui serangkaian workshop yang melibatkan seniman dan masyarakat secara langsung. Seniman Made Bayak menghadirkan praktik plasticology, mengajak peserta melihat limbah plastik sebagai medium ekspresi sekaligus refleksi atas persoalan lingkungan yang dihadapi Bali hari ini. Sementara itu, Janggo Pramartha bersama Bog Komunikartun mengembangkan workshop berbasis kartun dan ilustrasi visual untuk menerjemahkan isu sampah ke dalam bahasa yang lebih ringan, komunikatif, dan dekat dengan generasi muda. Melalui pendekatan ini, pesan lingkungan tidak hadir dalam bentuk ceramah, tetapi melalui proses kreatif yang lebih membekas. Dari rangkaian workshop tersebut, muncul perubahan cara pandang yang menarik. Sampah tidak lagi semata dipahami sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang dapat diolah, diberi makna baru, bahkan menjadi medium cerita tentang lingkungan dan kehidupan sosial. Program & workshop tersebut bukan hanya sekadar seremoni semata, melainkan upaya menciptakan ruang pertemuan bagi berbagai elemen: dari seniman profesional, anak sekolah, hingga masyarakat umum. Seluruh perjalanan partisipatif ini akan bermuara pada pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency pada 13 Juni 2026 yang nantinya akan menjadi ruang bersama yang dibangun bersama masyarakat . Momentum ini akan memamerkan hasil karya kolaboratif yang melibatkan siswa, pemuda desa, dan seniman profesional. Publik akan melihat karya-karya hasil workshop yang melibatkan siswa, pemuda desa, dan para seniman Bali. Karya plasticology Made Bayak serta pameran kartun bertema lingkungan dari Janggo Pramartha dan Bog Komunikartun akan menjadi bagian dari narasi besar tentang hubungan antara seni, pendidikan, dan kesadaran ekologis. Menariknya, karya-karya tersebut tidak hanya akan berdiam di dalam galeri, tetapi juga akan didistribusikan ke hotel dan restoran di kawasan Tibubeneng. Ini adalah pernyataan tegas bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab kolektif yang harus hadir di setiap sudut ruang publik. ​Wija Reksa Quoriena hadir bukan sekadar sebagai gedung seni, melainkan sebagai sebuah ekosistem. Di sini, seni ditempatkan sebagai jembatan dialog dan alat pendidikan yang memanusiakan individu—terutama anak-anak—untuk berdaulat atas masa depan lingkungan. Salah satu pilar utama dalam rangkaian program ini adalah reposisi peran anak sekolah. Sejak dini, mereka diajak untuk tidak sekadar menjadi pendengar pasif (objek) dari ceramah lingkungan, melainkan menjadi subjek aktif dalam penanganan sampah.

Menuju Pembukaan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency: Membangun Ruang Kolaborasi dan Kedaulatan Ekologis Read More »

screenshot 2026 05 19 101207

Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM

Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia (YBBAI), Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, menilai kolaborasi dengan Ginting Institute menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan SMP-SMK Plus BLM di Lengkong, Tangerang Selatan. Kerja sama yang dimulai sejak 2018 itu dinilai tidak hanya membantu penguatan sistem sekolah, tetapi juga membuka peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia di kawasan tersebut. Farida menjelaskan, sekolah yang awalnya hanya berupa SMP kini telah berkembang menjadi SMP dan SMK dengan jumlah sekitar 350 siswa. Sekolah tersebut berdiri di kawasan Lengkong, wilayah yang memiliki nilai sejarah karena menjadi tempat perjuangan almarhum Prof. Subroto pada masa kemerdekaan Indonesia. “Komitmen kami sejak awal adalah melanjutkan amanah Pak Subroto untuk membangun kapasitas sumber daya manusia anak-anak di Lengkong,” ujar Farida dalam wawancara. Menurut dia, posisi Lengkong yang berada di kawasan industri Tangerang membuat pendidikan vokasi menjadi penting. Sekolah diharapkan mampu menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga siap mengisi kebutuhan dunia kerja di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Namun, Farida menegaskan bahwa pendidikan di SMP-SMK Plus BLM tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual. Yayasan juga menempatkan pembentukan karakter dan budi pekerti sebagai fondasi utama pendidikan. “Kami selalu menekankan bahwa anak-anak tidak hanya harus pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki adab dan fondasi moral yang kuat,” katanya. Dalam perjalanannya, pihak yayasan menyadari pengembangan sekolah membutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Di titik itulah kerja sama dengan Ginting Institute mulai dibangun. Meski sempat terhambat pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah program vakum hampir tiga tahun, Farida menilai hubungan kolaboratif tersebut kini mulai kembali berjalan dan menunjukkan hasil nyata. Salah satu kontribusi utama Ginting Institute, kata Farida, terlihat pada penguatan sistem administrasi dan tata kelola yayasan. Pendampingan dilakukan mulai dari operasional sekolah hingga pengelolaan administrasi dan keuangan. “Kami mendapatkan pendampingan dari profesional yang disediakan oleh Ginting Institute, sehingga tata kelola sekolah menjadi lebih efisien,” ujarnya. Selain tata kelola, Farida juga menyoroti perkembangan koperasi sekolah yang dibangun bersama Ginting Institute. Awalnya koperasi hanya berfungsi memenuhi kebutuhan internal sekolah, namun kini mulai berkembang menjadi unit dengan aset yang terus bertumbuh. “Kami sangat bangga dengan perkembangan koperasi ini. Sekarang bukan lagi sekadar koperasi kebutuhan sekolah, tetapi sudah mulai berkembang dengan baik dan punya potensi besar untuk terus dikembangkan,” katanya. Farida melihat Ginting Institute bukan sekadar mitra pendukung, tetapi partner strategis dalam membangun kualitas pendidikan di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan. Ia berharap kolaborasi ini dapat memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja. “Kami berharap kerja sama ini bisa memberikan manfaat yang nyata bagi pembangunan sumber daya manusia. Harapannya, anak-anak di Lengkong dan Tangerang Selatan bisa berkembang dan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih luas,” ujarnya. Bagi Farida, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu menciptakan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Read More »

expressing love mature mom

Menemukan Makna Kenaikan dalam Belas Kasih dan Kepedulian

Ada masa-masa dalam hidup ketika manusia merasa langit seolah lebih dekat. Bukan karena dunia berubah menjadi lebih ringan, melainkan karena batin perlahan diajak untuk melihat kehidupan dengan cara yang berbeda, lebih tenang, lebih jernih, dan lebih penuh kasih. Dalam keheningan itulah manusia sering menyadari bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam pencapaian besar, melainkan dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh kompetisi, banyak orang mengukur “ketinggian” hidup dari kekuasaan, pencapaian, atau seberapa jauh seseorang berhasil meninggalkan orang lain di belakangnya. Padahal, semakin dewasa seseorang memahami kehidupan, semakin terlihat bahwa yang benar-benar mengangkat manusia bukanlah kekuatan, melainkan kepedulian. Belas kasih memiliki cara kerja yang sunyi, tetapi kuat. Ia hadir dalam perhatian sederhana, dalam kemampuan mendengarkan, dalam kesediaan untuk tetap tinggal ketika orang lain sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Di sana, kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Kehidupan modern sering kali membuat manusia terbiasa melihat segala sesuatu secara instan. Relasi menjadi cepat, empati menjadi tipis, dan perhatian sering kalah oleh kesibukan. Tidak sedikit orang akhirnya merasa sendirian di tengah keramaian. Di situ, nilai kasih dan kepedulian menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai sikap moral, tetapi sebagai kebutuhan sosial yang mendasar. Ada alasan mengapa banyak tradisi dan nilai spiritual selalu menempatkan cinta kasih sebagai inti kehidupan. Sebab manusia pada dasarnya tidak dibentuk hanya untuk hidup bagi dirinya sendiri. Kehidupan menjadi lebih bermakna ketika seseorang mampu hadir bagi orang lain, terutama dalam masa-masa sulit. Kebaikan yang paling tulus sering lahir bukan dari kelimpahan, tetapi dari kemampuan memahami rasa sakit orang lain. Mereka yang pernah melewati kehilangan, kegagalan, atau masa rapuh biasanya lebih mampu melihat luka yang tidak terlihat oleh banyak orang. Dari pengalaman itu, tumbuh kesadaran bahwa kekuatan sejati bukan tentang menjadi paling kuat, tetapi tentang tetap memiliki hati yang lembut di tengah kerasnya dunia. Dalam konteks inilah, “kenaikan” atau pertumbuhan manusia menemukan maknanya yang lebih dalam. Menjadi lebih tinggi bukan berarti menjauh dari kehidupan, melainkan semakin dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin besar pula kapasitasnya untuk memahami, merangkul, dan membantu orang lain. Nilai-nilai seperti ini terasa semakin relevan di tengah masyarakat yang kerap terpecah oleh perbedaan, tekanan ekonomi, hingga derasnya arus digital yang membuat banyak orang kehilangan koneksi emosional. Dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang hebat. Kadang, yang paling dibutuhkan justru lebih banyak manusia yang mau peduli. Belas kasih juga bukan berarti kelemahan. Sebaliknya, dibutuhkan keberanian besar untuk tetap memilih menjadi baik ketika dunia sering memberi alasan untuk bersikap sebaliknya. Dibutuhkan keteguhan hati untuk tetap menjaga empati di tengah budaya yang semakin individualistis. Karena itu, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk “naik” dalam arti yang sesungguhnya. Bukan naik dalam status atau pengakuan, tetapi naik dalam kualitas hati dan cara memandang kehidupan. Dari sana, manusia belajar bahwa cinta yang paling bermakna adalah cinta yang mampu melampaui dirinya sendiri. Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian hidup hari ini, itulah hal yang paling penting untuk diingat: bahwa dunia akan selalu membutuhkan lebih banyak kasih, lebih banyak perhatian, dan lebih banyak manusia yang memilih hadir bagi sesamanya.

Menemukan Makna Kenaikan dalam Belas Kasih dan Kepedulian Read More »

w=1200

INABA dan BEI Jabar Dorong Literasi Investasi Inklusif, Ginting Institute Perkuat Pengembangan SMP-SMK Plus BLM

Di tengah meningkatnya kebutuhan literasi keuangan di era digital, Universitas Indonesia Membangun (INABA) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat menggelar workshop pasar modal bertajuk “Smart Investing, Inclusive Future: Mewujudkan Investor Tanpa Batas”. Kegiatan ini tak hanya menjadi ruang edukasi investasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas institusi dapat membuka akses pengetahuan finansial yang lebih inklusif bagi masyarakat, termasuk komunitas penyandang disabilitas. Workshop yang diikuti komunitas disabilitas BILIC Bandung itu berlangsung dengan pendekatan yang praktis dan partisipatif. Para peserta diperkenalkan pada dasar-dasar investasi saham, mekanisme pasar modal, pengelolaan risiko, hingga pentingnya mengenali investasi legal di tengah maraknya penipuan finansial digital. Rektor INABA, Mochammad Mukti Ali, mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk memperluas akses pendidikan dan literasi keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. “Melalui kegiatan ini, INABA ingin menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan memberdayakan. Literasi investasi harus dapat diakses oleh siapa saja tanpa batas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen INABA dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya fokus pada aspek akademik, INABA juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan dan sosial. Salah satu mitra yang turut memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan adalah SMP-SMK Plus BLM. Dalam pengembangannya, sekolah yang berada di bawah Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia itu mendapatkan pendampingan dari Ginting Institute, khususnya dalam penguatan tata kelola institusi dan pengembangan sistem administrasi sekolah. Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia, Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, sebelumnya menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Ginting Institute telah membantu sekolah berjalan lebih efisien, baik dalam operasional maupun pengelolaan administrasi dan keuangan. Pendampingan profesional yang diberikan dinilai penting untuk memperkuat fondasi sekolah dalam jangka panjang. Selain itu, Ginting Institute juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi sekolah melalui koperasi yang kini berkembang lebih baik dibanding sebelumnya. Menurut Farida, kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas pendidikan bagi siswa di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan. Di sisi lain, workshop literasi investasi yang digelar INABA bersama BEI Jabar menunjukkan bahwa isu inklusivitas dalam pendidikan dan ekonomi semakin mendapat perhatian serius. Perwakilan BEI Jawa Barat, Adnan Bahalwan, menegaskan bahwa pertumbuhan investor nasional harus diiringi dengan pemerataan akses edukasi finansial. “Pasar modal Indonesia harus menjadi ruang yang terbuka dan inklusif. Komunitas disabilitas memiliki potensi besar untuk menjadi investor yang cerdas dan mandiri,” katanya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta dari komunitas disabilitas aktif berdiskusi mengenai strategi investasi dan peluang membangun kemandirian ekonomi melalui pasar modal. Zulhamka Julianto Kadir dari komunitas BILIC Bandung mengaku pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan tentang investasi digital. “Untuk teman-teman disabilitas, investasi bisa menjadi peluang penghasilan tanpa harus banyak melakukan aktivitas mobile. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, INABA kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dukungan pengembangan institusi pendidikan seperti SMP-SMK Plus BLM bersama Ginting Institute, memperlihatkan bahwa pendidikan, literasi finansial, dan inklusivitas dapat berjalan beriringan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih kuat dan berdaya saing.

INABA dan BEI Jabar Dorong Literasi Investasi Inklusif, Ginting Institute Perkuat Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Read More »

education concept student studying brainstorming campus concept close up students discussing their subject books textbooks selective focus

Saat Pendidikan Membentuk Pilihan, Bukan Sekadar Pikiran

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba terukur, pendidikan sering kali direduksi menjadi angka, nilai, peringkat, dan capaian akademik. Kita diajarkan untuk menguasai materi, memahami teori, dan mengejar prestasi. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita pelajari, melainkan bagaimana proses itu membentuk siapa diri kita. Belajar tidak selalu hadir dalam ruang kelas yang formal. Ia juga hidup dalam momen-momen yang nyaris tak terlihat dalam percakapan singkat, dalam pilihan kecil yang kita ambil setiap hari, dalam cara kita merespons situasi yang tidak nyaman. Di sanalah nilai-nilai perlahan ditulis dalam diri kita. Bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai kebiasaan. Pendidikan, pada dasarnya, adalah proses menjadi. Ia tidak berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi bergerak lebih jauh: pada kemampuan untuk memilih dengan kesadaran. Apa yang kita katakan, bagaimana kita bertindak, dan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil, semuanya adalah hasil dari apa yang kita pelajari, baik secara sadar maupun tidak. Di titik inilah, pendidikan bertemu dengan etika. Pengetahuan yang tidak disertai kesadaran berisiko kehilangan maknanya. Ia bisa menjadi alat, tetapi tidak selalu menjadi arah. Seseorang mungkin tahu apa yang benar, tetapi tanpa kepekaan batin, pengetahuan itu tidak selalu diwujudkan dalam tindakan. Maka, pendidikan yang utuh seharusnya tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kepekaan moral. Kita hidup di zaman di mana informasi tersedia tanpa batas. Apa pun bisa dipelajari dengan cepat. Namun, kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakan pengetahuan dengan bijak justru menjadi semakin penting. Di tengah banjir informasi, kesadaran menjadi kompas yang menentukan arah. Setiap pilihan yang kita ambil, sekecil apa pun, memiliki dampak. Ia membentuk cara kita melihat dunia, sekaligus membentuk dunia itu sendiri. Ketika seseorang memilih untuk bertindak dengan jujur, menghargai orang lain, atau mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, ia tidak hanya membentuk dirinya, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, pendidikan adalah proses yang bersifat relasional. Ia tidak hanya terjadi di dalam diri, tetapi juga tercermin dalam hubungan kita dengan orang lain. Cara kita memperlakukan sesama, cara kita merespons perbedaan, hingga cara kita menghadapi tantangan, semuanya adalah cerminan dari proses belajar yang kita jalani. Belajar, dalam pengertian ini, bukan hanya tentang menjadi lebih pintar, tetapi menjadi lebih manusiawi. Ia mengajak kita untuk tumbuh tidak hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam empati. Tidak hanya dalam kemampuan, tetapi juga dalam tanggung jawab. Pendidikan yang sejati tidak menciptakan individu yang hanya kompeten, tetapi juga individu yang sadar akan perannya di tengah masyarakat. Mungkin, di situlah letak makna pendidikan yang sebenarnya. Bukan pada apa yang kita kuasai, tetapi pada bagaimana kita memilih untuk menjadi. Bukan pada seberapa banyak yang kita tahu, tetapi pada bagaimana kita menggunakan pengetahuan itu untuk kebaikan. Karena pada akhirnya, pendidikan bukanlah tujuan akhir. Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung, membentuk, mengarahkan, dan mengingatkan kita bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah bagian dari proses menjadi manusia yang utuh. Dan dalam setiap pilihan itu, dunia perlahan ikut terbentuk.

Saat Pendidikan Membentuk Pilihan, Bukan Sekadar Pikiran Read More »

image

Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni

Upaya membangun kesadaran lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Desa Tibubeneng, Bali, langkah itu justru dimulai dari ruang yang paling mendasar: pendidikan anak-anak dan keterlibatan komunitas. Pada pertengahan April 2026 Founder sekaligus Pembina Ginting Institute, Daniel Ginting, bersama Quoriena Ginting melakukan kunjungan ke Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency di Tibubeneng. Kunjungan ini bukan sekadar agenda institusional, melainkan bagian dari upaya merancang kolaborasi yang berfokus pada satu isu krusial: penanganan sampah berbasis kesadaran sejak usia dini. Wija Reksa Quoriena, direncanakan menjadi pusat aktivitas seni budaya dan pertukaran gagasan lintas disiplin berbasis etika pendidikan. Dalam pertemuan bersama Kepala Desa Tibubeneng, Made Kamajaya, arah kolaborasi mulai difokuskan pada bagaimana edukasi dapat menjadi fondasi perubahan. Desa yang setiap hari menerima ribuan wisatawan ini menghadapi tantangan nyata dalam pengelolaan sampah, di tengah pertumbuhan kawasan yang semakin pesat. Pertemuan ini juga menjadi momentum awal untuk membangun sinergi antara komunitas kreatif dan pemerintah desa dalam menjadikan art hub sebagai ruang inkubasi ide yang mengintegrasikan seni, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Selama ini, berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah desa, mulai dari pembangunan ribuan lubang biopori hingga sistem pengelolaan sampah berbasis banjar dengan melibatkan Karang Taruna. Namun, seperti disadari bersama, solusi teknis saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku. Pemerintah desa juga menetapkan tiga fokus utama: pengurangan sampah, pencegahan kriminalitas, dan penguraian kemacetan, dengan isu sampah sebagai prioritas paling mendesak. Di titik inilah pendekatan Ginting Institute menjadi relevan. Alih-alih melihat sampah semata sebagai persoalan lingkungan, Ginting Institute menghubungkannya dengan praktik seni dan pendidikan. Sampah dipandang sebagai medium, sebuah pintu masuk untuk membangun kesadaran melalui pengalaman langsung. Program yang dirancang bersama pemerintah desa akan menyasar siswa sekolah dasar di Tibubeneng, dengan pendekatan berbasis pembelajaran aktif. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada jenis-jenis sampah dan dampaknya, tetapi juga diajak untuk terlibat dalam proses kreatif yaitu mengolah, memahami, dan memberi makna baru pada limbah yang mereka temui sehari-hari. Untuk memperkuat pendekatan ini, sejumlah seniman akan dilibatkan secara langsung. Seniman Bali Made Bayak akan menghadirkan praktik pengolahan limbah plastik menjadi karya seni, sementara Jango Pramartha bersama Bog Komunikartun akan mengembangkan workshop visual berbasis kartun yang lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh anak-anak. Keterlibatan ini juga diperkuat oleh partisipasi Ari Wiranata dan Ida Bagus Surya, memperluas eksplorasi seni sebagai medium edukasi sekaligus ruang dialog antara generasi muda, lingkungan, dan praktik artistik kontemporer. Kolaborasi ini menjadi jembatan antara edukasi lingkungan dan praktik seni. Kesadaran tentang sampah tidak hanya diajarkan, tetapi diterjemahkan menjadi karya bersama antara seniman, siswa, dan pemuda desa, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui workshop dan pelatihan, generasi muda desa diharapkan menjadi penggerak yang mampu meneruskan edukasi ini di tingkat komunitas. Pendekatan ini juga menempatkan seni bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat. Alat untuk membangun kesadaran, membuka dialog, dan menciptakan pengalaman yang membekas. Dari proses tersebut, nilai tidak diajarkan secara teoritis, tetapi dialami secara langsung. Bagi Daniel Ginting, Wija Reksa Quoriena ini tidak hanya menjadi ruang produksi karya, tetapi ruang bersama bagi masyarakat untuk belajar, berekspresi, dan berkembang secara kolektif, sekaligus memperkuat identitas Tibubeneng sebagai destinasi seni budaya yang hidup dan dinamis di kawasan Kuta Utara. Rangkaian kolaborasi ini juga memiliki fase lanjutan yang penting. Karya-karya hasil workshop yang melibatkan seniman, siswa, dan komunitas, direncanakan akan dipamerkan di acara pembukaan Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency. Selain itu, karya-karya tersebut juga akan hadir di sejumlah hotel dan restoran di Desa Tibubeneng, membawa pesan lingkungan ke ruang publik yang lebih luas. Langkah ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga strategi untuk memperluas dampak. Isu sampah tidak lagi berhenti di ruang edukasi, tetapi masuk ke ruang-ruang yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. Di balik seluruh inisiatif ini, ada pendekatan yang sederhana: seni perlu lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seniman, kolektor, dan galeri tidak hanya hadir di ruang-ruang pamer yang eksklusif, tetapi juga terlibat langsung dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui Wija Reksa Quoriena, kolaborasi ini membuka ruang bagi seniman untuk berinteraksi, memahami isu di lapangan, dan berkarya bersama komunitas. Bukan berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama. Di Tibubeneng, seni bisa hadir di tengah masyarakat, menjadi bagian dari solusi, dan membangun kesadaran yang lebih luas. Wija Reksa Quoriena menjadi ruang yang saling menguatkan, mempertemukan pendidikan, lingkungan, dan praktik kreatif. Ke depan, Wija Reksa Quoriena dan Desa Tibubeneng diharapkan menjadi ruang kolaborasi terbuka yang inklusif, melibatkan pelaku kreatif nasional dan internasional, serta pihak korporasi yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan budaya. Jika dijalankan secara konsisten, langkah ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan sampah, tetapi juga membentuk cara pandang baru bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, dari sana, perubahan yang lebih besar akan tumbuh.

Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni Read More »

3d rendering planet earth

Mengingat Kembali Tanggung Jawab Kita pada Kehidupan

Setiap pagi, sebelum dunia menjadi bising oleh aktivitas manusia, bumi sebenarnya telah lebih dulu berbicara. Ia hadir melalui cahaya yang perlahan menyentuh permukaan, melalui udara yang bergerak lembut, melalui suara yang sering kali tidak kita sadari. Ada pesan sederhana yang berulang setiap hari: bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang hidup. Namun, dalam ritme kehidupan yang semakin cepat, kita kerap lupa untuk mendengarkan. Bumi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya memberi tanpa jeda, tanpa syarat. Dari tanah yang kita pijak, air yang kita minum, hingga udara yang kita hirup, semuanya adalah bentuk keberlanjutan yang selama ini menopang kehidupan. Tetapi justru karena ia selalu hadir, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang tetap, sesuatu yang tidak akan berubah. Padahal, tidak ada yang benar-benar permanen. Dalam kejernihan air, kita bisa melihat betapa rapuhnya kehidupan ketika keseimbangan mulai terganggu. Sungai yang dulunya jernih perlahan berubah, hutan yang dahulu lebat mulai kehilangan napasnya, dan udara yang seharusnya memberi kehidupan justru menjadi ancaman. Semua itu bukan terjadi dalam semalam, tetapi akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang kita anggap sepele. Setiap langkah yang kita ambil hari ini, sesungguhnya sedang membentuk masa depan. Bumi menyimpan ingatan yang panjang. Ia merekam jejak hujan, akar yang tumbuh, dan kehidupan yang pernah ada sebelum kita. Dalam setiap genggaman tanah, ada cerita tentang keberlanjutan tentang bagaimana generasi sebelumnya menjaga, merawat, dan mewariskan kehidupan. Kini, kita berada di titik yang sama: menjadi penentu apakah rantai itu akan terus berlanjut atau terputus. Merawat bumi bukanlah tindakan besar yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Ia dimulai dari kesadaran sederhana dari cara kita menggunakan, dari cara kita menghargai, dari cara kita memilih untuk tidak merusak. Ia adalah praktik sehari-hari, bukan sekadar perayaan tahunan. Hari Bumi mengingatkan kita bahwa kepedulian tidak bisa ditunda sampai kondisi menjadi sempurna. Ia hadir sebagai panggilan untuk kembali. Kembali melihat, kembali merasakan, dan kembali memahami bahwa hubungan kita dengan alam bukan hubungan satu arah. Apa yang kita ambil, akan kembali dalam bentuk lain. Apa yang kita abaikan, suatu saat akan menjadi konsekuensi. Ada tanggung jawab yang melekat dalam setiap keberadaan kita sebagai manusia. Bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk menjaga kehidupan itu sendiri. Tanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi yang datang setelah kita masih memiliki ruang yang layak untuk tumbuh. Dalam konteks ini, menjaga bumi bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal etika. Etika tentang bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang tidak bisa berbicara dengan bahasa kita, tetapi tetap memberi kehidupan. Etika tentang bagaimana kita menempatkan diri, tidak sebagai pusat, tetapi sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit. Cukup mulai dengan mendengarkan kembali. Mendengarkan cahaya pagi, mendengarkan aliran air, mendengarkan perubahan yang perlahan terjadi di sekitar kita. Karena dari sanalah kesadaran tumbuh. Dan dari kesadaran itulah, tindakan yang lebih bijak akan lahir. Hari ini, biarlah menjadi pengingat. Bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi rumah yang kita bagi bersama. Bahwa merawatnya bukan pilihan, tetapi tanggung jawab yang tidak bisa dihindari. Dan bahwa masa depan, pada akhirnya, ditentukan oleh bagaimana kita memilih untuk hidup hari ini.

Mengingat Kembali Tanggung Jawab Kita pada Kehidupan Read More »