News

group children lying reading grass field

Hari Anak Nasional: Membangun Masa Depan Dimulai dari Karakter, Etika, dan Ruang Tumbuh Anak

Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai momentum untuk menegaskan kembali komitmen bersama dalam melindungi, mendidik, dan mempersiapkan generasi penerus bangsa. Namun, di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari perubahan teknologi, krisis lingkungan, hingga perubahan sosial, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak-anak tumbuh, melainkan bagaimana membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang utuh. Bagi Ginting Institute, pendidikan anak tidak berhenti pada pencapaian akademik. Anak-anak perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, kepekaan terhadap sesama, integritas, kreativitas, dan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi dalam berbagai program yang dikembangkan Ginting Institute. Dalam banyak sistem pendidikan, anak masih sering diposisikan sebagai objek pembelajaran, mendengar, menghafal, lalu mengulang. Padahal, masa kanak-kanak adalah periode ketika rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kemampuan berimajinasi berkembang sangat pesat. Ginting Institute memandang anak sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Mereka perlu diberi ruang untuk bertanya, bereksperimen, berdialog, bahkan menemukan sendiri makna dari pengalaman yang mereka jalani. Pendekatan tersebut tercermin dalam berbagai program pendidikan yang menggabungkan pembelajaran dengan pengalaman nyata. Ketika anak terlibat secara langsung, pengetahuan tidak lagi menjadi informasi yang mudah dilupakan, melainkan pengalaman yang membentuk cara berpikir dan cara bersikap. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, pendidikan karakter pun menjadi semakin relevan. Kemampuan intelektual tanpa integritas dapat kehilangan arah, sementara kecakapan teknis tanpa kepedulian sosial sulit memberikan manfaat yang berkelanjutan. Karena itu, Ginting Institute menempatkan etika sebagai salah satu pilar utama dalam setiap programnya. Etika dipahami bukan sebagai kumpulan aturan, melainkan kebiasaan untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain, lingkungan, dan masa depan. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, gotong royong, dan kepedulian perlu ditanamkan sejak usia dini melalui pengalaman sehari-hari. Ketika anak belajar membuang sampah pada tempatnya, bekerja sama dalam kelompok, atau menghargai pendapat teman, mereka sedang membangun fondasi karakter yang akan memengaruhi cara mereka hidup di masa depan. Membangun generasi yang tangguh tidak dapat dilakukan oleh sekolah saja. Orang tua, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai institusi memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak. Hari Anak Nasional bukan hanya perayaan, tetapi juga pengingat bahwa masa depan Indonesia sedang dibentuk hari ini. Anak-anak yang tumbuh dengan karakter kuat, mampu berpikir kritis, memiliki empati, serta peduli terhadap lingkungan akan menjadi generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui berbagai inisiatif di bidang pendidikan, seni, budaya, dan lingkungan, Ginting Institute berupaya menghadirkan ruang belajar yang membentuk manusia, bukan hanya menghasilkan lulusan. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari sejauh mana anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, berintegritas, dan mampu memberi manfaat bagi sesamanya. Pada Hari Anak Nasional ini, pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun mendasar: setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk belajar, berkreasi, didengar, dan tumbuh dalam lingkungan yang menghargai martabatnya. Ketika anak-anak diberi ruang untuk berkembang, sesungguhnya kita sedang menyiapkan masa depan bangsa yang lebih beretika, lebih berdaya, dan lebih manusiawi.

Hari Anak Nasional: Membangun Masa Depan Dimulai dari Karakter, Etika, dan Ruang Tumbuh Anak Read More »

632966285 17859596850608288 2246443893553694998 n

L’ASRY Membuka Ruang Belajar bagi Calon Perupa Muda

Di tengah berkembangnya dunia seni rupa Indonesia, kebutuhan akan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses kreatif, semakin terasa penting. Menjawab kebutuhan tersebut, L’ASRY (Lembaga Belajar Seni Rupa) hadir sebagai lembaga pendidikan nonformal seni rupa di Yogyakarta yang menawarkan pendekatan pembelajaran berbasis proses, dengan inspirasi dari sistem pendidikan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada masa awal perkembangannya. L’ASRY percaya bahwa belajar seni bukan semata-mata tentang menghasilkan karya yang menarik secara visual. Lebih dari itu, pendidikan seni adalah proses membangun cara melihat, berpikir, merasakan, dan memahami dunia melalui bahasa visual. Program pendidikan yang akan berlangsung pada September hingga November 2026 ini dirancang bagi mereka yang ingin mempelajari seni rupa secara mendasar dan sistematis. Selama mengikuti program, peserta akan didampingi langsung oleh seniman profesional dan dosen seni rupa aktif yang memiliki pengalaman dalam praktik maupun pendidikan seni. Materi pembelajaran disusun untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dasar-dasar seni rupa. Peserta akan memulai dari latihan sketsa sebagai fondasi pengamatan visual, kemudian berlanjut pada gambar bentuk, nirmana, melukis, eksplorasi berbagai media, hingga sesi kritik karya yang menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan analisis dan refleksi artistik. Berbeda dengan kursus yang berorientasi pada penyelesaian karya dalam waktu singkat, metode pembelajaran di L’ASRY lebih menekankan perkembangan kemampuan setiap peserta melalui latihan yang berkesinambungan. Proses belajar dipandang sebagai perjalanan yang membentuk karakter sekaligus cara berpikir seorang perupa. Selain pembelajaran di studio, peserta juga akan memperoleh pengalaman langsung melalui kunjungan ke studio seniman. Kesempatan ini memungkinkan mereka melihat bagaimana praktik berkesenian dijalankan dalam kehidupan profesional, mulai dari proses penciptaan karya hingga dinamika kehidupan seorang seniman. Untuk mendukung proses belajar, peserta akan memperoleh berbagai fasilitas, seperti perlengkapan praktik, kaos resmi L’ASRY, sertifikat setelah menyelesaikan program, hingga kesempatan mengikuti pameran akhir studi bagi peserta yang memenuhi ketentuan akademik. Pameran ini menjadi ruang bagi peserta untuk memperkenalkan hasil eksplorasi mereka kepada publik sekaligus merasakan pengalaman berpameran sebagai bagian dari ekosistem seni rupa. Program ini terbuka bagi peserta berusia minimal 17 tahun atau lulusan SMA/sederajat yang memiliki komitmen mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap Senin hingga Jumat, sehingga peserta dapat menjalani proses pendidikan secara intensif dalam suasana yang mendukung perkembangan artistik mereka. Melalui pendekatan yang menempatkan proses sebagai inti pembelajaran, L’ASRY berharap dapat melahirkan generasi perupa yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kepekaan estetik, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran terhadap praktik seni sebagai bagian dari kehidupan. Pendaftaran program L’ASRY kini telah dibuka. Informasi dan formulir pendaftaran dapat diakses melalui: https://forms.gle/Ukh6gkaXkmpDfmps8 (QR Code juga tersedia pada materi publikasi). Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui WhatsApp 0819-3824-6001 (Ibu Watie Respati) atau melalui email ruangtanahliat@gmail.com. Mengusung semangat “Belajar Seni dari Dasarnya”, L’ASRY ingin menjadi ruang tempat proses berlangsung dan menjadi titik awal lahirnya perupa-perupa baru yang tumbuh melalui pengalaman, eksplorasi, dan pembelajaran yang mendalam. Foto-foto: Instagram/L’ASRY Lembaga Belajar Seni Rupa

L’ASRY Membuka Ruang Belajar bagi Calon Perupa Muda Read More »

dsc01226 s

OXYGEN: Cat Air Menjadi Ruang Bernapas di Tengah Hiruk Pikuk Kota

Di tengah ritme kehidupan yang semakin cepat dan padat, ruang untuk berhenti, mengamati, dan bernapas sering kali menjadi kemewahan. Dari kesadaran inilah lahir OXYGEN, pameran tunggal seniman Agus Budiyanto di Galeri ZEN1 (Jalan Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat), yang mengajak publik memaknai kembali hubungan antara manusia, alam, dan pengalaman batin melalui medium cat air. Pameran yang dibuka oleh Hadi Cahyadi dan dikuratori oleh Rizki A. Zaelani ini menghadirkan rangkaian karya abstrak yang tidak menawarkan bentuk-bentuk yang mudah dikenali. Sebaliknya, Agus mengajak penikmat seni memasuki pengalaman visual yang dibangun melalui lapisan warna, aliran air, ritme, dan energi yang bergerak secara intuitif. Menariknya, Agus sendiri tidak pernah menempatkan abstraksi sebagai tujuan utama dalam berkarya. “Saya sebenarnya tak bermaksud membuat karya abstrak, selain hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya.” Pernyataan tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan pameran ini. Abstraksi dalam karya-karyanya bukan hasil dari upaya menghindari bentuk, melainkan konsekuensi alami dari proses kreatif yang mengikuti kesadaran, intuisi, dan energi yang mengalir dari dalam dirinya. Judul OXYGEN tidak sekadar merujuk pada unsur kimia yang menopang kehidupan. Dalam pembacaan kurator Rizki A. Zaelani, oksigen hadir sebagai metafora atas sesuatu yang semakin dibutuhkan manusia modern: ruang untuk bernapas secara batin. Di tengah kehidupan perkotaan yang dipenuhi rutinitas, tekanan, dan tuntutan produktivitas, manusia perlahan kehilangan hubungan dengan alam maupun dirinya sendiri. Kota-kota besar menciptakan ruang hidup yang semakin padat, sementara waktu untuk mengalami keheningan menjadi semakin sempit. Melalui karya-karya Agus Budiyanto, seni diposisikan sebagai “oksigen” yang memberi kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak, merasakan kembali, dan menghidupkan sensitivitas yang kerap tertutup oleh kesibukan sehari-hari. Selama ini medium cat air sering dipahami sebagai teknik yang identik dengan kelembutan, transparansi, dan representasi lanskap. Agus Budiyanto justru membawa medium tersebut ke wilayah yang lebih eksperimental. Air bukan lagi sekadar pelarut warna, melainkan bagian dari proses penciptaan itu sendiri. Pigmen mengalir mengikuti gravitasi, saling bertemu, bertabrakan, lalu membentuk lapisan-lapisan visual yang sulit direkayasa secara sepenuhnya. Setiap sapuan menghadirkan kemungkinan baru yang tidak selalu dapat diprediksi. Proses inilah yang membuat karya Agus terasa hidup. Warna-warna seolah bergerak mengikuti irama alam, menciptakan komposisi yang lahir dari dialog antara kontrol seniman dan spontanitas medium. Agus menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang mengendalikan material, tetapi juga tentang memberi ruang bagi alam untuk ikut berbicara. Rizki A. Zaelani menjelaskan bahwa imaji-imaji abstrak dalam karya Agus lahir dari proses internalisasi pengalaman inderawi. Karena itu, karya-karya tersebut tidak dimaksudkan untuk dibaca secara literal, melainkan dirasakan melalui sensitivitas, intuisi, dan pengalaman batin setiap individu. Lapisan warna, gerak visual, kontras, hingga ruang-ruang kosong di dalam komposisi menjadi bagian dari pengalaman yang terus hidup selama karya dipandang. Dalam konteks ini, setiap orang akan menemukan “oksigen”-nya sendiri. Ada yang melihat ketenangan. Ada yang merasakan energi. Ada pula yang menemukan ruang refleksi terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Meskipun tidak menghadirkan bentuk-bentuk alam secara langsung, karya Agus justru memiliki hubungan yang sangat kuat dengan semesta. Energi alam hadir melalui ritme warna, aliran air, tekstur, dan ruang yang terbentuk secara organik. Alih-alih menggambarkan gunung, laut, atau pepohonan, Agus menghadirkan pengalaman tentang bagaimana alam bekerja, mengalir, berubah, bertumbuh, dan terus bergerak. Pendekatan ini membuat abstraksi dalam OXYGEN terasa dekat dengan kehidupan. Ia tidak meminta penonton memahami teori seni, tetapi mengajak mereka kembali pada pengalaman paling dasar sebagai manusia: bernapas, merasakan, dan terhubung dengan alam. Melalui eksplorasi cat air yang intuitif, Agus Budiyanto memperlihatkan bahwa abstraksi bukan sekadar bentuk visual, melainkan pengalaman batin yang terus bergerak bersama setiap orang yang memandangnya. Pada akhirnya, OXYGEN bukan hanya sebuah pameran lukisan cat air. Ia menjadi ajakan untuk kembali menemukan ruang bernapas di tengah kehidupan modern, ruang di mana seni, alam, dan manusia saling bertemu dalam keheningan yang penuh makna. Pameran ini berlangsung sampai tanggal 11 Agustus 2026.

OXYGEN: Cat Air Menjadi Ruang Bernapas di Tengah Hiruk Pikuk Kota Read More »

srihadi sudarsono

Buku Rimpang Rasa: Sebuah Perjalanan Menjadi Kolektor

Di tengah semakin banyaknya buku seni rupa yang berfokus pada reproduksi karya atau biografi seniman, Rimpang Rasa karya Daniel Ginting hadir dengan pendekatan yang berbeda. Buku ini bukan katalog koleksi, bukan pula buku sejarah seni rupa Indonesia dalam pengertian akademis. Sebaliknya, Rimpang Rasa merupakan catatan reflektif tentang bagaimana seorang kolektor membangun hubungan dengan karya seni, menyusun narasi melalui koleksi, serta memahami seni sebagai bagian dari perjalanan hidup. Buku ini memperlihatkan bahwa setiap lukisan tidak berdiri sendiri. Sebuah karya menyimpan jejak sejarah, pengalaman penciptanya, hingga perjalanan orang-orang yang kemudian merawat dan meneruskan maknanya. Di tangan Daniel Ginting, aktivitas mengoleksi tidak berhenti pada kepemilikan, melainkan menjadi proses membaca, memahami, dan menjaga cerita yang terkandung di balik setiap karya. Kolektor sebagai Penjaga Cerita Daniel Ginting memulai buku ini dari pengalaman pribadinya sebagai kolektor. Ia menggambarkan bahwa perjalanan mengoleksi selalu menghadirkan dua sisi: kegembiraan sekaligus tantangan. Kegembiraan hadir karena dunia seni rupa Indonesia menawarkan keberagaman yang luar biasa. Berbagai generasi pelukis, tema, gaya visual, hingga pendekatan artistik membuka kemungkinan yang hampir tak terbatas bagi seorang kolektor. Namun justru karena begitu banyak pilihan, tantangan terbesar adalah menentukan arah koleksi. Bagi Daniel, keindahan visual memang menjadi pintu pertama dalam memilih sebuah karya. Akan tetapi, pertimbangan tidak berhenti di sana. Nilai historis, posisi seniman dalam perkembangan seni rupa Indonesia, keaslian karya, hingga kisah yang melatarbelakanginya menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Ia menggambarkan bahwa sebuah lukisan sering kali menjadi “corner stone”, fondasi yang kemudian menentukan arah koleksi berikutnya. Dari sinilah koleksi berkembang bukan sebagai kumpulan benda, tetapi sebagai rangkaian cerita yang saling terhubung. Membangun Koleksi Seperti Membangun Rumah Salah satu gagasan yang paling menarik dalam Rimpang Rasa adalah analogi tentang membangun rumah. Daniel mengibaratkan koleksi seni sebagai sebuah rumah yang memerlukan fondasi kuat sebelum berkembang menjadi bangunan yang utuh. Fondasi tersebut bukan jumlah karya yang dimiliki, melainkan kualitas pilihan. Ia mengingat nasihat seorang kolektor senior yang menjadi pegangan selama bertahun-tahun: lebih baik memiliki satu karya yang benar-benar penting daripada sepuluh karya biasa. Prinsip ini kemudian membentuk cara pandangnya dalam mengoleksi. Ia tidak mengejar kuantitas, melainkan membangun koleksi secara perlahan dengan arah yang jelas, sehingga setiap karya memiliki hubungan dengan karya lainnya. Pendekatan ini menjadikan koleksi sebagai narasi yang terus berkembang, bukan sekadar akumulasi aset seni. Etika sebagai Fondasi Mengoleksi Di balik pembahasan mengenai karya seni, Rimpang Rasa sesungguhnya banyak berbicara mengenai etika. Daniel menekankan pentingnya memastikan asal-usul karya (provenance), keaslian lukisan, kejujuran dalam transaksi, serta tanggung jawab moral seorang kolektor terhadap ekosistem seni rupa. Baginya, mengoleksi bukan hanya persoalan membeli karya, tetapi juga menjaga integritas dunia seni. Pandangan tersebut juga berakar pada keyakinan pribadinya bahwa setiap pekerjaan perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Prinsip inilah yang kemudian membuat buku ini terasa berbeda. Pembaca tidak hanya diajak mengenal karya seni, tetapi juga memahami nilai-nilai yang seharusnya menyertai praktik mengoleksi. Membaca Seni Melalui Narasi Judul Rimpang Rasa bukan dipilih tanpa alasan. Sebagaimana rimpang yang tumbuh ke berbagai arah namun tetap saling terhubung, Daniel melihat bahwa karya seni juga memiliki hubungan yang tidak selalu terlihat di permukaan. Satu lukisan dapat berbicara dengan lukisan lain. Seorang pelukis dapat memengaruhi generasi berikutnya. Sebuah koleksi dapat membentuk cerita yang lebih besar daripada nilai masing-masing karya. Cara pandang inilah yang menjadi benang merah buku ini. Pembaca diajak melihat bahwa seni bukan sekadar objek visual, tetapi ruang dialog yang terus berkembang seiring waktu. Kontribusi bagi Ekosistem Seni Rupa Indonesia Di tengah masih terbatasnya literatur mengenai praktik kolektor seni di Indonesia, Rimpang Rasa memberikan perspektif yang relatif jarang ditemukan. Buku ini memperlihatkan bagaimana kolektor dapat berperan sebagai penghubung antara seniman, galeri, kurator, peneliti, dan publik. Daniel juga menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar seni rupa Indonesia bukan hanya soal pasar, melainkan lemahnya dokumentasi dan pencatatan sejarah. Banyak karya, peristiwa, dan pengalaman penting yang berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan secara serius. Dalam konteks tersebut, Rimpang Rasa menjadi lebih dari sekadar kisah pribadi. Buku ini merupakan upaya mendokumentasikan pengalaman mengoleksi sebagai bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia. Sebuah Buku untuk Pembaca yang Ingin Memahami Seni Lebih Dalam Rimpang Rasa tidak hanya relevan bagi kolektor seni. Buku ini juga menarik bagi mahasiswa seni, kurator, peneliti, seniman, maupun pembaca umum yang ingin memahami bagaimana sebuah karya memperoleh makna melalui perjalanan waktu. Alih-alih menyajikan teori yang rumit, Daniel memilih bertutur melalui pengalaman. Bahasa yang digunakan reflektif, personal, dan mengajak pembaca melihat seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, Rimpang Rasa mengingatkan bahwa nilai sebuah lukisan tidak hanya berada pada apa yang tampak di atas kanvas, tetapi juga pada cerita yang menyertainya. Ketika karya dipahami melalui konteks, sejarah, dan pengalaman manusia, seni tidak lagi menjadi benda yang diam. Ia hidup, terus berbicara, dan menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Melalui buku ini, Daniel Ginting menunjukkan bahwa menjadi kolektor bukan sekadar mengumpulkan karya, melainkan merawat ingatan, menjaga etika, dan membangun narasi yang dapat terus menginspirasi perkembangan seni rupa Indonesia.

Buku Rimpang Rasa: Sebuah Perjalanan Menjadi Kolektor Read More »

74ca06eb 01a7 4ed7 b0b0 8b035263a58e

Menemukan Narasi di Balik Karya dalam Pameran Rimpang Rasa: Narasi Rawan

Tidak semua lukisan berhenti ketika sapuan kuas terakhir selesai diletakkan. Di balik setiap warna, tekstur, dan komposisi, selalu ada kisah yang selalu bergerak melampaui kanvas. Ia hidup melalui setiap orang yang memandangnya, setiap percakapan yang lahir karenanya, dan setiap tafsir baru yang muncul dari waktu ke waktu. Bagi sebagian orang, sebuah lukisan mungkin hanya tampak sebagai hasil kreativitas seorang seniman. Namun, di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang melibatkan pengalaman hidup, sejarah, pertemuan antarmanusia, hingga nilai-nilai yang membentuk proses penciptaannya. Karena itu, setiap karya sesungguhnya memiliki cerita yang tidak pernah selesai. Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam Rimpang Rasa: Narasi Rawan. Pameran ini tidak hanya memperlihatkan karya-karya seni, tetapi juga menghubungkan berbagai pengalaman, generasi, dan cara pandang melalui sebuah narasi yang saling bertaut. Karya yang telah ada dipertemukan dengan karya yang lahir sebagai tanggapan, membentuk dialog yang terus berkembang dari satu masa ke masa berikutnya. Narasi itu juga menjadi bagian penting dari perjalanan Daniel Ginting sebagai kolektor seni. Selama bertahun-tahun mengoleksi karya, Daniel tidak melihat lukisan semata sebagai benda yang layak dimiliki. Baginya, setiap karya adalah hasil sebuah perjumpaan antara seniman dengan zamannya, antara gagasan dengan pengalaman hidup, hingga antara karya dengan orang-orang yang kemudian menemukannya. Cara pandang tersebut kemudian dituangkan melalui buku Rimpang Rasa, yang menjadi salah satu inspirasi lahirnya pameran ini. Buku tersebut tidak hanya menceritakan perjalanan sebuah koleksi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana karya seni dapat membangun hubungan yang lebih dalam dengan manusia. Dalam perspektif Daniel Ginting, koleksi seni bukanlah sekumpulan objek yang tersimpan di ruang privat. Sebaliknya, setiap karya memiliki tanggung jawab untuk terus hidup melalui percakapan, pembelajaran, dan ruang-ruang publik yang memungkinkan lebih banyak orang mengalami makna yang dikandungnya. Pemahaman itu sejalan dengan semangat pameran “SAHAJA: Kala Rupa Bersua”, yang dikurasi sebagai ruang dialog antar karya. Ketika sebuah karya dipertemukan dengan karya lain, lahirlah kemungkinan tafsir baru. Perjumpaan itulah yang membuat seni terus hidup, bukan hanya karena kehadiran senimannya, tetapi juga karena kehadiran para penikmatnya. Di sinilah seni menemukan sifatnya yang paling mendasar. Sebuah karya tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan studio. Ia akan terus berubah melalui pengalaman setiap orang yang melihatnya. Setiap pengunjung membawa latar belakang, emosi, dan ingatannya masing-masing sehingga satu karya dapat melahirkan banyak cerita yang berbeda. Melalui Rimpang Rasa: Narasi Rawan, publik diajak untuk melampaui kebiasaan melihat seni hanya sebagai sesuatu yang indah. Pameran ini mengundang setiap pengunjung untuk membaca, merasakan, dan memasuki cerita yang hidup di balik setiap karya. Karena pada akhirnya, sebuah lukisan tidak pernah berhenti di atas kanvas. Ia terus hidup melalui setiap mata yang memandang, setiap hati yang merasakan, dan setiap perjumpaan yang meninggalkan jejak baru. Pameran “Rimpang Rasa: Narasi Rawan – SAHAJA: Kala Rupa Bersua” yang berlangsung sampai dengan tanggal 20 Juli 2026 di Kiniko Art, Yogyakarta ini mengajak publik melihat karya seni bukan sekadar sebagai objek visual, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang terus melahirkan makna. Foto-foto: Jessy

Menemukan Narasi di Balik Karya dalam Pameran Rimpang Rasa: Narasi Rawan Read More »

0f6719fc b425 419b 8cd0 fea285d1c035

Ruang Dialog Seni di Tengah Perjumpaan Ekosistem Seni Rupa Indonesia

Yogyakarta kembali menjadi ruang pertemuan bagi ekosistem seni rupa Indonesia melalui  ArtJog 2026, sebuah festival dan pameran seni rupa yang mempertemukan seniman, kolektor, galeri, kurator, akademisi, komunitas kreatif, hingga para penikmat seni dari berbagai daerah dan negara. Di tengah atmosfer perjumpaan tersebut, berbagai diskusi dan pameran yang digelar menjadi ruang penting untuk melihat kembali dan berdiskusi bagaimana seni berkembang, diwariskan, dan dimaknai dari waktu ke waktu. Salah satu percakapan yang hadir dalam rangkaian aktivitas seni di Yogyakarta adalah diskusi publik dalam pameran “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” yang diselenggarakan oleh Ginting Institute, Galeri ZEN1, dan Kiniko Art. Tidak hanya menghadirkan pertemuan karya seni, acara ini membuka ruang refleksi melalui diskusi yang mempertemukan seniman, kolektor, dan kurator untuk membicarakan kembali perjalanan, sejarah, serta masa depan seni rupa Indonesia. Bertempat di Kiniko Art, Yogyakarta, diskusi yang menjadi bagian dari rangkaian pameran “SAHAJA: Kala Rupa Bersua” menghadirkan kolektor sekaligus pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, kurator Rizki A. Zaelani, seniman Ugo Untoro, serta dimoderatori oleh seniman Jumaldi Alfi. Forum ini menjadi ruang percakapan mengenai hubungan antara karya seni, sejarah, generasi, dan bagaimana ekosistem seni rupa terus berkembang. Diskusi berangkat dari gagasan utama bahwa tidak ada karya seni yang lahir secara terpisah. Setiap karya memiliki hubungan dengan pengalaman sebelumnya, sejarah, tradisi, maupun pemikiran yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, pembicaraan kemudian berkembang menjadi refleksi yang lebih luas mengenai hubungan generasi hari ini dengan sejarah seni rupa Indonesia. Seniman Ugo Untoro menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perjalanan sejarah seni sebagai bagian dari proses penciptaan. Menurutnya, perkembangan seni tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan terhadap jejak para seniman sebelumnya. Nama-nama besar seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, hingga Affandi menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk karakter seni rupa Indonesia. Persoalan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan penting: bagaimana hubungan antara sejarah, ingatan, dan penciptaan karya seni kontemporer hari ini? Kurator Rizki A. Zaelani menjelaskan bahwa gagasan pameran “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” memang berangkat dari upaya mempertemukan berbagai lapisan waktu dalam seni. Karya lama dan karya baru tidak ditempatkan dalam hubungan hierarki, tetapi sebagai bagian dari dialog yang terus berkembang. Menurut Rizki, ketika karya dipertemukan dengan karya lain, akan muncul kemungkinan pembacaan baru. Seni selalu hidup melalui hubungan dan perjumpaan antar gagasan, pengalaman, serta perspektif. Sementara itu, Jumaldi Alfi melihat bahwa tantangan seni rupa Indonesia tidak hanya terletak pada hubungan antar generasi, tetapi juga pada persoalan dokumentasi dan pencatatan sejarah. Banyak peristiwa seni yang terjadi, namun tidak seluruhnya terdokumentasi secara baik sehingga menyebabkan terputusnya hubungan antara satu periode dengan periode berikutnya. Dari perspektif kolektor, Daniel Ginting menyoroti pentingnya membangun ekosistem seni yang tidak hanya bergerak berdasarkan nilai pasar. Baginya, koleksi seni bukan sekadar tentang memiliki karya, tetapi tentang menjaga cerita, konteks, dan nilai yang melekat di dalamnya. Melalui buku “Rimpang Rasa”, Daniel mencoba menghadirkan perjalanan koleksi sebagai sebuah narasi personal yang memperlihatkan bagaimana karya seni memiliki hubungan dengan sejarah, manusia, dan pengalaman hidup. Ia melihat bahwa seni membutuhkan ruang percakapan yang lebih luas agar tidak berhenti sebagai objek estetika. Seni perlu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, membuka diskusi, membangun empati, dan menciptakan pemahaman baru. Diskusi ini juga memperlihatkan bahwa Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Sebagai salah satu pusat pertumbuhan seni, Yogyakarta terus menjadi ruang pertemuan berbagai ide dan praktik kreatif. Namun, ekosistem seni juga membutuhkan refleksi berkelanjutan agar tetap terbuka, dinamis, dan mampu menjawab perubahan zaman. Pada akhirnya, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” bukan hanya berbicara tentang sebuah pameran, tetapi tentang bagaimana seni menjaga ingatan. Sebuah pengingat bahwa karya seni, seniman, kolektor, kurator, dan masyarakat berada dalam satu jaringan yang saling terhubung. Seni menjadi ruang tempat pengalaman masa lalu, persoalan hari ini, dan kemungkinan masa depan dapat bertemu dalam satu percakapan yang terus hidup. Pameran “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” berlangsung di Kiniko Art, Yogyakarta, hingga 20 Juli 2026. Baca Juga: Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu Foto-foto:  Jessy

Ruang Dialog Seni di Tengah Perjumpaan Ekosistem Seni Rupa Indonesia Read More »

20b102b3 a479 452c 8f48 6fde8a471222

Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu

Pameran seni rupa “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua” hadir sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan karya-karya seni dari berbagai generasi, latar pengalaman, serta lingkungan penciptaan yang berbeda. Pameran ini menghadirkan gagasan bahwa sebuah karya seni tidak pernah lahir secara terpisah, melainkan selalu memiliki hubungan dengan karya-karya yang telah hadir sebelumnya, pengalaman manusia, serta berbagai konteks yang membentuknya. Melalui pendekatan tersebut, pameran ini mengajak para seniman untuk merespons karya yang telah ada melalui ekspresi artistik baru. Hubungan antara karya lama dan karya baru tidak dipandang sebagai pengulangan, melainkan sebagai percakapan kreatif yang terus berkembang—sebuah dialog imajiner yang melintasi ruang dan waktu, mempertemukan masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Tema “Sahaja” menyoroti momen ketika rupa bersua—ketika sebuah karya berdampingan dengan karya lainnya dan membuka ruang bagi lahirnya pemaknaan baru. Pertemuan tersebut tidak hanya memperlihatkan hubungan antara penciptaan sebelumnya dengan penciptaan berikutnya, tetapi juga menghadirkan kemungkinan munculnya tafsir, inspirasi, dan pengalaman artistik yang baru. Dalam konteks ini, seni dipahami sebagai proses yang terus bergerak. Ia tidak berhenti pada satu bentuk, satu pemahaman, ataupun satu batasan tertentu. “Kala Rupa Bersua” tidak berupaya menempatkan karya dalam hierarki nilai, melainkan menghadirkan ruang yang memungkinkan setiap karya berbicara melalui keberadaannya sendiri. Pameran ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali hubungan antara seni, seniman, dan karya seni. Selama ini, pemahaman terhadap sebuah karya sering kali dikaitkan dengan latar pengetahuan, konsep, atau pengalaman penciptanya. Namun, melalui “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA”, karya diberikan ruang untuk hadir sebagai entitas yang dapat menyapa, berinteraksi, dan membangun hubungan dengan karya lain maupun dengan publik yang mengapresiasinya. Setiap karya yang hadir membawa jejak pengalaman manusia, nilai-nilai etis, kondisi sosial budaya, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan semesta yang lebih luas. Karya seni tidak hanya menjadi objek visual yang dilihat, tetapi juga menjadi ruang pengalaman yang terus terbuka untuk ditafsirkan oleh berbagai generasi. Pertemuan antara karya yang telah ada dan karya yang baru tercipta menunjukkan bahwa perjalanan seni selalu berlangsung melalui proses saling merespons, saling memengaruhi, dan saling menghidupkan. Sebuah karya dapat menjadi awal bagi karya berikutnya, membangun kesinambungan gagasan yang membuat seni terus tumbuh dan berkembang. Lebih dari sekadar sebuah pameran, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua” merupakan undangan untuk memahami seni sebagai ruang perjumpaan, refleksi, dan dialog. Seni tidak berhenti di ruang pamer, tetapi hadir di tengah masyarakat sebagai medium untuk membuka percakapan, membangun empati, serta memperluas cara manusia memahami kehidupan. Melalui peristiwa ketika rupa bersua ini, seni dihadirkan bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan, direnungkan, diperdebatkan, dan terus dihidupkan sebagai bagian dari perjalanan bersama dalam memahami manusia, dunia, dan berbagai kemungkinan makna yang lahir di antaranya. Baca Juga: Ruang Dialog Seni di Tengah Perjumpaan Ekosistem Seni Rupa Indonesia Foto-foto: Jessy

Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu Read More »

img 3656 small

“Rimpang Rasa, Narasi Rawan”: Dialog Antar Generasi Melalui Seni

Seni bukan sekadar objek untuk dilihat, tetapi ruang untuk merasakan, berdialog, dan memahami kembali hubungan manusia dengan dunia di sekitarnya. Berangkat dari gagasan tersebut, Ginting Institute bersama Galeri ZEN1 dan Kiniko Art mempersembahkan pameran bersama bertajuk “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” melalui program SAHAJA: Kala Rupa Bersua. Pameran ini menghadirkan perjumpaan antara karya seni dari berbagai generasi, waktu, dan pengalaman hidup. Setiap karya diposisikan bukan sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari rantai penciptaan yang terus bergerak di mana inspirasi, tradisi, pengalaman personal, serta nilai-nilai etis saling terhubung dan membentuk narasi baru. “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” mengajak publik melihat seni sebagai sebuah percakapan panjang. Karya yang telah hadir sebelumnya bertemu dengan karya yang lahir sebagai respons, menciptakan hubungan antara masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan. Bagi Ginting Institute, seni memiliki peran yang lebih luas dari sekadar pengalaman estetika. Seni harus mampu hadir di tengah masyarakat, membuka ruang percakapan, membangun empati, serta mendorong kesadaran dan tindakan. Pemikiran tersebut menjadi salah satu dasar perjalanan Daniel Ginting sebagai kolektor seni sekaligus penulis buku Rimpang Rasa. Baginya, mengoleksi karya seni bukan hanya tentang memiliki objek, tetapi tentang memahami cerita, perjalanan, dan nilai yang melekat di balik sebuah karya. “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, yang menghadirkan pendekatan kuratorial tentang bagaimana karya seni dapat saling merespons dan membentuk jaringan makna. Pameran ini menghadirkan karya dari sejumlah seniman lintas pendekatan, yaitu Andry Boy Kurniawan, Budi Kustarto, Daniel Timbul, Eko Rachmiyanto, Jumaldi Alfi, Lugas Syllabus, M. Irfan, Radetyo Itok, S Dwi Stya Acong, dan Ugo Untoro. Melalui beragam medium dan perspektif, para seniman menghadirkan eksplorasi tentang pengalaman manusia, ingatan, perubahan zaman, serta bagaimana seni terus berkembang melalui proses perjumpaan. Rangkaian pembukaan pameran akan diawali dengan diskusi publik yang menghadirkan Daniel Ginting (Penulis Buku Rimpang Rasa), Rizki A. Zaelani (Kurator), dan Ugo Untoro (Seniman) dengan moderator Jumaldi Alfi. Diskusi ini menjadi ruang untuk membahas hubungan antara koleksi, penciptaan karya, dan bagaimana seni membangun komunikasi lintas generasi. Pameran kemudian akan resmi dibuka oleh Daniel Ginting pada Sabtu, 20 Juni 2026. Kehadiran pameran ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem seni yang lebih terbuka di mana galeri, seniman, kolektor, dan masyarakat dapat bertemu dalam ruang dialog yang saling memperkaya. Melalui SAHAJA: Kala Rupa Bersua, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” menunjukkan bahwa seni selalu memiliki kehidupan yang melampaui ruang pamer. Ia tumbuh melalui hubungan, pengalaman, dan pertemuan manusia yang terus menciptakan makna baru. Pameran ini berlangsung pada 20 Juni – 20 Juli 2026 di Kiniko Art, Kalipakis, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta dan terbuka untuk publik.

“Rimpang Rasa, Narasi Rawan”: Dialog Antar Generasi Melalui Seni Read More »

dsf1718 copy small

Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial

Pembukaan Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency sekaligus menjadi momentum penyelenggaraan Tibubeneng Sustainable Art, sebuah pameran seni yang mengangkat isu lingkungan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dari pameran seni yang hanya berfokus pada estetika, program ini menghadirkan seni sebagai medium edukasi, dialog, dan upaya membangun kesadaran bersama terhadap persoalan lingkungan. Bagi Daniel Ginting, Founder Ginting Institute sekaligus kolektor seni, kehadiran WRQ sejak awal dirancang sebagai ruang yang tidak berhenti pada aktivitas seni semata. “Seni itu tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” ujar Daniel. Menurut Daniel, seni memiliki kemampuan untuk menjembatani berbagai kelompok masyarakat. Melalui ruang seperti WRQ, seniman, komunitas, intelektual, dan masyarakat dapat bertemu untuk membangun gagasan yang memiliki dampak lebih luas. Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Quoriena Ginting, kolektor seni yang memiliki perhatian besar terhadap warisan budaya Nusantara. Ia melihat bahwa karya seni yang berbicara tentang lingkungan bukan hanya persoalan visual, tetapi juga menjadi pengingat terhadap kondisi bumi. “Seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan bukan sekadar tampilan yang mengejar keindahan. Ada pesan yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, sadar, dan mengambil tindakan,” ungkap Quoriena. Salah satu bagian menarik dalam pameran ini adalah keterlibatan siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng. Melalui program edukasi lingkungan, para siswa mengikuti workshop Plasticology bersama seniman Made Bayak. Dalam proses tersebut, mereka belajar mengolah limbah plastik menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan. Karya-karya anak-anak tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan dapat dibangun melalui pengalaman kreatif. Banyak pengunjung mengapresiasi hasil karya siswa yang mampu menghadirkan visual kuat dari material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah. Di ruang galeri WRQ, pameran juga menghadirkan karya dari berbagai seniman lintas disiplin yang merespons isu lingkungan. Sejumlah seniman yang terlibat antara lain Made Wianta (alm.), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan. Sementara dari bidang seni kartun hadir Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, serta Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Pameran ini juga menampilkan karya fotografi dari Andang Iskandar dan Tjandra Hutama. Kurator pameran, Yudha Bantono, menjelaskan bahwa Tibubeneng Sustainable Art merupakan inisiatif yang mempertemukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan. “Pameran ini menjadi ruang dialog kreatif antara anak-anak, seniman, masyarakat desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran serta solusi nyata terhadap tantangan lingkungan,” ujar Yudha. Menurutnya, seni dapat menjadi alat transformasi sosial ketika dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Penggunaan material daur ulang, bahan ramah lingkungan, serta pendekatan kreatif menjadi cara untuk menghadirkan pesan keberlanjutan secara lebih mudah diterima publik. Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya melihat Tibubeneng Sustainable Art sebagai bentuk nyata kolaborasi berbagai pihak dalam menjawab persoalan lingkungan, khususnya isu sampah yang menjadi perhatian desa. “Melalui seni, budaya, dan kegiatan kreatif, masyarakat dapat lebih mudah diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” katanya. Pameran Tibubeneng Sustainable Art menghadirkan lebih dari 20 karya seni berupa lukisan, instalasi, kartun, hingga fotografi. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali. Melalui WRQ, Tibubeneng menunjukkan bahwa seni dapat mengambil peran lebih besar: bukan hanya sebagai ruang ekspresi, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan membangun kesadaran, kepedulian, dan masa depan lingkungan yang lebih baik.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial Read More »

dsf2087 copy small

Ginting Institute dan Desa Tibubeneng Resmikan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Ruang Kolaborasi Seni untuk Perubahan Sosial dan Lingkungan

Tibubeneng, Badung, Bali, 13 Juni 2026 — Ginting Institute bersama Pemerintah Desa Tibubeneng resmi membuka Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency (WRQ), sebuah ruang kolaborasi yang dirancang untuk mempertemukan seniman, masyarakat, generasi muda, dan berbagai komunitas dalam menciptakan perubahan melalui seni, budaya, pendidikan, dan kepedulian lingkungan. Kehadiran WRQ menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem seni yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat antara seni dan kehidupan masyarakat. Berlokasi di Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali, ruang ini hadir sebagai tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dan berbagai inisiatif sosial yang berorientasi pada keberlanjutan. Peresmian Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency sekaligus menjadi puncak dari rangkaian program Tibubeneng Sustainable Art, sebuah gerakan kolaboratif yang mengajak masyarakat untuk melihat persoalan lingkungan, khususnya sampah, melalui pendekatan seni dan pendidikan. Program ini berangkat dari pemahaman bahwa isu lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis. Dibutuhkan perubahan cara pandang dan kesadaran bersama yang dibangun sejak dini. Melalui seni, sampah tidak hanya dilihat sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga sebagai medium pembelajaran, ekspresi, dan refleksi terhadap hubungan manusia dengan alam. Pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, menyampaikan bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik. “Seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan mendorong tindakan. Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency hadir sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, masyarakat, dan berbagai gagasan yang dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Daniel. Berbeda dari ruang seni konvensional, WRQ dirancang sebagai ruang yang terbuka dan partisipatif. Selain menjadi tempat berkarya dan residensi seniman, WRQ akan menjadi pusat berbagai program edukasi, pengembangan komunitas, pelestarian budaya, serta inisiatif lingkungan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, mengatakan bahwa kolaborasi bersama Ginting Institute memperkuat komitmen desa dalam membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Menurutnya, pendekatan seni menjadi salah satu cara efektif untuk mengajak masyarakat terlibat karena pesan lingkungan dapat disampaikan melalui pengalaman kreatif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Ketika pesan lingkungan hadir melalui karya seni dan kegiatan kreatif, masyarakat dapat lebih mudah memahami dan merasakan relevansinya. Ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bersama, terutama bagi generasi muda,” katanya. Rangkaian Tibubeneng Sustainable Art sebelumnya dimulai melalui program edukasi lingkungan “Ayo Peduli Sampah” yang melibatkan siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng. Para siswa diperkenalkan pada pengelolaan sampah, prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace), pengolahan kompos, hingga pemahaman mengenai dampak limbah terhadap lingkungan. Program tersebut kemudian berkembang melalui workshop kreatif yang melibatkan seniman Bali dan Indonesia. Melalui workshop Plasticology bersama Made Bayak, peserta diajak memahami bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan. Selain itu, workshop kartun bersama Jango Pramartha memperkenalkan pendekatan visual storytelling, di mana isu lingkungan diterjemahkan melalui gambar dan narasi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Pada pembukaan WRQ, masyarakat dapat melihat hasil perjalanan kolaborasi tersebut melalui pameran karya yang melibatkan siswa SD Desa Tibubeneng bersama sejumlah seniman Bali dan Indonesia, antara lain Made Wianta, Made Bayak, Boy Andry, Jango Pramartha, Gus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky, Putu Dian Ujiana, Tjandra Hutama, dan Andang Iskandar. Karya-karya yang ditampilkan membawa berbagai refleksi mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah menjadi karya yang menghadirkan pesan tentang kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan. Ke depan, Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency akan terus mengembangkan berbagai program yang mempertemukan seni, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi bersama seniman, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat menjadikan Tibubeneng sebagai contoh bahwa seni dapat mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan. Melalui WRQ, seni tidak ditempatkan sebagai ruang eksklusif, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan persoalan di sekitarnya. Sebuah ruang yang menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi bagian dari solusi. Pameran Tibubeneng Sustainable Art terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali.

Ginting Institute dan Desa Tibubeneng Resmikan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Ruang Kolaborasi Seni untuk Perubahan Sosial dan Lingkungan Read More »