News

w=1200

INABA dan BEI Jabar Dorong Literasi Investasi Inklusif, Ginting Institute Perkuat Pengembangan SMP-SMK Plus BLM

Di tengah meningkatnya kebutuhan literasi keuangan di era digital, Universitas Indonesia Membangun (INABA) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat menggelar workshop pasar modal bertajuk “Smart Investing, Inclusive Future: Mewujudkan Investor Tanpa Batas”. Kegiatan ini tak hanya menjadi ruang edukasi investasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas institusi dapat membuka akses pengetahuan finansial yang lebih inklusif bagi masyarakat, termasuk komunitas penyandang disabilitas. Workshop yang diikuti komunitas disabilitas BILIC Bandung itu berlangsung dengan pendekatan yang praktis dan partisipatif. Para peserta diperkenalkan pada dasar-dasar investasi saham, mekanisme pasar modal, pengelolaan risiko, hingga pentingnya mengenali investasi legal di tengah maraknya penipuan finansial digital. Rektor INABA, Mochammad Mukti Ali, mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk memperluas akses pendidikan dan literasi keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. “Melalui kegiatan ini, INABA ingin menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan memberdayakan. Literasi investasi harus dapat diakses oleh siapa saja tanpa batas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen INABA dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya fokus pada aspek akademik, INABA juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan dan sosial. Salah satu mitra yang turut memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan adalah SMP-SMK Plus BLM. Dalam pengembangannya, sekolah yang berada di bawah Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia itu mendapatkan pendampingan dari Ginting Institute, khususnya dalam penguatan tata kelola institusi dan pengembangan sistem administrasi sekolah. Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia, Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, sebelumnya menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Ginting Institute telah membantu sekolah berjalan lebih efisien, baik dalam operasional maupun pengelolaan administrasi dan keuangan. Pendampingan profesional yang diberikan dinilai penting untuk memperkuat fondasi sekolah dalam jangka panjang. Selain itu, Ginting Institute juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi sekolah melalui koperasi yang kini berkembang lebih baik dibanding sebelumnya. Menurut Farida, kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas pendidikan bagi siswa di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan. Di sisi lain, workshop literasi investasi yang digelar INABA bersama BEI Jabar menunjukkan bahwa isu inklusivitas dalam pendidikan dan ekonomi semakin mendapat perhatian serius. Perwakilan BEI Jawa Barat, Adnan Bahalwan, menegaskan bahwa pertumbuhan investor nasional harus diiringi dengan pemerataan akses edukasi finansial. “Pasar modal Indonesia harus menjadi ruang yang terbuka dan inklusif. Komunitas disabilitas memiliki potensi besar untuk menjadi investor yang cerdas dan mandiri,” katanya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta dari komunitas disabilitas aktif berdiskusi mengenai strategi investasi dan peluang membangun kemandirian ekonomi melalui pasar modal. Zulhamka Julianto Kadir dari komunitas BILIC Bandung mengaku pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan tentang investasi digital. “Untuk teman-teman disabilitas, investasi bisa menjadi peluang penghasilan tanpa harus banyak melakukan aktivitas mobile. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, INABA kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dukungan pengembangan institusi pendidikan seperti SMP-SMK Plus BLM bersama Ginting Institute, memperlihatkan bahwa pendidikan, literasi finansial, dan inklusivitas dapat berjalan beriringan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih kuat dan berdaya saing.

INABA dan BEI Jabar Dorong Literasi Investasi Inklusif, Ginting Institute Perkuat Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Read More »

education concept student studying brainstorming campus concept close up students discussing their subject books textbooks selective focus

Saat Pendidikan Membentuk Pilihan, Bukan Sekadar Pikiran

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba terukur, pendidikan sering kali direduksi menjadi angka, nilai, peringkat, dan capaian akademik. Kita diajarkan untuk menguasai materi, memahami teori, dan mengejar prestasi. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita pelajari, melainkan bagaimana proses itu membentuk siapa diri kita. Belajar tidak selalu hadir dalam ruang kelas yang formal. Ia juga hidup dalam momen-momen yang nyaris tak terlihat dalam percakapan singkat, dalam pilihan kecil yang kita ambil setiap hari, dalam cara kita merespons situasi yang tidak nyaman. Di sanalah nilai-nilai perlahan ditulis dalam diri kita. Bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai kebiasaan. Pendidikan, pada dasarnya, adalah proses menjadi. Ia tidak berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi bergerak lebih jauh: pada kemampuan untuk memilih dengan kesadaran. Apa yang kita katakan, bagaimana kita bertindak, dan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil, semuanya adalah hasil dari apa yang kita pelajari, baik secara sadar maupun tidak. Di titik inilah, pendidikan bertemu dengan etika. Pengetahuan yang tidak disertai kesadaran berisiko kehilangan maknanya. Ia bisa menjadi alat, tetapi tidak selalu menjadi arah. Seseorang mungkin tahu apa yang benar, tetapi tanpa kepekaan batin, pengetahuan itu tidak selalu diwujudkan dalam tindakan. Maka, pendidikan yang utuh seharusnya tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kepekaan moral. Kita hidup di zaman di mana informasi tersedia tanpa batas. Apa pun bisa dipelajari dengan cepat. Namun, kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakan pengetahuan dengan bijak justru menjadi semakin penting. Di tengah banjir informasi, kesadaran menjadi kompas yang menentukan arah. Setiap pilihan yang kita ambil, sekecil apa pun, memiliki dampak. Ia membentuk cara kita melihat dunia, sekaligus membentuk dunia itu sendiri. Ketika seseorang memilih untuk bertindak dengan jujur, menghargai orang lain, atau mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, ia tidak hanya membentuk dirinya, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, pendidikan adalah proses yang bersifat relasional. Ia tidak hanya terjadi di dalam diri, tetapi juga tercermin dalam hubungan kita dengan orang lain. Cara kita memperlakukan sesama, cara kita merespons perbedaan, hingga cara kita menghadapi tantangan, semuanya adalah cerminan dari proses belajar yang kita jalani. Belajar, dalam pengertian ini, bukan hanya tentang menjadi lebih pintar, tetapi menjadi lebih manusiawi. Ia mengajak kita untuk tumbuh tidak hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam empati. Tidak hanya dalam kemampuan, tetapi juga dalam tanggung jawab. Pendidikan yang sejati tidak menciptakan individu yang hanya kompeten, tetapi juga individu yang sadar akan perannya di tengah masyarakat. Mungkin, di situlah letak makna pendidikan yang sebenarnya. Bukan pada apa yang kita kuasai, tetapi pada bagaimana kita memilih untuk menjadi. Bukan pada seberapa banyak yang kita tahu, tetapi pada bagaimana kita menggunakan pengetahuan itu untuk kebaikan. Karena pada akhirnya, pendidikan bukanlah tujuan akhir. Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung, membentuk, mengarahkan, dan mengingatkan kita bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah bagian dari proses menjadi manusia yang utuh. Dan dalam setiap pilihan itu, dunia perlahan ikut terbentuk.

Saat Pendidikan Membentuk Pilihan, Bukan Sekadar Pikiran Read More »

image

Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni

Upaya membangun kesadaran lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Desa Tibubeneng, Bali, langkah itu justru dimulai dari ruang yang paling mendasar: pendidikan anak-anak dan keterlibatan komunitas. Pada pertengahan April 2026 Founder sekaligus Pembina Ginting Institute, Daniel Ginting, bersama Quoriena Ginting melakukan kunjungan ke Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency di Tibubeneng. Kunjungan ini bukan sekadar agenda institusional, melainkan bagian dari upaya merancang kolaborasi yang berfokus pada satu isu krusial: penanganan sampah berbasis kesadaran sejak usia dini. Wija Reksa Quoriena, direncanakan menjadi pusat aktivitas seni budaya dan pertukaran gagasan lintas disiplin berbasis etika pendidikan. Dalam pertemuan bersama Kepala Desa Tibubeneng, Made Kamajaya, arah kolaborasi mulai difokuskan pada bagaimana edukasi dapat menjadi fondasi perubahan. Desa yang setiap hari menerima ribuan wisatawan ini menghadapi tantangan nyata dalam pengelolaan sampah, di tengah pertumbuhan kawasan yang semakin pesat. Pertemuan ini juga menjadi momentum awal untuk membangun sinergi antara komunitas kreatif dan pemerintah desa dalam menjadikan art hub sebagai ruang inkubasi ide yang mengintegrasikan seni, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Selama ini, berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah desa, mulai dari pembangunan ribuan lubang biopori hingga sistem pengelolaan sampah berbasis banjar dengan melibatkan Karang Taruna. Namun, seperti disadari bersama, solusi teknis saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku. Pemerintah desa juga menetapkan tiga fokus utama: pengurangan sampah, pencegahan kriminalitas, dan penguraian kemacetan, dengan isu sampah sebagai prioritas paling mendesak. Di titik inilah pendekatan Ginting Institute menjadi relevan. Alih-alih melihat sampah semata sebagai persoalan lingkungan, Ginting Institute menghubungkannya dengan praktik seni dan pendidikan. Sampah dipandang sebagai medium, sebuah pintu masuk untuk membangun kesadaran melalui pengalaman langsung. Program yang dirancang bersama pemerintah desa akan menyasar siswa sekolah dasar di Tibubeneng, dengan pendekatan berbasis pembelajaran aktif. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada jenis-jenis sampah dan dampaknya, tetapi juga diajak untuk terlibat dalam proses kreatif yaitu mengolah, memahami, dan memberi makna baru pada limbah yang mereka temui sehari-hari. Untuk memperkuat pendekatan ini, sejumlah seniman akan dilibatkan secara langsung. Seniman Bali Made Bayak akan menghadirkan praktik pengolahan limbah plastik menjadi karya seni, sementara Jango Pramartha bersama Bog Komunikartun akan mengembangkan workshop visual berbasis kartun yang lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh anak-anak. Keterlibatan ini juga diperkuat oleh partisipasi Ari Wiranata dan Ida Bagus Surya, memperluas eksplorasi seni sebagai medium edukasi sekaligus ruang dialog antara generasi muda, lingkungan, dan praktik artistik kontemporer. Kolaborasi ini menjadi jembatan antara edukasi lingkungan dan praktik seni. Kesadaran tentang sampah tidak hanya diajarkan, tetapi diterjemahkan menjadi karya bersama antara seniman, siswa, dan pemuda desa, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui workshop dan pelatihan, generasi muda desa diharapkan menjadi penggerak yang mampu meneruskan edukasi ini di tingkat komunitas. Pendekatan ini juga menempatkan seni bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat. Alat untuk membangun kesadaran, membuka dialog, dan menciptakan pengalaman yang membekas. Dari proses tersebut, nilai tidak diajarkan secara teoritis, tetapi dialami secara langsung. Bagi Daniel Ginting, Wija Reksa Quoriena ini tidak hanya menjadi ruang produksi karya, tetapi ruang bersama bagi masyarakat untuk belajar, berekspresi, dan berkembang secara kolektif, sekaligus memperkuat identitas Tibubeneng sebagai destinasi seni budaya yang hidup dan dinamis di kawasan Kuta Utara. Rangkaian kolaborasi ini juga memiliki fase lanjutan yang penting. Karya-karya hasil workshop yang melibatkan seniman, siswa, dan komunitas, direncanakan akan dipamerkan di acara pembukaan Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency. Selain itu, karya-karya tersebut juga akan hadir di sejumlah hotel dan restoran di Desa Tibubeneng, membawa pesan lingkungan ke ruang publik yang lebih luas. Langkah ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga strategi untuk memperluas dampak. Isu sampah tidak lagi berhenti di ruang edukasi, tetapi masuk ke ruang-ruang yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. Di balik seluruh inisiatif ini, ada pendekatan yang sederhana: seni perlu lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seniman, kolektor, dan galeri tidak hanya hadir di ruang-ruang pamer yang eksklusif, tetapi juga terlibat langsung dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui Wija Reksa Quoriena, kolaborasi ini membuka ruang bagi seniman untuk berinteraksi, memahami isu di lapangan, dan berkarya bersama komunitas. Bukan berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama. Di Tibubeneng, seni bisa hadir di tengah masyarakat, menjadi bagian dari solusi, dan membangun kesadaran yang lebih luas. Wija Reksa Quoriena menjadi ruang yang saling menguatkan, mempertemukan pendidikan, lingkungan, dan praktik kreatif. Ke depan, Wija Reksa Quoriena dan Desa Tibubeneng diharapkan menjadi ruang kolaborasi terbuka yang inklusif, melibatkan pelaku kreatif nasional dan internasional, serta pihak korporasi yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan budaya. Jika dijalankan secara konsisten, langkah ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan sampah, tetapi juga membentuk cara pandang baru bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, dari sana, perubahan yang lebih besar akan tumbuh.

Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni Read More »

3d rendering planet earth

Mengingat Kembali Tanggung Jawab Kita pada Kehidupan

Setiap pagi, sebelum dunia menjadi bising oleh aktivitas manusia, bumi sebenarnya telah lebih dulu berbicara. Ia hadir melalui cahaya yang perlahan menyentuh permukaan, melalui udara yang bergerak lembut, melalui suara yang sering kali tidak kita sadari. Ada pesan sederhana yang berulang setiap hari: bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang hidup. Namun, dalam ritme kehidupan yang semakin cepat, kita kerap lupa untuk mendengarkan. Bumi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya memberi tanpa jeda, tanpa syarat. Dari tanah yang kita pijak, air yang kita minum, hingga udara yang kita hirup, semuanya adalah bentuk keberlanjutan yang selama ini menopang kehidupan. Tetapi justru karena ia selalu hadir, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang tetap, sesuatu yang tidak akan berubah. Padahal, tidak ada yang benar-benar permanen. Dalam kejernihan air, kita bisa melihat betapa rapuhnya kehidupan ketika keseimbangan mulai terganggu. Sungai yang dulunya jernih perlahan berubah, hutan yang dahulu lebat mulai kehilangan napasnya, dan udara yang seharusnya memberi kehidupan justru menjadi ancaman. Semua itu bukan terjadi dalam semalam, tetapi akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang kita anggap sepele. Setiap langkah yang kita ambil hari ini, sesungguhnya sedang membentuk masa depan. Bumi menyimpan ingatan yang panjang. Ia merekam jejak hujan, akar yang tumbuh, dan kehidupan yang pernah ada sebelum kita. Dalam setiap genggaman tanah, ada cerita tentang keberlanjutan tentang bagaimana generasi sebelumnya menjaga, merawat, dan mewariskan kehidupan. Kini, kita berada di titik yang sama: menjadi penentu apakah rantai itu akan terus berlanjut atau terputus. Merawat bumi bukanlah tindakan besar yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Ia dimulai dari kesadaran sederhana dari cara kita menggunakan, dari cara kita menghargai, dari cara kita memilih untuk tidak merusak. Ia adalah praktik sehari-hari, bukan sekadar perayaan tahunan. Hari Bumi mengingatkan kita bahwa kepedulian tidak bisa ditunda sampai kondisi menjadi sempurna. Ia hadir sebagai panggilan untuk kembali. Kembali melihat, kembali merasakan, dan kembali memahami bahwa hubungan kita dengan alam bukan hubungan satu arah. Apa yang kita ambil, akan kembali dalam bentuk lain. Apa yang kita abaikan, suatu saat akan menjadi konsekuensi. Ada tanggung jawab yang melekat dalam setiap keberadaan kita sebagai manusia. Bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk menjaga kehidupan itu sendiri. Tanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi yang datang setelah kita masih memiliki ruang yang layak untuk tumbuh. Dalam konteks ini, menjaga bumi bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal etika. Etika tentang bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang tidak bisa berbicara dengan bahasa kita, tetapi tetap memberi kehidupan. Etika tentang bagaimana kita menempatkan diri, tidak sebagai pusat, tetapi sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit. Cukup mulai dengan mendengarkan kembali. Mendengarkan cahaya pagi, mendengarkan aliran air, mendengarkan perubahan yang perlahan terjadi di sekitar kita. Karena dari sanalah kesadaran tumbuh. Dan dari kesadaran itulah, tindakan yang lebih bijak akan lahir. Hari ini, biarlah menjadi pengingat. Bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi rumah yang kita bagi bersama. Bahwa merawatnya bukan pilihan, tetapi tanggung jawab yang tidak bisa dihindari. Dan bahwa masa depan, pada akhirnya, ditentukan oleh bagaimana kita memilih untuk hidup hari ini.

Mengingat Kembali Tanggung Jawab Kita pada Kehidupan Read More »

kartini]

Kartini dan Cahaya yang Terus Diteruskan

Ada momen-momen dalam sejarah yang tidak lahir dari suara yang keras, tetapi dari keberanian yang tumbuh perlahan, tenang, namun mengubah arah. Perjuangan Raden Ajeng Kartini adalah salah satunya. Ia tidak berdiri di garis depan dengan sorak-sorai, tetapi menyalakan sesuatu yang jauh lebih dalam: kesadaran. Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar hak, melainkan jalan untuk memanusiakan manusia. Di tengah keterbatasan yang membatasi ruang gerak perempuan pada masanya, ia berani membayangkan dunia yang berbeda. Dunia di mana perempuan memiliki suara, pilihan, dan martabat yang setara. Perjuangan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana dari pikiran yang tidak mau berhenti bertanya. Dari keberanian untuk menulis ketika banyak yang memilih diam. Dari keyakinan bahwa masa depan bisa dibentuk, bahkan ketika keadaan seolah tidak memberi ruang. Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi tentang generasi yang belum lahir. Ia menanamkan gagasan bahwa pendidikan adalah cahaya, sesuatu yang tidak hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain. Etika, dalam konteks ini, tidak hadir sebagai konsep yang abstrak. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan dengan kesadaran. Kartini menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan yang keras. Ia bisa hadir dalam keteguhan untuk tetap berpikir, tetap belajar, dan tetap menyuarakan apa yang diyakini benar. Di tengah dunia yang sering menuntut keseragaman, Kartini memilih untuk berbeda. Ia tidak menolak tradisi secara frontal, tetapi meresponsnya dengan cara yang lebih halus melalui pemikiran, refleksi, dan tulisan. Di sanalah kekuatannya berada: pada kemampuannya mengubah keheningan menjadi gerakan. Warisan Kartini tidak berhenti pada zamannya. Ia bergerak, mengalir, dan menjelma dalam berbagai bentuk di generasi berikutnya. Setiap perempuan yang berani melanjutkan pendidikan, setiap suara yang memilih untuk tidak dibungkam, adalah bagian dari perjalanan panjang yang ia mulai. Namun, relevansi Kartini hari ini tidak hanya berbicara tentang perempuan. Ia berbicara tentang nilai. Tentang bagaimana integritas dibangun dari keberanian untuk tetap setia pada apa yang diyakini, bahkan ketika tidak mudah. Tentang bagaimana perubahan tidak selalu datang dengan cepat, tetapi tumbuh dari konsistensi. Dalam dunia yang semakin kompleks, makna pendidikan juga terus berkembang. Ia bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang cara kita memahami, merasakan, dan merespons kehidupan. Pendidikan menjadi ruang untuk membentuk karakter tempat di mana etika, empati, dan tanggung jawab bertumbuh bersama. Kartini mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam dominasi. Ia hadir dalam kemampuan untuk membuka jalan bagi orang lain. Dalam kesediaan untuk berbagi cahaya, bukan hanya menyimpannya untuk diri sendiri. Hari ini, ketika kita memperingati Hari Kartini, yang sebenarnya kita rayakan bukan hanya sosoknya, tetapi nilai yang ia wariskan. Nilai tentang keberanian untuk berpikir, tentang pentingnya pendidikan, dan tentang tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang lebih adil bagi semua. Karena pada akhirnya, perjuangan Kartini bukan tentang masa lalu. Ia adalah tentang masa kini dan masa depan yang masih terus kita bangun bersama.

Kartini dan Cahaya yang Terus Diteruskan Read More »

thumbnail pak sendy (1)

Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, ruang publik kian dipenuhi oleh narasi yang sering kali menjauh dari nilai etika dan integritas. Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi lahirnya Ginting Institute, sebuah yayasan yang didirikan oleh Daniel Ginting bersama Kiky Pulungan, dengan satu tujuan utama: mengembalikan etika sebagai fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. “Ginting Institute kami dirikan untuk mempromosikan etika dan integritas di berbagai bidang kehidupan, khususnya pendidikan, seni, dan budaya,” ujar Daniel Ginting dalam wawancara khusus. Menurut Daniel, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin sempitnya ruang untuk membicarakan etika secara terbuka. Diskursus tentang nilai sering kali terbatas hanya di ruang-ruang privat, rumah ibadah, keluarga, atau forum tertutup. Padahal etika seharusnya menjadi bagian dari percakapan publik yang hidup dan relevan. “Kita melihat bahwa masyarakat semakin sering dipertontonkan hal-hal yang jauh dari etika dan integritas. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang terbuka di mana nilai-nilai ini bisa dibicarakan, dipertanyakan, dan diperkuat bersama,” jelasnya. Bagi Ginting Institute, etika bukan sekadar konsep normatif. Ia adalah praktik yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dalam cara bekerja, berinteraksi, hingga dalam proses pengambilan keputusan. Pilihan untuk fokus pada sektor pendidikan bukan tanpa alasan. Daniel meyakini bahwa pendidikan adalah titik paling strategis untuk menanamkan nilai etika dan integritas sejak dini. “Ketika etika dibangun sejak masa sekolah, itu akan menjadi bekal ketika mereka kelak menjadi pemimpin,” katanya. Salah satu contoh konkret adalah pendampingan yang dilakukan Ginting Institute terhadap Sekolah BLM. Selama tujuh tahun, yayasan ini terlibat dalam proses pembenahan manajemen sekolah, peningkatan kualitas pengajaran, hingga penguatan sistem internal. Hasilnya mulai terlihat. Pada akhir 2025, sekolah yang sebelumnya menghadapi berbagai tantangan berhasil meraih akreditasi A, sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga keberhasilan dalam membangun budaya disiplin dan nilai. “Pendampingan kami tidak hanya di level manajemen, tetapi juga menyentuh guru dan pengurus yayasan. Ini adalah kerja kolektif,” tambah Daniel. Memasuki tahun 2026, Ginting Institute mulai memperluas cakupan programnya dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan lintas sektor. Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan adalah kampanye kesadaran lingkungan terkait penanganan sampah, yang akan dilakukan di desa Tibubeneng Bali. Menariknya, program ini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga menggabungkan unsur seni dan pendidikan. Ginting Institute akan bekerja sama dengan para seniman untuk mengajak siswa SD dan karang taruna serta komunitas dalam mengolah sampah menjadi karya kreatif. Ginting Institute bekerjasama dengan desa Tibubeneng juga menyiapkan bahan ajar kesadaran penanganan sampah bagi siswa sekolah. “Kami ingin mengkombinasikan etika, kesadaran lingkungan, seni, dan pendidikan. Hasil karya anak-anak nanti akan dipamerkan di galeri maupun hotel,” jelas Daniel. Pendekatan ini menunjukkan bahwa etika tidak berdiri sendiri. Ia dapat hadir dalam berbagai bentuk termasuk melalui ekspresi kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tahun 2026 dipandang sebagai fase penting bagi Ginting Institute. Dengan kepemimpinan eksekutif direktur yang baru, Daniel berharap yayasan ini dapat bergerak lebih luas dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. “Kami berharap ini menjadi kebangkitan baru. Kami ingin lebih banyak pihak terlibat dalam mengkampanyekan pentingnya etika dan integritas,” ujarnya. Bagi Daniel, membangun bangsa tidak hanya soal pembangunan fisik atau ekonomi. Lebih dari itu, ia adalah proses membangun peradaban yang hanya bisa bertahan jika ditopang oleh nilai. Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan sederhana namun tegas:“Tetap semangat membangun Indonesia.” Di tengah tantangan zaman, Ginting Institute hadir bukan hanya sebagai lembaga, tetapi sebagai pengingat bahwa etika dan integritas bukan nilai yang usang, melainkan fondasi yang justru semakin relevan untuk masa depan.

Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman Read More »

foto anak stc

Ketika Dunia Terhenti, Pendidikan Harus Tetap Berjalan

Di tengah situasi krisis, ada satu hal yang hampir selalu menjadi korban pertama: pendidikan. Sekolah ditutup, ruang belajar terhenti, dan anak-anak dipaksa menunda proses yang seharusnya menjadi fondasi masa depan mereka. Padahal, justru dalam kondisi paling genting, pendidikan menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Realitas ini yang mendorong berbagai pihak untuk tidak tinggal diam. Bukan sekadar menjaga agar sistem tetap berjalan, tetapi memastikan bahwa proses belajar tetap hadir dalam bentuk yang relevan, aman, dan manusiawi. Di sinilah kolaborasi lintas sektor memainkan peran penting, menghadirkan solusi yang tidak selalu ideal, tetapi cukup untuk menjaga harapan tetap hidup. Di wilayah seperti Aceh dan Sumatera Utara, upaya pemulihan pendidikan mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Anak-anak kembali belajar, meski bukan di ruang kelas yang sempurna. Ruang belajar sementara didirikan, kegiatan pembersihan sekolah dilakukan, dan perlengkapan belajar didistribusikan untuk memastikan proses pendidikan tidak sepenuhnya terhenti. Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia bukan hanya soal mengembalikan aktivitas belajar, tetapi juga memulihkan rasa aman, rutinitas, dan kepercayaan diri anak-anak yang terdampak situasi krisis. Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi sekadar soal kurikulum atau pencapaian akademik. Ia berubah menjadi ruang pemulihan baik secara emosional maupun sosial. Anak-anak tidak hanya belajar membaca atau berhitung, tetapi juga belajar kembali merasa aman, terhubung, dan memiliki harapan. Namun, menjaga keberlangsungan pendidikan dalam situasi darurat tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur. Peran guru dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi kunci. Mereka berada di garis depan, memastikan bahwa proses belajar tetap berjalan, bahkan dalam keterbatasan. Melalui pendekatan Training of Trainers, para guru dan tenaga pendidikan diberikan dukungan untuk menghadapi situasi yang tidak biasa. Mereka dilatih untuk mengajar dengan pendekatan yang lebih fleksibel, adaptif, dan sensitif terhadap kondisi psikologis anak-anak. Pendekatan ini menekankan tiga hal utama: fleksibilitas, keamanan, dan dukungan psikososial. Fleksibilitas diperlukan agar proses belajar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang terus berubah. Keamanan menjadi prioritas, karena tanpa rasa aman, proses belajar tidak akan pernah efektif. Sementara itu, dukungan psikososial menjadi fondasi untuk memastikan bahwa anak-anak tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga siap secara mental. Di balik semua itu, ada satu kesadaran yang semakin menguat: pendidikan bukan sekadar sistem, tetapi komitmen etis. Ia menyangkut tanggung jawab kolektif untuk menjaga martabat manusia, terutama mereka yang paling rentan. Bagi Ginting Institute, keterlibatan dalam pemulihan pendidikan bukan hanya bagian dari program kerja, tetapi juga refleksi dari nilai yang mereka pegang. Pendidikan dilihat sebagai ruang untuk merawat, melindungi, dan mempersiapkan masa depan bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk masyarakat secara luas. Ketika pendidikan dijaga, yang sebenarnya sedang dilindungi adalah masa depan itu sendiri. Di tengah dunia yang kerap tidak pasti, satu hal menjadi jelas: belajar tidak harus menunggu kondisi sempurna. Justru dalam keterbatasan, pendidikan menemukan makna yang paling mendasar sebagai upaya untuk tetap bertahan, tetap tumbuh, dan tetap percaya bahwa masa depan layak diperjuangkan. Foto-foto: Save The Children

Ketika Dunia Terhenti, Pendidikan Harus Tetap Berjalan Read More »

img 7833 small

Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi

Di tengah geliat pameran seni yang kian padat di ibu kota, pembukaan Living Eden di Neo Gallery, Jakarta, Sabtu (4/4/2026), datang dengan nada yang sedikit berbeda. Ia bukan sekadar peristiwa estetika, tetapi juga menyentuh satu isu yang kerap dihindari: lemahnya ekosistem seni rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Anna Sungkar. Founder Ginting Institute, Daniel Ginting, yang membuka pameran tersebut, secara terbuka menyinggung persoalan yang selama ini berulang, kualitas karya seniman Indonesia diakui, tetapi belum sepenuhnya ditopang oleh sistem yang kuat. Pameran Living Eden sendiri mengangkat tema alam sebagai ruang estetika, emosional, dan spiritual. Namun di balik narasi tersebut, terselip upaya untuk menarik percakapan yang lebih luas: bagaimana seni diposisikan dalam konteks budaya, ekonomi, dan bahkan etika. Pameran ini mempertemukan karya maestro seperti Affandi, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Dullah, hingga Basoeki Abdullah dengan generasi seniman kontemporer. Nama-nama seperti Akbar Linggaprana, Putu Sutawijaya, Siont Teja, Tommy F. Awuy, serta Susilo Bambang Yudhoyono hadir membawa pendekatan yang beragam. Di luar itu, kehadiran Bambang Sudarto, Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Ni Nyoman Sani, P. Lanny Andriani, Pardoli Fadli, Prabu Perdana, R.E. Hartanto, dan Syakieb Sungkar memperlihatkan bahwa secara praktik, seni rupa Indonesia tidak kekurangan energi kreatif. Data Pasar: Vietnam Melaju, Indonesia Tertahan Dalam pidatonya, Daniel mengungkapkan data pasar lelang internasional (Christie’s dan Sotheby’s dari tahun 2020 hingga 2025 ) menunjukkan bahwa Vietnam dalam beberapa tahun terakhir mampu melampaui Indonesia dalam hal konsistensi nilai dan pertumbuhan harga karya. Perbandingan ini bukan hal baru, tetapi jarang disampaikan secara terbuka di ruang publik seni. Vietnam dinilai berhasil membangun ekosistem yang lebih terintegrasi dari galeri, kurator, hingga kolektor yang bekerja dalam satu arah. Sementara Indonesia masih cenderung berjalan parsial, dengan ketergantungan besar pada nama-nama besar masa lalu. Ekosistem: Kata Kunci yang Terlalu Lama Diulang Isu ekosistem bukan hal baru dalam diskursus seni rupa Indonesia. Namun, sebagaimana terlihat dalam berbagai momentum, isu ini sering berhenti pada wacana. Salah satu poin yang mengemuka adalah peran galeri. Dalam praktiknya, relasi antar galeri di Indonesia masih kerap diwarnai kompetisi yang tidak produktif. Alih-alih membangun kolaborasi, tidak sedikit galeri yang justru berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling berebut pasar atau menjatuhkan satu sama lain. Pola ini, secara tidak langsung, menghambat pertumbuhan ekosistem yang sehat dan ini menjadi tantangan Galeri untuk saling berkolaborasi, karena biar bagaimana pun dalam ekosistem seni, galeri menjadi simpul penting yang menghubungkan seniman, kolektor, dan publik. Ginting Institute, dalam konteks ini, mencoba mendorong agar percakapan tersebut bergerak ke arah yang lebih konkret. Bukan hanya melalui diskusi, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam pendidikan, kolaborasi lintas sektor, dan dukungan terhadap ruang-ruang seni. Pendekatan ini menempatkan seni tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan pendidikan, nilai, dan pembentukan kesadaran publik. Persoalan lain yang disorot adalah jarak antara seni dan masyarakat. Seni rupa masih kerap diposisikan sebagai ruang eksklusif baik secara akses maupun pemahaman. Padahal, tanpa basis publik yang kuat, pasar domestik sulit berkembang. Daniel menegaskan bahwa seni harus kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dinikmati oleh kolektor atau kalangan terbatas, tetapi juga dipahami oleh masyarakat luas. Living Eden: Simbol atau Awal? Dalam konteks itu, Living Eden bisa dibaca sebagai dua hal sekaligus: simbol dan peluang. Simbol, karena ia menunjukkan bahwa dialog lintas generasi masih hidup. Peluang, karena ia membuka ruang untuk percakapan yang lebih jujur tentang kondisi seni rupa Indonesia hari ini. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah momentum seperti ini akan berlanjut menjadi gerakan yang lebih sistematis, atau kembali berhenti sebagai peristiwa? Pameran akan berlangsung hingga 25 April 2026. Selebihnya, pekerjaan rumah tetap ada. Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: seni rupa Indonesia tidak kekurangan talenta, tidak kekurangan sejarah, bahkan tidak kekurangan perhatian. Yang masih dicari adalah satu hal yang paling mendasar adalah ekosistem yang benar-benar bekerja.

Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi Read More »

silhouetted hands forming heart shape against glowing sunset creating symbol love hope

Menata yang Tak Terlihat: Tentang Integritas yang Tumbuh dari Dalam

Kita hidup dalam kebiasaan yang hampir otomatis: menata apa yang terlihat. Kita merapikan ruang kerja, menyusun rencana, membangun citra, bahkan mengatur bagaimana diri kita hadir di hadapan orang lain. Semua yang tampak menjadi prioritas, seolah di sanalah letak kendali atas hidup kita. Namun, ada satu ruang yang sering terlewat, ruang yang justru paling menentukan arah langkah kita: ruang di dalam diri. Ada sesuatu yang perlu ditata, bukan di luar, melainkan di dalam. Ruang batin adalah tempat di mana niat lahir, di mana keputusan mulai terbentuk sebelum akhirnya terlihat dalam tindakan. Ia tidak selalu terlihat, tidak selalu terukur, tetapi dampaknya nyata. Kita mungkin bisa mengatur kata-kata, tetapi alasan di balik kata-kata itu sering kali luput untuk kita periksa. Kita terbiasa memilih, bertindak, merespons tanpa benar-benar berhenti untuk bertanya: mengapa? Mengapa saya mengatakan ini?Mengapa saya memilih itu? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini jarang diberi ruang. Padahal, di sanalah awal dari kesadaran terbentuk. Ketika seseorang mulai berani melihat ke dalam, ia mulai menyadari bahwa tidak semua keputusan lahir dari kebutuhan yang jernih. Ada ego, ada ketakutan, ada dorongan untuk diakui, semuanya bekerja diam-diam, membentuk arah tanpa disadari. Menata ruang dalam diri bukan pekerjaan yang cepat. Ia tidak bisa diselesaikan dalam satu keputusan atau satu momen refleksi. Ia adalah proses yang berjalan pelan melibatkan kejujuran, kesabaran, dan keberanian untuk menghadapi hal-hal yang mungkin tidak nyaman. Namun ketika ruang batin mulai tenang, sesuatu berubah. Keputusan tidak lagi diambil dengan tergesa-gesa. Respons tidak lagi dipenuhi reaksi spontan yang didorong oleh emosi sesaat. Ada jarak yang sehat antara rangsangan dan tindakan. Di ruang itulah, kesadaran mulai mengambil alih. Seseorang tidak lagi hanya bereaksi, tetapi mulai memilih. Dari sinilah integritas bertumbuh. Bukan sebagai aturan yang dipaksakan dari luar, bukan pula sebagai citra yang ingin ditampilkan, tetapi sebagai kompas dari dalam. Integritas bukan tentang terlihat benar, melainkan tentang tetap benar bahkan ketika tidak ada yang melihat. Ia bekerja dalam diam, tetapi menentukan arah dengan jelas. Integritas menuntut keberanian bukan keberanian yang keras atau penuh suara, tetapi keberanian untuk menahan diri. Menahan keinginan untuk membalas, menahan dorongan untuk mengambil jalan pintas, menahan ego yang ingin selalu menang. Ia juga membutuhkan kerendahan hati. Kemampuan untuk mengakui kesalahan, untuk belajar, untuk tidak selalu merasa paling tahu. Dalam dunia yang sering menghargai kepastian dan kecepatan, kerendahan hati menjadi kualitas yang langka padahal justru di situlah pertumbuhan terjadi. Dan pada saat yang sama, integritas menuntut ketegasan. Ketegasan untuk berdiri pada nilai yang diyakini, tanpa harus meninggikan suara. Tidak semua kebenaran perlu diumumkan dengan keras. Kadang, cukup dijalankan dengan konsisten. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati tidak selalu yang paling terlihat. Ia bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, atau siapa yang paling menonjol di permukaan. Kekuatan sejati adalah kejernihan dan kemampuan untuk tetap tahu arah, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Kemampuan untuk tetap berjalan sesuai nilai, bahkan ketika tidak ada tekanan untuk melakukannya. Di dunia yang semakin bising, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah lebih banyak suara, melainkan lebih banyak keheningan. Bukan untuk menjauh dari realitas, tetapi untuk kembali memahami apa yang sebenarnya menggerakkan kita. Karena dari dalamlah semuanya bermula. Dan dari sanalah, arah kehidupan ditentukan.

Menata yang Tak Terlihat: Tentang Integritas yang Tumbuh dari Dalam Read More »

blm ethics1

BLM Student Journey: Ketika Usaha, Etika, dan Prestasi Tumbuh Bersama

Setiap pencapaian selalu memiliki cerita. Di balik sebuah medali, sertifikat, atau tepuk tangan di atas panggung, selalu ada perjalanan panjang yang jarang terlihat oleh banyak orang. Bagi para siswa di BLM, perjalanan itu bukan sekadar tentang memenangkan kompetisi atau meraih prestasi akademik. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah proses membentuk karakter tentang bagaimana usaha, etika, dan ketekunan berjalan berdampingan. Keberhasilan tidak pernah lahir dari kebetulan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten: disiplin datang ke kelas, kesungguhan mendengarkan pelajaran, latihan yang diulang berkali-kali, hingga keberanian untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan. Dalam dunia pendidikan yang ideal, prestasi bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil alami dari proses belajar yang dijalani dengan penuh komitmen. Di Sekolah BLM, perjalanan seorang siswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga hidup di ruang latihan, di panggung pertunjukan, di lapangan olahraga, dan di berbagai arena kompetisi. Setiap ruang itu memberikan pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya mengajarkan pelajaran yang sama: bahwa pertumbuhan tidak terjadi dalam sekejap. Di ruang kelas, para siswa belajar membangun fondasi pengetahuan. Di sana mereka dilatih untuk berpikir kritis, bertanya, dan memahami dunia secara lebih luas. Sementara itu, di panggung atau arena kompetisi, mereka belajar tentang keberanian dan kepercayaan diri tentang bagaimana menghadapi penonton, menghadapi lawan, dan menghadapi diri sendiri. Namun yang membedakan perjalanan siswa BLM bukan hanya tentang seberapa banyak prestasi yang mereka raih. Nilai yang dijunjung tinggi dalam proses ini adalah etika. Prestasi tanpa etika hanya akan menjadi angka di atas kertas. Sebaliknya, ketika keberhasilan dibangun bersama integritas, ia akan membentuk karakter yang bertahan jauh lebih lama daripada trofi atau penghargaan. Para siswa diajak untuk memahami bahwa kemenangan memang patut dirayakan. Setiap keberhasilan adalah hasil dari kerja keras yang layak dihargai. Namun dalam perspektif pendidikan yang lebih luas, kemenangan hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan. Pelajaran terbesar justru hadir dalam prosesnya ketika seseorang belajar mengelola kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan tetap melangkah maju meskipun hasil belum sesuai harapan. Perjalanan seorang siswa juga merupakan perjalanan membangun harapan. Setiap langkah kecil yang mereka ambil hari ini akan menjadi fondasi bagi masa depan mereka. Nilai-nilai seperti kerja keras, tanggung jawab, dan integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi bekal penting ketika mereka melangkah ke dunia yang lebih luas. Karena itu, perjalanan siswa BLM tidak berhenti pada satu pencapaian. Ia adalah proses yang terus bergerak. Para siswa didorong untuk terus belajar, terus berkembang, dan tidak berhenti mencari kemungkinan baru. Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang mencapai garis finis lebih cepat. Pendidikan adalah tentang bagaimana seseorang menjalani perjalanannya dengan usaha yang sungguh-sungguh, dengan etika yang kuat, dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah memiliki makna. Itulah semangat yang ingin ditanamkan dalam perjalanan siswa BLM: mencapai dengan usaha, dan berjalan dengan etika.

BLM Student Journey: Ketika Usaha, Etika, dan Prestasi Tumbuh Bersama Read More »