News

screenshot 2026 05 19 101207

Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM

Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia (YBBAI), Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, menilai kolaborasi dengan Ginting Institute menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan SMP-SMK Plus BLM di Lengkong, Tangerang Selatan. Kerja sama yang dimulai sejak 2018 itu dinilai tidak hanya membantu penguatan sistem sekolah, tetapi juga membuka peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia di kawasan tersebut. Farida menjelaskan, sekolah yang awalnya hanya berupa SMP kini telah berkembang menjadi SMP dan SMK dengan jumlah sekitar 350 siswa. Sekolah tersebut berdiri di kawasan Lengkong, wilayah yang memiliki nilai sejarah karena menjadi tempat perjuangan almarhum Prof. Subroto pada masa kemerdekaan Indonesia. “Komitmen kami sejak awal adalah melanjutkan amanah Pak Subroto untuk membangun kapasitas sumber daya manusia anak-anak di Lengkong,” ujar Farida dalam wawancara. Menurut dia, posisi Lengkong yang berada di kawasan industri Tangerang membuat pendidikan vokasi menjadi penting. Sekolah diharapkan mampu menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga siap mengisi kebutuhan dunia kerja di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Namun, Farida menegaskan bahwa pendidikan di SMP-SMK Plus BLM tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual. Yayasan juga menempatkan pembentukan karakter dan budi pekerti sebagai fondasi utama pendidikan. “Kami selalu menekankan bahwa anak-anak tidak hanya harus pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki adab dan fondasi moral yang kuat,” katanya. Dalam perjalanannya, pihak yayasan menyadari pengembangan sekolah membutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Di titik itulah kerja sama dengan Ginting Institute mulai dibangun. Meski sempat terhambat pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah program vakum hampir tiga tahun, Farida menilai hubungan kolaboratif tersebut kini mulai kembali berjalan dan menunjukkan hasil nyata. Salah satu kontribusi utama Ginting Institute, kata Farida, terlihat pada penguatan sistem administrasi dan tata kelola yayasan. Pendampingan dilakukan mulai dari operasional sekolah hingga pengelolaan administrasi dan keuangan. “Kami mendapatkan pendampingan dari profesional yang disediakan oleh Ginting Institute, sehingga tata kelola sekolah menjadi lebih efisien,” ujarnya. Selain tata kelola, Farida juga menyoroti perkembangan koperasi sekolah yang dibangun bersama Ginting Institute. Awalnya koperasi hanya berfungsi memenuhi kebutuhan internal sekolah, namun kini mulai berkembang menjadi unit dengan aset yang terus bertumbuh. “Kami sangat bangga dengan perkembangan koperasi ini. Sekarang bukan lagi sekadar koperasi kebutuhan sekolah, tetapi sudah mulai berkembang dengan baik dan punya potensi besar untuk terus dikembangkan,” katanya. Farida melihat Ginting Institute bukan sekadar mitra pendukung, tetapi partner strategis dalam membangun kualitas pendidikan di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan. Ia berharap kolaborasi ini dapat memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja. “Kami berharap kerja sama ini bisa memberikan manfaat yang nyata bagi pembangunan sumber daya manusia. Harapannya, anak-anak di Lengkong dan Tangerang Selatan bisa berkembang dan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih luas,” ujarnya. Bagi Farida, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu menciptakan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Read More »

expressing love mature mom

Menemukan Makna Kenaikan dalam Belas Kasih dan Kepedulian

Ada masa-masa dalam hidup ketika manusia merasa langit seolah lebih dekat. Bukan karena dunia berubah menjadi lebih ringan, melainkan karena batin perlahan diajak untuk melihat kehidupan dengan cara yang berbeda, lebih tenang, lebih jernih, dan lebih penuh kasih. Dalam keheningan itulah manusia sering menyadari bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam pencapaian besar, melainkan dalam cara seseorang memperlakukan sesamanya. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh kompetisi, banyak orang mengukur “ketinggian” hidup dari kekuasaan, pencapaian, atau seberapa jauh seseorang berhasil meninggalkan orang lain di belakangnya. Padahal, semakin dewasa seseorang memahami kehidupan, semakin terlihat bahwa yang benar-benar mengangkat manusia bukanlah kekuatan, melainkan kepedulian. Belas kasih memiliki cara kerja yang sunyi, tetapi kuat. Ia hadir dalam perhatian sederhana, dalam kemampuan mendengarkan, dalam kesediaan untuk tetap tinggal ketika orang lain sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Di sana, kemanusiaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Kehidupan modern sering kali membuat manusia terbiasa melihat segala sesuatu secara instan. Relasi menjadi cepat, empati menjadi tipis, dan perhatian sering kalah oleh kesibukan. Tidak sedikit orang akhirnya merasa sendirian di tengah keramaian. Di situ, nilai kasih dan kepedulian menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai sikap moral, tetapi sebagai kebutuhan sosial yang mendasar. Ada alasan mengapa banyak tradisi dan nilai spiritual selalu menempatkan cinta kasih sebagai inti kehidupan. Sebab manusia pada dasarnya tidak dibentuk hanya untuk hidup bagi dirinya sendiri. Kehidupan menjadi lebih bermakna ketika seseorang mampu hadir bagi orang lain, terutama dalam masa-masa sulit. Kebaikan yang paling tulus sering lahir bukan dari kelimpahan, tetapi dari kemampuan memahami rasa sakit orang lain. Mereka yang pernah melewati kehilangan, kegagalan, atau masa rapuh biasanya lebih mampu melihat luka yang tidak terlihat oleh banyak orang. Dari pengalaman itu, tumbuh kesadaran bahwa kekuatan sejati bukan tentang menjadi paling kuat, tetapi tentang tetap memiliki hati yang lembut di tengah kerasnya dunia. Dalam konteks inilah, “kenaikan” atau pertumbuhan manusia menemukan maknanya yang lebih dalam. Menjadi lebih tinggi bukan berarti menjauh dari kehidupan, melainkan semakin dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Semakin seseorang bertumbuh, seharusnya semakin besar pula kapasitasnya untuk memahami, merangkul, dan membantu orang lain. Nilai-nilai seperti ini terasa semakin relevan di tengah masyarakat yang kerap terpecah oleh perbedaan, tekanan ekonomi, hingga derasnya arus digital yang membuat banyak orang kehilangan koneksi emosional. Dunia tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang hebat. Kadang, yang paling dibutuhkan justru lebih banyak manusia yang mau peduli. Belas kasih juga bukan berarti kelemahan. Sebaliknya, dibutuhkan keberanian besar untuk tetap memilih menjadi baik ketika dunia sering memberi alasan untuk bersikap sebaliknya. Dibutuhkan keteguhan hati untuk tetap menjaga empati di tengah budaya yang semakin individualistis. Karena itu, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk “naik” dalam arti yang sesungguhnya. Bukan naik dalam status atau pengakuan, tetapi naik dalam kualitas hati dan cara memandang kehidupan. Dari sana, manusia belajar bahwa cinta yang paling bermakna adalah cinta yang mampu melampaui dirinya sendiri. Dan mungkin, di tengah segala ketidakpastian hidup hari ini, itulah hal yang paling penting untuk diingat: bahwa dunia akan selalu membutuhkan lebih banyak kasih, lebih banyak perhatian, dan lebih banyak manusia yang memilih hadir bagi sesamanya.

Menemukan Makna Kenaikan dalam Belas Kasih dan Kepedulian Read More »

w=1200

INABA dan BEI Jabar Dorong Literasi Investasi Inklusif, Ginting Institute Perkuat Pengembangan SMP-SMK Plus BLM

Di tengah meningkatnya kebutuhan literasi keuangan di era digital, Universitas Indonesia Membangun (INABA) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat menggelar workshop pasar modal bertajuk “Smart Investing, Inclusive Future: Mewujudkan Investor Tanpa Batas”. Kegiatan ini tak hanya menjadi ruang edukasi investasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas institusi dapat membuka akses pengetahuan finansial yang lebih inklusif bagi masyarakat, termasuk komunitas penyandang disabilitas. Workshop yang diikuti komunitas disabilitas BILIC Bandung itu berlangsung dengan pendekatan yang praktis dan partisipatif. Para peserta diperkenalkan pada dasar-dasar investasi saham, mekanisme pasar modal, pengelolaan risiko, hingga pentingnya mengenali investasi legal di tengah maraknya penipuan finansial digital. Rektor INABA, Mochammad Mukti Ali, mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk memperluas akses pendidikan dan literasi keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. “Melalui kegiatan ini, INABA ingin menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan memberdayakan. Literasi investasi harus dapat diakses oleh siapa saja tanpa batas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen INABA dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya fokus pada aspek akademik, INABA juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan dan sosial. Salah satu mitra yang turut memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan adalah SMP-SMK Plus BLM. Dalam pengembangannya, sekolah yang berada di bawah Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia itu mendapatkan pendampingan dari Ginting Institute, khususnya dalam penguatan tata kelola institusi dan pengembangan sistem administrasi sekolah. Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia, Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, sebelumnya menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Ginting Institute telah membantu sekolah berjalan lebih efisien, baik dalam operasional maupun pengelolaan administrasi dan keuangan. Pendampingan profesional yang diberikan dinilai penting untuk memperkuat fondasi sekolah dalam jangka panjang. Selain itu, Ginting Institute juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi sekolah melalui koperasi yang kini berkembang lebih baik dibanding sebelumnya. Menurut Farida, kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas pendidikan bagi siswa di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan. Di sisi lain, workshop literasi investasi yang digelar INABA bersama BEI Jabar menunjukkan bahwa isu inklusivitas dalam pendidikan dan ekonomi semakin mendapat perhatian serius. Perwakilan BEI Jawa Barat, Adnan Bahalwan, menegaskan bahwa pertumbuhan investor nasional harus diiringi dengan pemerataan akses edukasi finansial. “Pasar modal Indonesia harus menjadi ruang yang terbuka dan inklusif. Komunitas disabilitas memiliki potensi besar untuk menjadi investor yang cerdas dan mandiri,” katanya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta dari komunitas disabilitas aktif berdiskusi mengenai strategi investasi dan peluang membangun kemandirian ekonomi melalui pasar modal. Zulhamka Julianto Kadir dari komunitas BILIC Bandung mengaku pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan tentang investasi digital. “Untuk teman-teman disabilitas, investasi bisa menjadi peluang penghasilan tanpa harus banyak melakukan aktivitas mobile. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, INABA kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dukungan pengembangan institusi pendidikan seperti SMP-SMK Plus BLM bersama Ginting Institute, memperlihatkan bahwa pendidikan, literasi finansial, dan inklusivitas dapat berjalan beriringan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih kuat dan berdaya saing.

INABA dan BEI Jabar Dorong Literasi Investasi Inklusif, Ginting Institute Perkuat Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Read More »

education concept student studying brainstorming campus concept close up students discussing their subject books textbooks selective focus

Saat Pendidikan Membentuk Pilihan, Bukan Sekadar Pikiran

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba terukur, pendidikan sering kali direduksi menjadi angka, nilai, peringkat, dan capaian akademik. Kita diajarkan untuk menguasai materi, memahami teori, dan mengejar prestasi. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita pelajari, melainkan bagaimana proses itu membentuk siapa diri kita. Belajar tidak selalu hadir dalam ruang kelas yang formal. Ia juga hidup dalam momen-momen yang nyaris tak terlihat dalam percakapan singkat, dalam pilihan kecil yang kita ambil setiap hari, dalam cara kita merespons situasi yang tidak nyaman. Di sanalah nilai-nilai perlahan ditulis dalam diri kita. Bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai kebiasaan. Pendidikan, pada dasarnya, adalah proses menjadi. Ia tidak berhenti pada kemampuan berpikir, tetapi bergerak lebih jauh: pada kemampuan untuk memilih dengan kesadaran. Apa yang kita katakan, bagaimana kita bertindak, dan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil, semuanya adalah hasil dari apa yang kita pelajari, baik secara sadar maupun tidak. Di titik inilah, pendidikan bertemu dengan etika. Pengetahuan yang tidak disertai kesadaran berisiko kehilangan maknanya. Ia bisa menjadi alat, tetapi tidak selalu menjadi arah. Seseorang mungkin tahu apa yang benar, tetapi tanpa kepekaan batin, pengetahuan itu tidak selalu diwujudkan dalam tindakan. Maka, pendidikan yang utuh seharusnya tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kepekaan moral. Kita hidup di zaman di mana informasi tersedia tanpa batas. Apa pun bisa dipelajari dengan cepat. Namun, kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakan pengetahuan dengan bijak justru menjadi semakin penting. Di tengah banjir informasi, kesadaran menjadi kompas yang menentukan arah. Setiap pilihan yang kita ambil, sekecil apa pun, memiliki dampak. Ia membentuk cara kita melihat dunia, sekaligus membentuk dunia itu sendiri. Ketika seseorang memilih untuk bertindak dengan jujur, menghargai orang lain, atau mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, ia tidak hanya membentuk dirinya, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, pendidikan adalah proses yang bersifat relasional. Ia tidak hanya terjadi di dalam diri, tetapi juga tercermin dalam hubungan kita dengan orang lain. Cara kita memperlakukan sesama, cara kita merespons perbedaan, hingga cara kita menghadapi tantangan, semuanya adalah cerminan dari proses belajar yang kita jalani. Belajar, dalam pengertian ini, bukan hanya tentang menjadi lebih pintar, tetapi menjadi lebih manusiawi. Ia mengajak kita untuk tumbuh tidak hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam empati. Tidak hanya dalam kemampuan, tetapi juga dalam tanggung jawab. Pendidikan yang sejati tidak menciptakan individu yang hanya kompeten, tetapi juga individu yang sadar akan perannya di tengah masyarakat. Mungkin, di situlah letak makna pendidikan yang sebenarnya. Bukan pada apa yang kita kuasai, tetapi pada bagaimana kita memilih untuk menjadi. Bukan pada seberapa banyak yang kita tahu, tetapi pada bagaimana kita menggunakan pengetahuan itu untuk kebaikan. Karena pada akhirnya, pendidikan bukanlah tujuan akhir. Ia adalah perjalanan yang terus berlangsung, membentuk, mengarahkan, dan mengingatkan kita bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah bagian dari proses menjadi manusia yang utuh. Dan dalam setiap pilihan itu, dunia perlahan ikut terbentuk.

Saat Pendidikan Membentuk Pilihan, Bukan Sekadar Pikiran Read More »

image

Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni

Upaya membangun kesadaran lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Di Desa Tibubeneng, Bali, langkah itu justru dimulai dari ruang yang paling mendasar: pendidikan anak-anak dan keterlibatan komunitas. Pada pertengahan April 2026 Founder sekaligus Pembina Ginting Institute, Daniel Ginting, bersama Quoriena Ginting melakukan kunjungan ke Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency di Tibubeneng. Kunjungan ini bukan sekadar agenda institusional, melainkan bagian dari upaya merancang kolaborasi yang berfokus pada satu isu krusial: penanganan sampah berbasis kesadaran sejak usia dini. Wija Reksa Quoriena, direncanakan menjadi pusat aktivitas seni budaya dan pertukaran gagasan lintas disiplin berbasis etika pendidikan. Dalam pertemuan bersama Kepala Desa Tibubeneng, Made Kamajaya, arah kolaborasi mulai difokuskan pada bagaimana edukasi dapat menjadi fondasi perubahan. Desa yang setiap hari menerima ribuan wisatawan ini menghadapi tantangan nyata dalam pengelolaan sampah, di tengah pertumbuhan kawasan yang semakin pesat. Pertemuan ini juga menjadi momentum awal untuk membangun sinergi antara komunitas kreatif dan pemerintah desa dalam menjadikan art hub sebagai ruang inkubasi ide yang mengintegrasikan seni, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Selama ini, berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah desa, mulai dari pembangunan ribuan lubang biopori hingga sistem pengelolaan sampah berbasis banjar dengan melibatkan Karang Taruna. Namun, seperti disadari bersama, solusi teknis saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku. Pemerintah desa juga menetapkan tiga fokus utama: pengurangan sampah, pencegahan kriminalitas, dan penguraian kemacetan, dengan isu sampah sebagai prioritas paling mendesak. Di titik inilah pendekatan Ginting Institute menjadi relevan. Alih-alih melihat sampah semata sebagai persoalan lingkungan, Ginting Institute menghubungkannya dengan praktik seni dan pendidikan. Sampah dipandang sebagai medium, sebuah pintu masuk untuk membangun kesadaran melalui pengalaman langsung. Program yang dirancang bersama pemerintah desa akan menyasar siswa sekolah dasar di Tibubeneng, dengan pendekatan berbasis pembelajaran aktif. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada jenis-jenis sampah dan dampaknya, tetapi juga diajak untuk terlibat dalam proses kreatif yaitu mengolah, memahami, dan memberi makna baru pada limbah yang mereka temui sehari-hari. Untuk memperkuat pendekatan ini, sejumlah seniman akan dilibatkan secara langsung. Seniman Bali Made Bayak akan menghadirkan praktik pengolahan limbah plastik menjadi karya seni, sementara Jango Pramartha bersama Bog Komunikartun akan mengembangkan workshop visual berbasis kartun yang lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh anak-anak. Keterlibatan ini juga diperkuat oleh partisipasi Ari Wiranata dan Ida Bagus Surya, memperluas eksplorasi seni sebagai medium edukasi sekaligus ruang dialog antara generasi muda, lingkungan, dan praktik artistik kontemporer. Kolaborasi ini menjadi jembatan antara edukasi lingkungan dan praktik seni. Kesadaran tentang sampah tidak hanya diajarkan, tetapi diterjemahkan menjadi karya bersama antara seniman, siswa, dan pemuda desa, sebagai bagian dari proses pembelajaran. Melalui workshop dan pelatihan, generasi muda desa diharapkan menjadi penggerak yang mampu meneruskan edukasi ini di tingkat komunitas. Pendekatan ini juga menempatkan seni bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat. Alat untuk membangun kesadaran, membuka dialog, dan menciptakan pengalaman yang membekas. Dari proses tersebut, nilai tidak diajarkan secara teoritis, tetapi dialami secara langsung. Bagi Daniel Ginting, Wija Reksa Quoriena ini tidak hanya menjadi ruang produksi karya, tetapi ruang bersama bagi masyarakat untuk belajar, berekspresi, dan berkembang secara kolektif, sekaligus memperkuat identitas Tibubeneng sebagai destinasi seni budaya yang hidup dan dinamis di kawasan Kuta Utara. Rangkaian kolaborasi ini juga memiliki fase lanjutan yang penting. Karya-karya hasil workshop yang melibatkan seniman, siswa, dan komunitas, direncanakan akan dipamerkan di acara pembukaan Wija Reksa Quoriena, Art Hub & Residency. Selain itu, karya-karya tersebut juga akan hadir di sejumlah hotel dan restoran di Desa Tibubeneng, membawa pesan lingkungan ke ruang publik yang lebih luas. Langkah ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga strategi untuk memperluas dampak. Isu sampah tidak lagi berhenti di ruang edukasi, tetapi masuk ke ruang-ruang yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem pariwisata. Di balik seluruh inisiatif ini, ada pendekatan yang sederhana: seni perlu lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seniman, kolektor, dan galeri tidak hanya hadir di ruang-ruang pamer yang eksklusif, tetapi juga terlibat langsung dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Melalui Wija Reksa Quoriena, kolaborasi ini membuka ruang bagi seniman untuk berinteraksi, memahami isu di lapangan, dan berkarya bersama komunitas. Bukan berjalan sendiri, tetapi tumbuh bersama. Di Tibubeneng, seni bisa hadir di tengah masyarakat, menjadi bagian dari solusi, dan membangun kesadaran yang lebih luas. Wija Reksa Quoriena menjadi ruang yang saling menguatkan, mempertemukan pendidikan, lingkungan, dan praktik kreatif. Ke depan, Wija Reksa Quoriena dan Desa Tibubeneng diharapkan menjadi ruang kolaborasi terbuka yang inklusif, melibatkan pelaku kreatif nasional dan internasional, serta pihak korporasi yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan budaya. Jika dijalankan secara konsisten, langkah ini tidak hanya berdampak pada pengelolaan sampah, tetapi juga membentuk cara pandang baru bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan mungkin, dari sana, perubahan yang lebih besar akan tumbuh.

Ginting Institute x Desa Tibubeneng: Menumbuhkan Etika Kebersihan dan Kepedulian Sosial Anak-Anak melalui Edukasi berbasis Seni Read More »

3d rendering planet earth

Mengingat Kembali Tanggung Jawab Kita pada Kehidupan

Setiap pagi, sebelum dunia menjadi bising oleh aktivitas manusia, bumi sebenarnya telah lebih dulu berbicara. Ia hadir melalui cahaya yang perlahan menyentuh permukaan, melalui udara yang bergerak lembut, melalui suara yang sering kali tidak kita sadari. Ada pesan sederhana yang berulang setiap hari: bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang hidup. Namun, dalam ritme kehidupan yang semakin cepat, kita kerap lupa untuk mendengarkan. Bumi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya memberi tanpa jeda, tanpa syarat. Dari tanah yang kita pijak, air yang kita minum, hingga udara yang kita hirup, semuanya adalah bentuk keberlanjutan yang selama ini menopang kehidupan. Tetapi justru karena ia selalu hadir, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang tetap, sesuatu yang tidak akan berubah. Padahal, tidak ada yang benar-benar permanen. Dalam kejernihan air, kita bisa melihat betapa rapuhnya kehidupan ketika keseimbangan mulai terganggu. Sungai yang dulunya jernih perlahan berubah, hutan yang dahulu lebat mulai kehilangan napasnya, dan udara yang seharusnya memberi kehidupan justru menjadi ancaman. Semua itu bukan terjadi dalam semalam, tetapi akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang kita anggap sepele. Setiap langkah yang kita ambil hari ini, sesungguhnya sedang membentuk masa depan. Bumi menyimpan ingatan yang panjang. Ia merekam jejak hujan, akar yang tumbuh, dan kehidupan yang pernah ada sebelum kita. Dalam setiap genggaman tanah, ada cerita tentang keberlanjutan tentang bagaimana generasi sebelumnya menjaga, merawat, dan mewariskan kehidupan. Kini, kita berada di titik yang sama: menjadi penentu apakah rantai itu akan terus berlanjut atau terputus. Merawat bumi bukanlah tindakan besar yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang. Ia dimulai dari kesadaran sederhana dari cara kita menggunakan, dari cara kita menghargai, dari cara kita memilih untuk tidak merusak. Ia adalah praktik sehari-hari, bukan sekadar perayaan tahunan. Hari Bumi mengingatkan kita bahwa kepedulian tidak bisa ditunda sampai kondisi menjadi sempurna. Ia hadir sebagai panggilan untuk kembali. Kembali melihat, kembali merasakan, dan kembali memahami bahwa hubungan kita dengan alam bukan hubungan satu arah. Apa yang kita ambil, akan kembali dalam bentuk lain. Apa yang kita abaikan, suatu saat akan menjadi konsekuensi. Ada tanggung jawab yang melekat dalam setiap keberadaan kita sebagai manusia. Bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk menjaga kehidupan itu sendiri. Tanggung jawab untuk memastikan bahwa generasi yang datang setelah kita masih memiliki ruang yang layak untuk tumbuh. Dalam konteks ini, menjaga bumi bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal etika. Etika tentang bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang tidak bisa berbicara dengan bahasa kita, tetapi tetap memberi kehidupan. Etika tentang bagaimana kita menempatkan diri, tidak sebagai pusat, tetapi sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Mungkin, yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit. Cukup mulai dengan mendengarkan kembali. Mendengarkan cahaya pagi, mendengarkan aliran air, mendengarkan perubahan yang perlahan terjadi di sekitar kita. Karena dari sanalah kesadaran tumbuh. Dan dari kesadaran itulah, tindakan yang lebih bijak akan lahir. Hari ini, biarlah menjadi pengingat. Bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi rumah yang kita bagi bersama. Bahwa merawatnya bukan pilihan, tetapi tanggung jawab yang tidak bisa dihindari. Dan bahwa masa depan, pada akhirnya, ditentukan oleh bagaimana kita memilih untuk hidup hari ini.

Mengingat Kembali Tanggung Jawab Kita pada Kehidupan Read More »

kartini]

Kartini dan Cahaya yang Terus Diteruskan

Ada momen-momen dalam sejarah yang tidak lahir dari suara yang keras, tetapi dari keberanian yang tumbuh perlahan, tenang, namun mengubah arah. Perjuangan Raden Ajeng Kartini adalah salah satunya. Ia tidak berdiri di garis depan dengan sorak-sorai, tetapi menyalakan sesuatu yang jauh lebih dalam: kesadaran. Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar hak, melainkan jalan untuk memanusiakan manusia. Di tengah keterbatasan yang membatasi ruang gerak perempuan pada masanya, ia berani membayangkan dunia yang berbeda. Dunia di mana perempuan memiliki suara, pilihan, dan martabat yang setara. Perjuangan itu dimulai dari sesuatu yang sederhana dari pikiran yang tidak mau berhenti bertanya. Dari keberanian untuk menulis ketika banyak yang memilih diam. Dari keyakinan bahwa masa depan bisa dibentuk, bahkan ketika keadaan seolah tidak memberi ruang. Dalam surat-suratnya, Kartini tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi tentang generasi yang belum lahir. Ia menanamkan gagasan bahwa pendidikan adalah cahaya, sesuatu yang tidak hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain. Etika, dalam konteks ini, tidak hadir sebagai konsep yang abstrak. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan dengan kesadaran. Kartini menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk perlawanan yang keras. Ia bisa hadir dalam keteguhan untuk tetap berpikir, tetap belajar, dan tetap menyuarakan apa yang diyakini benar. Di tengah dunia yang sering menuntut keseragaman, Kartini memilih untuk berbeda. Ia tidak menolak tradisi secara frontal, tetapi meresponsnya dengan cara yang lebih halus melalui pemikiran, refleksi, dan tulisan. Di sanalah kekuatannya berada: pada kemampuannya mengubah keheningan menjadi gerakan. Warisan Kartini tidak berhenti pada zamannya. Ia bergerak, mengalir, dan menjelma dalam berbagai bentuk di generasi berikutnya. Setiap perempuan yang berani melanjutkan pendidikan, setiap suara yang memilih untuk tidak dibungkam, adalah bagian dari perjalanan panjang yang ia mulai. Namun, relevansi Kartini hari ini tidak hanya berbicara tentang perempuan. Ia berbicara tentang nilai. Tentang bagaimana integritas dibangun dari keberanian untuk tetap setia pada apa yang diyakini, bahkan ketika tidak mudah. Tentang bagaimana perubahan tidak selalu datang dengan cepat, tetapi tumbuh dari konsistensi. Dalam dunia yang semakin kompleks, makna pendidikan juga terus berkembang. Ia bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang cara kita memahami, merasakan, dan merespons kehidupan. Pendidikan menjadi ruang untuk membentuk karakter tempat di mana etika, empati, dan tanggung jawab bertumbuh bersama. Kartini mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu terlihat dalam dominasi. Ia hadir dalam kemampuan untuk membuka jalan bagi orang lain. Dalam kesediaan untuk berbagi cahaya, bukan hanya menyimpannya untuk diri sendiri. Hari ini, ketika kita memperingati Hari Kartini, yang sebenarnya kita rayakan bukan hanya sosoknya, tetapi nilai yang ia wariskan. Nilai tentang keberanian untuk berpikir, tentang pentingnya pendidikan, dan tentang tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang lebih adil bagi semua. Karena pada akhirnya, perjuangan Kartini bukan tentang masa lalu. Ia adalah tentang masa kini dan masa depan yang masih terus kita bangun bersama.

Kartini dan Cahaya yang Terus Diteruskan Read More »

thumbnail pak sendy (1)

Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, ruang publik kian dipenuhi oleh narasi yang sering kali menjauh dari nilai etika dan integritas. Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi lahirnya Ginting Institute, sebuah yayasan yang didirikan oleh Daniel Ginting bersama Kiky Pulungan, dengan satu tujuan utama: mengembalikan etika sebagai fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. “Ginting Institute kami dirikan untuk mempromosikan etika dan integritas di berbagai bidang kehidupan, khususnya pendidikan, seni, dan budaya,” ujar Daniel Ginting dalam wawancara khusus. Menurut Daniel, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin sempitnya ruang untuk membicarakan etika secara terbuka. Diskursus tentang nilai sering kali terbatas hanya di ruang-ruang privat, rumah ibadah, keluarga, atau forum tertutup. Padahal etika seharusnya menjadi bagian dari percakapan publik yang hidup dan relevan. “Kita melihat bahwa masyarakat semakin sering dipertontonkan hal-hal yang jauh dari etika dan integritas. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang terbuka di mana nilai-nilai ini bisa dibicarakan, dipertanyakan, dan diperkuat bersama,” jelasnya. Bagi Ginting Institute, etika bukan sekadar konsep normatif. Ia adalah praktik yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dalam cara bekerja, berinteraksi, hingga dalam proses pengambilan keputusan. Pilihan untuk fokus pada sektor pendidikan bukan tanpa alasan. Daniel meyakini bahwa pendidikan adalah titik paling strategis untuk menanamkan nilai etika dan integritas sejak dini. “Ketika etika dibangun sejak masa sekolah, itu akan menjadi bekal ketika mereka kelak menjadi pemimpin,” katanya. Salah satu contoh konkret adalah pendampingan yang dilakukan Ginting Institute terhadap Sekolah BLM. Selama tujuh tahun, yayasan ini terlibat dalam proses pembenahan manajemen sekolah, peningkatan kualitas pengajaran, hingga penguatan sistem internal. Hasilnya mulai terlihat. Pada akhir 2025, sekolah yang sebelumnya menghadapi berbagai tantangan berhasil meraih akreditasi A, sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga keberhasilan dalam membangun budaya disiplin dan nilai. “Pendampingan kami tidak hanya di level manajemen, tetapi juga menyentuh guru dan pengurus yayasan. Ini adalah kerja kolektif,” tambah Daniel. Memasuki tahun 2026, Ginting Institute mulai memperluas cakupan programnya dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan lintas sektor. Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan adalah kampanye kesadaran lingkungan terkait penanganan sampah, yang akan dilakukan di desa Tibubeneng Bali. Menariknya, program ini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga menggabungkan unsur seni dan pendidikan. Ginting Institute akan bekerja sama dengan para seniman untuk mengajak siswa SD dan karang taruna serta komunitas dalam mengolah sampah menjadi karya kreatif. Ginting Institute bekerjasama dengan desa Tibubeneng juga menyiapkan bahan ajar kesadaran penanganan sampah bagi siswa sekolah. “Kami ingin mengkombinasikan etika, kesadaran lingkungan, seni, dan pendidikan. Hasil karya anak-anak nanti akan dipamerkan di galeri maupun hotel,” jelas Daniel. Pendekatan ini menunjukkan bahwa etika tidak berdiri sendiri. Ia dapat hadir dalam berbagai bentuk termasuk melalui ekspresi kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tahun 2026 dipandang sebagai fase penting bagi Ginting Institute. Dengan kepemimpinan eksekutif direktur yang baru, Daniel berharap yayasan ini dapat bergerak lebih luas dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat. “Kami berharap ini menjadi kebangkitan baru. Kami ingin lebih banyak pihak terlibat dalam mengkampanyekan pentingnya etika dan integritas,” ujarnya. Bagi Daniel, membangun bangsa tidak hanya soal pembangunan fisik atau ekonomi. Lebih dari itu, ia adalah proses membangun peradaban yang hanya bisa bertahan jika ditopang oleh nilai. Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan sederhana namun tegas:“Tetap semangat membangun Indonesia.” Di tengah tantangan zaman, Ginting Institute hadir bukan hanya sebagai lembaga, tetapi sebagai pengingat bahwa etika dan integritas bukan nilai yang usang, melainkan fondasi yang justru semakin relevan untuk masa depan.

Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman Read More »

foto anak stc

Ketika Dunia Terhenti, Pendidikan Harus Tetap Berjalan

Di tengah situasi krisis, ada satu hal yang hampir selalu menjadi korban pertama: pendidikan. Sekolah ditutup, ruang belajar terhenti, dan anak-anak dipaksa menunda proses yang seharusnya menjadi fondasi masa depan mereka. Padahal, justru dalam kondisi paling genting, pendidikan menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Realitas ini yang mendorong berbagai pihak untuk tidak tinggal diam. Bukan sekadar menjaga agar sistem tetap berjalan, tetapi memastikan bahwa proses belajar tetap hadir dalam bentuk yang relevan, aman, dan manusiawi. Di sinilah kolaborasi lintas sektor memainkan peran penting, menghadirkan solusi yang tidak selalu ideal, tetapi cukup untuk menjaga harapan tetap hidup. Di wilayah seperti Aceh dan Sumatera Utara, upaya pemulihan pendidikan mulai menunjukkan bentuk yang nyata. Anak-anak kembali belajar, meski bukan di ruang kelas yang sempurna. Ruang belajar sementara didirikan, kegiatan pembersihan sekolah dilakukan, dan perlengkapan belajar didistribusikan untuk memastikan proses pendidikan tidak sepenuhnya terhenti. Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia bukan hanya soal mengembalikan aktivitas belajar, tetapi juga memulihkan rasa aman, rutinitas, dan kepercayaan diri anak-anak yang terdampak situasi krisis. Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi sekadar soal kurikulum atau pencapaian akademik. Ia berubah menjadi ruang pemulihan baik secara emosional maupun sosial. Anak-anak tidak hanya belajar membaca atau berhitung, tetapi juga belajar kembali merasa aman, terhubung, dan memiliki harapan. Namun, menjaga keberlangsungan pendidikan dalam situasi darurat tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur. Peran guru dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi kunci. Mereka berada di garis depan, memastikan bahwa proses belajar tetap berjalan, bahkan dalam keterbatasan. Melalui pendekatan Training of Trainers, para guru dan tenaga pendidikan diberikan dukungan untuk menghadapi situasi yang tidak biasa. Mereka dilatih untuk mengajar dengan pendekatan yang lebih fleksibel, adaptif, dan sensitif terhadap kondisi psikologis anak-anak. Pendekatan ini menekankan tiga hal utama: fleksibilitas, keamanan, dan dukungan psikososial. Fleksibilitas diperlukan agar proses belajar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang terus berubah. Keamanan menjadi prioritas, karena tanpa rasa aman, proses belajar tidak akan pernah efektif. Sementara itu, dukungan psikososial menjadi fondasi untuk memastikan bahwa anak-anak tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga siap secara mental. Di balik semua itu, ada satu kesadaran yang semakin menguat: pendidikan bukan sekadar sistem, tetapi komitmen etis. Ia menyangkut tanggung jawab kolektif untuk menjaga martabat manusia, terutama mereka yang paling rentan. Bagi Ginting Institute, keterlibatan dalam pemulihan pendidikan bukan hanya bagian dari program kerja, tetapi juga refleksi dari nilai yang mereka pegang. Pendidikan dilihat sebagai ruang untuk merawat, melindungi, dan mempersiapkan masa depan bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk masyarakat secara luas. Ketika pendidikan dijaga, yang sebenarnya sedang dilindungi adalah masa depan itu sendiri. Di tengah dunia yang kerap tidak pasti, satu hal menjadi jelas: belajar tidak harus menunggu kondisi sempurna. Justru dalam keterbatasan, pendidikan menemukan makna yang paling mendasar sebagai upaya untuk tetap bertahan, tetap tumbuh, dan tetap percaya bahwa masa depan layak diperjuangkan. Foto-foto: Save The Children

Ketika Dunia Terhenti, Pendidikan Harus Tetap Berjalan Read More »

img 7833 small

Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi

Di tengah geliat pameran seni yang kian padat di ibu kota, pembukaan Living Eden di Neo Gallery, Jakarta, Sabtu (4/4/2026), datang dengan nada yang sedikit berbeda. Ia bukan sekadar peristiwa estetika, tetapi juga menyentuh satu isu yang kerap dihindari: lemahnya ekosistem seni rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Anna Sungkar. Founder Ginting Institute, Daniel Ginting, yang membuka pameran tersebut, secara terbuka menyinggung persoalan yang selama ini berulang, kualitas karya seniman Indonesia diakui, tetapi belum sepenuhnya ditopang oleh sistem yang kuat. Pameran Living Eden sendiri mengangkat tema alam sebagai ruang estetika, emosional, dan spiritual. Namun di balik narasi tersebut, terselip upaya untuk menarik percakapan yang lebih luas: bagaimana seni diposisikan dalam konteks budaya, ekonomi, dan bahkan etika. Pameran ini mempertemukan karya maestro seperti Affandi, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Dullah, hingga Basoeki Abdullah dengan generasi seniman kontemporer. Nama-nama seperti Akbar Linggaprana, Putu Sutawijaya, Siont Teja, Tommy F. Awuy, serta Susilo Bambang Yudhoyono hadir membawa pendekatan yang beragam. Di luar itu, kehadiran Bambang Sudarto, Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Ni Nyoman Sani, P. Lanny Andriani, Pardoli Fadli, Prabu Perdana, R.E. Hartanto, dan Syakieb Sungkar memperlihatkan bahwa secara praktik, seni rupa Indonesia tidak kekurangan energi kreatif. Data Pasar: Vietnam Melaju, Indonesia Tertahan Dalam pidatonya, Daniel mengungkapkan data pasar lelang internasional (Christie’s dan Sotheby’s dari tahun 2020 hingga 2025 ) menunjukkan bahwa Vietnam dalam beberapa tahun terakhir mampu melampaui Indonesia dalam hal konsistensi nilai dan pertumbuhan harga karya. Perbandingan ini bukan hal baru, tetapi jarang disampaikan secara terbuka di ruang publik seni. Vietnam dinilai berhasil membangun ekosistem yang lebih terintegrasi dari galeri, kurator, hingga kolektor yang bekerja dalam satu arah. Sementara Indonesia masih cenderung berjalan parsial, dengan ketergantungan besar pada nama-nama besar masa lalu. Ekosistem: Kata Kunci yang Terlalu Lama Diulang Isu ekosistem bukan hal baru dalam diskursus seni rupa Indonesia. Namun, sebagaimana terlihat dalam berbagai momentum, isu ini sering berhenti pada wacana. Salah satu poin yang mengemuka adalah peran galeri. Dalam praktiknya, relasi antar galeri di Indonesia masih kerap diwarnai kompetisi yang tidak produktif. Alih-alih membangun kolaborasi, tidak sedikit galeri yang justru berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling berebut pasar atau menjatuhkan satu sama lain. Pola ini, secara tidak langsung, menghambat pertumbuhan ekosistem yang sehat dan ini menjadi tantangan Galeri untuk saling berkolaborasi, karena biar bagaimana pun dalam ekosistem seni, galeri menjadi simpul penting yang menghubungkan seniman, kolektor, dan publik. Ginting Institute, dalam konteks ini, mencoba mendorong agar percakapan tersebut bergerak ke arah yang lebih konkret. Bukan hanya melalui diskusi, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam pendidikan, kolaborasi lintas sektor, dan dukungan terhadap ruang-ruang seni. Pendekatan ini menempatkan seni tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan pendidikan, nilai, dan pembentukan kesadaran publik. Persoalan lain yang disorot adalah jarak antara seni dan masyarakat. Seni rupa masih kerap diposisikan sebagai ruang eksklusif baik secara akses maupun pemahaman. Padahal, tanpa basis publik yang kuat, pasar domestik sulit berkembang. Daniel menegaskan bahwa seni harus kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dinikmati oleh kolektor atau kalangan terbatas, tetapi juga dipahami oleh masyarakat luas. Living Eden: Simbol atau Awal? Dalam konteks itu, Living Eden bisa dibaca sebagai dua hal sekaligus: simbol dan peluang. Simbol, karena ia menunjukkan bahwa dialog lintas generasi masih hidup. Peluang, karena ia membuka ruang untuk percakapan yang lebih jujur tentang kondisi seni rupa Indonesia hari ini. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah momentum seperti ini akan berlanjut menjadi gerakan yang lebih sistematis, atau kembali berhenti sebagai peristiwa? Pameran akan berlangsung hingga 25 April 2026. Selebihnya, pekerjaan rumah tetap ada. Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: seni rupa Indonesia tidak kekurangan talenta, tidak kekurangan sejarah, bahkan tidak kekurangan perhatian. Yang masih dicari adalah satu hal yang paling mendasar adalah ekosistem yang benar-benar bekerja.

Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi Read More »