News

Empati X 1024x683

Empati di Tengah Dunia yang Semakin Bising

Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara. Telepon genggam memberi kita kamera, media sosial memberi kita panggung, dan algoritma memberi kita kemungkinan untuk didengar oleh orang yang bahkan tidak pernah kita kenal. Sebuah opini dapat menyebar dalam hitungan menit, sebuah komentar dapat memicu perdebatan panjang, dan satu potongan video dapat membuat seseorang dinilai oleh ribuan orang yang tidak pernah bertemu dengannya. Kesempatan untuk bersuara tentu merupakan bagian penting dari masyarakat yang terbuka dan kehidupan demokratis. Namun, di tengah semakin banyaknya suara, ada satu kemampuan yang justru semakin penting sekaligus semakin sulit dilakukan: mendengarkan. Kita sering membaca bukan untuk memahami, melainkan untuk mencari alasan mengapa kita tidak setuju. Kita mendengar pendapat orang lain sambil menyiapkan jawaban. Di media sosial, kita bahkan dapat merasa telah memahami seseorang hanya dari beberapa detik video atau satu unggahan. Padahal, manusia hampir selalu lebih kompleks daripada apa yang terlihat di layar. Di balik sebuah pendapat terdapat pengalaman. Di balik kemarahan mungkin ada kekecewaan yang tidak kita ketahui. Di balik sebuah pilihan terdapat latar belakang yang mungkin tidak pernah kita alami sendiri. Apa yang terlihat sederhana bagi kita dapat memiliki arti yang sangat berbeda bagi orang lain. Di sinilah empati menjadi penting. Empati bukan berarti selalu mengatakan bahwa orang lain benar. Empati juga bukan kewajiban untuk menyetujui semua pendapat. Empati adalah kesediaan untuk mencoba memahami apa yang dirasakan atau dilihat seseorang dari tempat mereka berdiri. Kita dapat memahami seseorang tanpa menyetujui tindakannya. Kita dapat memahami alasan seseorang tanpa menerima seluruh pandangannya. Bahkan setelah mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kita tetap boleh tidak setuju. Justru kemampuan untuk tetap berpikir kritis sambil berusaha memahami orang lain membuat empati memiliki nilai yang lebih dalam. Dalam masyarakat yang terdiri dari beragam latar belakang, perbedaan tidak mungkin dihilangkan. Kita berbeda dalam pengalaman, pendidikan, budaya, cara berpikir, dan kepentingan. Tantangannya bukan bagaimana membuat semua orang menjadi sama, melainkan bagaimana kita belajar hidup bersama di tengah perbedaan. Kita bisa tidak setuju tanpa bermusuhan. Kita dapat mengkritik gagasan tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya. Kita dapat mempertahankan keyakinan tanpa menganggap mereka yang berbeda sebagai ancaman. Karena itu, mendengar dan mendengarkan bukanlah hal yang sama. Mendengar berarti suara sampai kepada telinga kita. Mendengarkan membutuhkan perhatian. Ia berarti memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyelesaikan pikirannya sebelum kita menentukan bagaimana harus merespons. Sayangnya, kebiasaan ini semakin sulit di ruang digital. Kita terbiasa bereaksi lebih cepat daripada berpikir: membagikan sesuatu sebelum memahami konteksnya, memberikan komentar sebelum mengetahui persoalannya, atau menghakimi seseorang berdasarkan satu potongan informasi. Mungkin salah satu bentuk empati paling sederhana di era digital adalah memberi diri kita waktu untuk berhenti. Membaca kembali sebelum membalas. Mencari konteks sebelum menyimpulkan. Bertanya ketika belum memahami. Dan berani mengatakan, “Saya tidak tahu,” atau “Mungkin saya belum memahami seluruh ceritanya.” Kalimat-kalimat sederhana tersebut membuka ruang bagi kemungkinan bahwa pandangan kita dapat berubah setelah mendengar lebih banyak. Di sinilah empati bertemu dengan etika. Etika bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga tentang memahami bagaimana tindakan kita memengaruhi manusia lain. Kita mungkin memiliki kebebasan untuk berbicara, tetapi kebebasan tersebut tidak menghapus tanggung jawab terhadap cara kita memperlakukan orang lain. Ruang yang manusiawi tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat. Ia dibangun oleh orang-orang yang mampu berbeda tanpa kehilangan rasa hormat. Hal itu dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: mendengarkan. Mendengarkan anak ketika ia bercerita. Mendengarkan rekan kerja yang memiliki pandangan berbeda. Mendengarkan seseorang dengan pengalaman hidup yang tidak kita kenal. Mendengarkan sebelum memberikan penilaian. Tidak semua persoalan akan selesai hanya karena kita mendengarkan. Tidak semua perbedaan akan menghilang. Tetapi mendengarkan memberi kita kesempatan untuk memahami sebelum memutuskan. Dan mungkin itulah yang paling kita butuhkan di tengah dunia yang semakin bising: bukan suara yang lebih keras atau opini yang lebih cepat, melainkan manusia yang bersedia berhenti sejenak, memberi ruang bagi orang lain, dan mencoba memahami sebelum menghakimi. Karena pada akhirnya, empati bukan tentang selalu setuju. Empati adalah tentang tetap melihat manusia di balik perbedaan.

Empati di Tengah Dunia yang Semakin Bising Read More »

mi al hasanah

Menutup Rangkaian Ayo Peduli Sampah di Bali

Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana: mengenali jenis sampah, membuangnya pada tempat yang tepat, menjaga kebersihan ruang bersama, dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap lingkungan. Gagasan sederhana inilah yang menjadi bagian penting dari program WRQ Sustainable Art – Edukasi “Ayo Peduli Sampah” yang dilaksanakan di Bali. Pada 21 Agustus 2026, rangkaian program tersebut hadir di MI Al Hasanah, Tibubeneng, Bali. Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup perjalanan “Ayo Peduli Sampah” yang telah berlangsung sejak Juni 2026, menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal persoalan lingkungan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Baca Juga: Ayo Peduli Sampah: 271 Siswa SD Fajar Harapan Belajar Menjaga Lingkungan dari Kebiasaan Sehari-hari Bagi anak-anak, persoalan sampah mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana. Namun, di balik kebiasaan membuang atau mengelola sampah terdapat persoalan yang lebih luas tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap ruang yang digunakan bersama. Karena itu, edukasi lingkungan tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan. Anak-anak perlu diajak mengalami, memahami, dan membangun kebiasaan yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui “Ayo Peduli Sampah”, anak-anak diajak mengenali lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar memahami mengapa sampah perlu dikelola dengan baik dan bagaimana kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan di sekitar mereka. Pendekatan semacam ini penting karena pendidikan lingkungan pada dasarnya bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga membangun kesadaran mengenai mengapa tindakan tersebut penting. Ketika seorang anak mulai memahami bahwa sampah yang dibuang sembarangan dapat memengaruhi lingkungan dan orang lain, tindakan menjaga kebersihan tidak lagi sekadar menjadi aturan, tetapi perlahan menjadi bagian dari rasa tanggung jawab. Momen penutupan pada 21 Agustus menjadi kesempatan untuk kembali belajar, berbagi, sekaligus merayakan perjalanan yang telah dilalui bersama. Hadir dalam kegiatan tersebut I Made Kamajaya, SE., Perbekel Tibubeneng, bersama para siswa, guru, dan berbagai pihak yang turut mendukung berlangsungnya program. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan bukan pekerjaan satu pihak saja. Sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak tumbuh dengan kesadaran terhadap persoalan di sekitarnya. Lebih dari sekadar sebuah rangkaian kegiatan edukasi, “Ayo Peduli Sampah” menjadi ruang untuk menanamkan sebuah pemahaman bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal yang paling dekat. Mengenali sampah, membangun kebiasaan baik, menjaga ruang bersama, dan berani mengambil tanggung jawab atas lingkungan tempat kita hidup. Baca Juga: 1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan Bagi Ginting Institute, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kepekaan dan tanggung jawab. Persoalan lingkungan menjadi salah satu ruang penting untuk menumbuhkan nilai tersebut sejak dini. Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari sebuah kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dan kemudian menjadi bagian dari karakter. Rangkaian “Ayo Peduli Sampah” mungkin telah sampai pada penghujung program. Namun, harapannya, pembelajaran yang dibawa pulang oleh setiap anak tidak berhenti bersama berakhirnya kegiatan. Ia terus hidup dalam kebiasaan sehari-hari, dalam cara mereka memperlakukan sampah, menjaga lingkungan, dan memahami bahwa ruang tempat kita hidup adalah tanggung jawab bersama. Pada akhirnya, pendidikan tentang lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam. Ia juga tentang belajar menghargai kehidupan, memahami hubungan kita dengan orang lain, dan menyadari bahwa setiap tindakan kecil memiliki arti. Dari Bali, perjalanan “Ayo Peduli Sampah” ditutup dengan satu harapan sederhana: semoga kepedulian yang ditanam hari ini tumbuh menjadi kebiasaan baik yang dibawa anak-anak dalam perjalanan mereka ke depan.

Menutup Rangkaian Ayo Peduli Sampah di Bali Read More »

Screenshot 2026 08 27 095621 1024x505

Membangun Sekolah Berkualitas melalui Tata Kelola, Karakter, dan Kompetensi

Pendidikan tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak pengetahuan yang diterima peserta didik di dalam kelas. Di balik proses belajar yang baik, terdapat tata kelola sekolah yang sehat, budaya yang membentuk karakter, serta pengalaman yang mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan setelah lulus. Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam podcast Ginting Institute bersama Dr. Mochammad Mukti Ali, S.E., M.M., sosok yang telah hampir tujuh tahun terlibat dalam perjalanan Ginting Institute mendampingi pengembangan pendidikan di Sekolah Plus Berkualitas Lengkong Mandiri (BLM), sekolah yang didirikan Prof. Dr. Soebroto almarhum dan diperuntukkan bagi masyarakat sekitar. Kolaborasi tersebut bermula dari sebuah kegiatan mengenai etika pendidikan yang diselenggarakan di BLM. Mukti Ali saat itu diundang sebagai salah satu pembicara untuk berbagi pemikiran mengenai bagaimana membangun pendidikan yang baik bagi masyarakat dengan etika sebagai salah satu fondasinya. Seiring waktu, keterlibatannya berkembang menjadi pendampingan yang lebih luas, khususnya dalam pembenahan tata kelola sekolah. Salah satu persoalan yang dihadapi BLM adalah pengelolaan keuangan dan arus kas yang berpengaruh terhadap keberlangsungan operasional sekolah. Menurut Mukti Ali, pembenahan tata kelola kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan BLM. Ia menceritakan bahwa jika sebelumnya yayasan harus memberikan subsidi setiap bulan untuk mendukung operasional, kondisi tersebut perlahan berubah. Pengelolaan yang semakin baik membuat arus kas sekolah menjadi positif dan memberikan ruang yang lebih sehat bagi sekolah untuk menjalankan kegiatannya. Perubahan dalam tata kelola tidak berhenti pada persoalan keuangan. Bagi Mukti, pengelolaan sekolah yang baik memiliki hubungan langsung dengan kualitas proses pendidikan. Sekolah adalah sebuah ekosistem. Ketika aspek pengelolaan berjalan dengan baik, kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung tanpa terus-menerus terganggu oleh persoalan mendasar. Dalam kondisi tersebut, guru dapat lebih fokus mendampingi siswa dan peserta didik memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan potensinya. Perjalanan BLM kemudian memperlihatkan munculnya berbagai prestasi peserta didik. Apa yang dahulu disebut Prof. Subroto sebagai “bibit unggul” mulai menemukan ruang untuk tumbuh. Sejumlah alumni mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa, termasuk kesempatan belajar ke Beijing, Tiongkok, dan melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai institusi, termasuk Universitas INABA. Namun, bagi Ginting Institute, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari jumlah siswa yang mendapatkan beasiswa atau memenangkan kompetisi. Ada sesuatu yang lebih mendasar: karakter. Mukti Ali menegaskan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan dengan knowledge, tetapi juga manusia dengan karakter. Karena itu, pembentukan karakter tidak hanya ditujukan kepada peserta didik. Para pendidik juga harus menjadi bagian dari budaya tersebut. Hal-hal sederhana dalam keseharian menjadi penting. Membiasakan salam, datang tepat waktu, membangun kedisiplinan, dan menciptakan lingkungan yang saling menghargai merupakan bagian dari proses pendidikan karakter. Nilai tidak cukup disampaikan sebagai teori; ia harus hadir dalam kebiasaan yang dialami secara konsisten. Gagasan tersebut sejalan dengan visi Ginting Institute bahwa pendidikan merupakan proses membangun manusia secara utuh. Pengetahuan memberikan bekal untuk memahami dunia, sementara karakter membantu seseorang menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan. Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan vokasi, pembelajaran juga tidak dapat berhenti pada ijazah. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi dan mampu membuktikannya melalui pengalaman nyata. Mukti melihat bahwa kebutuhan industri saat ini semakin menuntut adanya kompetensi yang konkret. Sertifikat pendidikan formal menjadi salah satu bagian dari perjalanan, tetapi pengalaman, keterampilan, sertifikasi kompetensi, serta praktik kerja juga menjadi penting. Di sinilah pendidikan perlu membangun hubungan yang lebih erat dengan dunia industri. Program magang atau internship dapat menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah dengan kebutuhan nyata di lapangan. Konsep link and match antara pendidikan dan industri sebenarnya bukan gagasan baru. Tantangannya adalah bagaimana konsep tersebut benar-benar diwujudkan dalam praktik. Salah satu caranya adalah dengan melibatkan lebih banyak praktisi industri dalam proses pembelajaran. Ginting Institute telah mendorong pendekatan tersebut melalui keterlibatan praktisi dari dunia industri untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan peserta didik BLM. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui apa yang dipelajari di sekolah, tetapi juga memahami bagaimana kompetensi tersebut digunakan dalam dunia kerja. Ke depan, kolaborasi yang lebih luas dengan industri diharapkan dapat membantu sekolah membaca kebutuhan tenaga kerja secara lebih tepat. Industri dapat menyampaikan kompetensi yang dibutuhkan, sementara sekolah mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan yang relevan. Bagi Mukti Ali, model pendidikan seperti inilah yang perlu terus diperkuat. Pendidikan, pemerintah, dan dunia usaha tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya perlu membangun sinergi agar pendidikan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Ia bahkan menyampaikan keyakinannya bahwa kolaborasi semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas. Kuncinya adalah mempertemukan tiga unsur penting: akademisi, pemerintah, dan dunia bisnis. Pada akhirnya, perjalanan Ginting Institute bersama BLM menunjukkan bahwa membangun sekolah berkualitas bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya dengan memperbaiki satu aspek. Tata kelola perlu dibenahi, karakter perlu dibangun, dan kompetensi perlu dipraktikkan. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang lulus. Sekolah perlu membantu melahirkan manusia yang mampu melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, berkontribusi kepada masyarakat, dan tetap memiliki karakter sebagai pijakan dalam menjalani kehidupan. Inilah mengapa pendidikan menjadi ruang penting bagi Ginting Institute: bukan hanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi untuk membangun ekosistem yang memungkinkan setiap anak menemukan kesempatan untuk tumbuh dan menjadi bagian dari masa depan Indonesia.

Membangun Sekolah Berkualitas melalui Tata Kelola, Karakter, dan Kompetensi Read More »

fajar harapan2

Ayo Peduli Sampah: 271 Siswa SD Fajar Harapan Belajar Menjaga Lingkungan dari Kebiasaan Sehari-hari

Tibubeneng, Bali — Upaya membangun kesadaran lingkungan di kalangan anak-anak terus dilanjutkan melalui program “Ayo Peduli Sampah”. Pada 20 Agustus 2026, sebanyak 271 siswa kelas 4, 5, dan 6 SD Fajar Harapan, Tibubeneng, Bali, mengikuti kegiatan edukasi mengenai kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah. Kegiatan ini merupakan bagian dari keberlanjutan program yang telah dimulai pada Juni 2026. Setelah sebelumnya menyasar siswa di sejumlah sekolah di Desa Tibubeneng, program “Ayo Peduli Sampah” kembali menghadirkan pembelajaran lingkungan dengan menempatkan anak-anak sebagai bagian penting dalam membangun kebiasaan baru di lingkungan sekitar. Edukasi tidak hanya berbicara mengenai sampah sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga mengajak siswa memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab yang dapat dimulai dari diri sendiri. Kebiasaan sederhana, seperti memperhatikan sampah yang dihasilkan dan mengelolanya dengan baik, menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian yang lebih besar. Bagi anak-anak, persoalan lingkungan sering kali terasa sebagai sesuatu yang jauh dan berskala besar. Padahal, perubahan dapat dimulai dari ruang yang paling dekat: sekolah, rumah, dan lingkungan tempat mereka beraktivitas setiap hari. Melalui pendekatan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, siswa diajak memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap lingkungan. Program “Ayo Peduli Sampah” juga memperlihatkan pentingnya pendidikan lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan. Kesadaran tidak terbentuk hanya melalui satu kali kegiatan, tetapi melalui pengulangan pesan, pengalaman, dan kebiasaan yang terus dipraktikkan. Karena itu, keberlanjutan program sejak Juni hingga kegiatan di SD Fajar Harapan menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman siswa mengenai pengelolaan sampah. Sebanyak 271 siswa yang mengikuti kegiatan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menumbuhkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Anak-anak tidak hanya diharapkan mengetahui pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa pendidikan lingkungan perlu memberi ruang bagi anak untuk terlibat secara aktif. Mereka bukan sekadar penerima informasi, melainkan individu yang memiliki kemampuan untuk membangun kebiasaan dan memengaruhi lingkungan di sekitarnya. Dari sekolah, kebiasaan tersebut dapat berkembang ke rumah dan komunitas. Ketika seorang anak mulai memahami pentingnya mengelola sampah, kesadaran itu berpotensi dibawa ke dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya. Dengan demikian, edukasi lingkungan dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Program “Ayo Peduli Sampah” menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah yang besar untuk memulainya. Perubahan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Melalui edukasi yang terus dilanjutkan, SD Fajar Harapan dan para siswanya turut mengambil bagian dalam membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama dan proses tersebut dapat dimulai dari diri sendiri.

Ayo Peduli Sampah: 271 Siswa SD Fajar Harapan Belajar Menjaga Lingkungan dari Kebiasaan Sehari-hari Read More »

peresmian lapangan olahraga blm

Sekolah Plus BLM Resmikan Lapangan Olahraga, Dorong Ruang Tumbuh yang Lebih Sehat bagi Siswa

Lengkong, Tangerang Selatan — Semangat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 turut diwujudkan oleh Sekolah Plus Berkualitas Lengkong Mandiri (BLM) melalui peresmian lapangan olahraga pada 17 Agustus 2026. Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menghadirkan fasilitas yang dapat mendukung aktivitas siswa, sekaligus menciptakan ruang tumbuh yang lebih sehat, aktif, dan positif bagi generasi muda. Peresmian lapangan olahraga tersebut dihadiri oleh Ir. Farida Zed, ME., MA, Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia (YBBAI) serta Muhammad Aswary Pulungan, atau yang akrab disapa Kiky, Co-Founder Ginting Institute, yang dipercaya untuk meresmikan fasilitas olahraga tersebut. Kehadiran para pihak dalam momentum ini menjadi bagian dari hubungan kolaboratif yang terus dibangun untuk mendukung pengembangan lingkungan pendidikan di Sekolah Plus BLM. Baca Juga: Muhammad Aswary Pulungan: Membangun Peradaban Beretika sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia Bagi sekolah, fasilitas olahraga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik. Lapangan dapat menjadi ruang bagi siswa untuk belajar berbagai nilai yang penting dalam kehidupan, mulai dari disiplin, kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, hingga kemampuan menghargai orang lain. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat pendidikan yang selama ini dikembangkan di Sekolah Plus BLM. Pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga berupaya membentuk karakter dan budi pekerti siswa melalui berbagai pengalaman yang mereka jalani di lingkungan sekolah. Peresmian yang dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan juga memiliki makna tersendiri. Kemerdekaan dapat dimaknai bukan hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai kesempatan bagi generasi muda untuk tumbuh, belajar, mengembangkan potensi, dan memiliki ruang untuk berkarya. Lapangan olahraga menjadi salah satu ruang tersebut. Di sana, siswa dapat belajar bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang menjadi pemenang. Proses berlatih, bekerja sama, menerima kekalahan, menghargai lawan, dan terus mencoba kembali merupakan bagian penting dari pembentukan karakter. Kehadiran Ketua YBBAI dan Kiky dalam peresmian ini juga memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, yayasan, komunitas, dan lembaga seperti Ginting Institute dapat mengambil peran masing-masing untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang memberikan manfaat nyata bagi siswa. Baca Juga: Farida Zed: Ginting Institute Membantu Perkuat Tata Kelola dan Pengembangan SMP-SMK Plus BLM Dengan hadirnya fasilitas baru ini, Sekolah Plus BLM diharapkan memiliki ruang yang semakin mendukung aktivitas siswa, baik dalam kegiatan olahraga maupun berbagai aktivitas bersama lainnya. Lebih dari sekadar fasilitas fisik, lapangan tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan dan pembelajaran yang terus digunakan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan di lingkungan sekolah. Peresmian lapangan olahraga pada 17 Agustus 2026 menjadi bagian dari semangat yang lebih besar: membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, disiplin, mampu bekerja sama, dan memiliki karakter kuat. Dari ruang-ruang sederhana seperti lapangan olahraga, nilai-nilai tersebut dapat tumbuh menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi masa depan. Foto-foto: Dok. Sekolah Plus BLM

Sekolah Plus BLM Resmikan Lapangan Olahraga, Dorong Ruang Tumbuh yang Lebih Sehat bagi Siswa Read More »

dsf2059 copy

Kemerdekaan untuk Berekspresi: Memberi Ruang bagi Anak untuk Tumbuh dan Berkarya

Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pendahulu. Lebih dari itu, kemerdekaan juga berarti menghadirkan ruang bagi setiap orang untuk berpikir, berekspresi, dan menciptakan sesuatu dengan bebas sekaligus bertanggung jawab. Bagi anak-anak, ruang tersebut menjadi penting karena dari sanalah rasa ingin tahu, keberanian, dan kepedulian mulai tumbuh. Semangat tersebut tercermin dalam Tibubeneng Sustainable Art (pameran seni rupa di Desa Tibubeneng, Badung, Bali, 13- 30 Juni 2026), sebuah rangkaian kolaborasi yang mempertemukan pendidikan, seni, dan kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah persoalan sampah yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, anak-anak diajak melihat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mereka belajar melalui pengalaman: bertanya, mencoba, bermain, mengolah, dan menciptakan. Cara ini menempatkan anak bukan sekadar sebagai penerima informasi tentang lingkungan, tetapi sebagai bagian aktif dari proses pembelajaran. Sampah yang selama ini mungkin hanya dipahami sebagai sesuatu yang harus dibuang, diperkenalkan dari sudut pandang yang berbeda. Melalui proses kreatif, material tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan cerita. Di sinilah seni menjadi ruang pendidikan yang hidup. Bersama seniman Bali Made Bayak, anak-anak diperkenalkan pada Plasticology, sebuah praktik yang menggunakan limbah plastik sebagai medium berkarya. Mereka tidak hanya belajar tentang bagaimana sebuah material dapat diolah, tetapi juga diajak melihat kembali hubungan antara manusia, lingkungan, dan benda-benda yang kita gunakan setiap hari. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seni dapat membuka cara pandang baru. Ketika anak diberikan kesempatan untuk berkarya, mereka belajar berani melihat persoalan dari perspektif yang berbeda, menentukan pilihan, serta menyampaikan gagasan melalui bahasa mereka sendiri. Kebebasan berekspresi kemudian tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama tanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan di sekitarnya. Bagi Ginting Institute, pendidikan tidak hanya tentang memberikan pengetahuan, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman yang membantu anak tumbuh sebagai manusia. Karena itu, seni dan pendidikan dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai seperti rasa ingin tahu, keberanian, kepedulian, kreativitas, dan tanggung jawab. Kemerdekaan pada akhirnya bukan sekadar tentang bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan adalah memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri sekaligus memahami bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi bagi orang lain dan lingkungan. Ketika anak-anak diberi ruang untuk belajar, bertanya, mencipta, dan berekspresi, mereka sedang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari masa depan yang mereka sendiri akan jalani. Pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, semangat tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga perlu terus dihidupkan melalui pendidikan dan ruang-ruang kreatif. Merdeka untuk belajar. Merdeka untuk berkarya. Merdeka untuk berekspresi. Dan merdeka untuk tumbuh bersama. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.17 Agustus 2026. Foto: Jessy Juniago

Kemerdekaan untuk Berekspresi: Memberi Ruang bagi Anak untuk Tumbuh dan Berkarya Read More »

sisi soeratman suhardjo

Membaca Kembali Peran Public Relations di Era Digital dari Pengalaman Tiga Dekade

Pengalaman panjang di dunia komunikasi menjadi bekal penting ketika Sisi Soeratman-Suhardjo, Direktur Eksekutif Ginting Institute, diundang oleh Universitas Indonesia Membangun (INABA) untuk berbagi dalam sebuah podcast yang mengangkat tema Public Relations. Dengan pengalaman hampir tiga dekade berkecimpung di bidang public relations, Sisi membawa perspektif yang tidak hanya berangkat dari teori, tetapi juga dari perjalanan panjang menghadapi berbagai dinamika komunikasi, membangun reputasi, serta menjaga hubungan antara institusi dan publik. Dalam percakapan tersebut, pengalaman profesional menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana profesi PR telah mengalami perubahan yang signifikan. Jika dahulu komunikasi institusi banyak bertumpu pada media konvensional dan hubungan dengan wartawan, perkembangan teknologi dan media sosial kini membuat pola komunikasi menjadi jauh lebih terbuka, cepat, sekaligus menuntut kehati-hatian. PR tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kepercayaan, membaca persepsi publik, dan memastikan bahwa komunikasi yang dibangun memiliki dasar yang kuat. Bagi Sisi, pengalaman selama puluhan tahun di dunia PR juga memperlihatkan bahwa reputasi tidak dibangun dalam satu malam. Ia tumbuh dari konsistensi antara apa yang dikatakan sebuah institusi dengan apa yang benar-benar dilakukan. Karena itu, kemampuan komunikasi perlu berjalan beriringan dengan integritas, pemahaman terhadap publik, serta kepekaan membaca perubahan zaman. Melalui podcast bersama INABA, pengalaman tersebut kemudian menjadi ruang berbagi bagi generasi muda dan mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia profesional. Percakapan tentang PR tidak hanya membahas bagaimana menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana menjadi komunikator yang mampu membangun hubungan, menghadapi tantangan, dan menjaga kepercayaan di tengah ekosistem informasi yang terus berubah.

Membaca Kembali Peran Public Relations di Era Digital dari Pengalaman Tiga Dekade Read More »

Farmer worker

Budaya Lokal Mengajarkan Harmoni dengan Alam: Dari Pengetahuan Leluhur hingga Gerakan Lingkungan

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, di balik hutan, sungai, laut, dan tanah yang membentang dari Sabang hingga Merauke, terdapat kekayaan lain yang tidak kalah penting: pengetahuan masyarakat dalam menjaga hubungan dengan alam. Jauh sebelum istilah sustainability menjadi bagian dari percakapan global, masyarakat di berbagai wilayah Nusantara telah memiliki cara sendiri dalam memahami lingkungan dan mengatur kehidupan agar tetap berjalan seimbang dengan alam. Dalam banyak tradisi lokal, terdapat pengetahuan mengenai kapan menanam, kapan memanen, bagaimana memanfaatkan hasil bumi, hingga wilayah mana yang harus dijaga. Pengetahuan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk buku atau aturan tertulis. Ia diwariskan melalui cerita, kebiasaan, ritual, kesenian, serta praktik kehidupan sehari-hari. Karena itu, berbicara mengenai keberlanjutan sesungguhnya juga berarti berbicara mengenai kebudayaan. Dalam kehidupan masyarakat Karo, misalnya, hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial dapat ditemukan dalam tradisi Merdang Merdem atau Kerja Tahun. Tradisi ini bukan sekadar perayaan setelah masa panen, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai siklus pertanian, hasil bumi, kebersamaan, dan rasa syukur atas kehidupan. Ginting Institute turut mengangkat Merdang Merdem (Baca artikel: Merdang Merdem) sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Karo kepada masyarakat yang lebih luas. Hubungan semacam ini penting untuk kembali dibicarakan di tengah kehidupan modern. Ketika masyarakat semakin jauh dari proses bagaimana makanan tumbuh, dari mana air berasal, atau bagaimana sebuah lingkungan menopang kehidupan, hubungan manusia dengan alam perlahan menjadi semakin abstrak. Budaya lokal dapat membantu mengembalikan hubungan tersebut menjadi sesuatu yang lebih dekat dan nyata. Persoalan lingkungan hari ini memang berbeda dengan tantangan yang dihadapi masyarakat pada masa lalu. Pertumbuhan kota, pariwisata, pola konsumsi, penggunaan plastik, serta meningkatnya produksi sampah menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan pendekatan baru. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat ia hidup. Pemikiran tersebut kemudian menemukan bentuk yang konkret dalam berbagai kegiatan Ginting Institute di Desa Tibubeneng, Bali. Bersama Pemerintah Desa Tibubeneng, Ginting Institute mengembangkan pendidikan lingkungan hidup yang melibatkan siswa sekolah dasar. Anak-anak diperkenalkan pada persoalan sampah, mulai dari mengenali, memilah, hingga memahami bagaimana sampah dapat dikelola. Pendidikan lingkungan kemudian diperluas melalui kegiatan literasi, salah satunya lomba mengarang cerita bertema “Ayo Peduli Sampah” bagi siswa sekolah dasar. (Baca artikel: 1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan). Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah atau penyampaian secara lisan. Anak-anak dapat belajar melalui pengalaman, kreativitas, cerita, dan keterlibatan langsung dengan persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Ketika seorang anak menulis tentang sampah yang ia lihat di sekolah atau di rumah, persoalan lingkungan berubah menjadi sesuatu yang personal dan dekat dengan kehidupannya. Dari pendidikan, Ginting Institute kemudian mempertemukan persoalan lingkungan dengan seni melalui Tibubeneng Sustainable Art. Sampah dan persoalan lingkungan dibawa ke dalam ruang kreatif untuk dilihat dari perspektif yang berbeda. Seni menjadi medium untuk mengajak masyarakat berhenti sejenak, melihat kembali lingkungan di sekitarnya, dan mempertanyakan hubungan mereka dengan benda-benda yang selama ini dianggap tidak lagi memiliki nilai. (Baca artikel: Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial). Gagasan tersebut juga menemukan ruang yang lebih luas melalui Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency di Tibubeneng. Ruang ini dikembangkan sebagai tempat bertemunya seni, masyarakat, generasi muda, pendidikan, budaya, dan berbagai gagasan tentang lingkungan. Kehadirannya memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Ia dapat tumbuh melalui ruang seni, ruang publik, interaksi komunitas, maupun pengalaman langsung. Apa yang dilakukan Ginting Institute di Tibubeneng memperlihatkan bahwa keberlanjutan dapat dibangun melalui banyak pintu. Pendidikan menjadi salah satunya, seni menjadi pintu lainnya, sementara budaya menyediakan pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya lokal pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga tarian, pakaian adat, bahasa, rumah tradisional, atau ritual agar tidak hilang. Di dalamnya terdapat cara pandang mengenai bagaimana manusia berhubungan dengan tempat tinggalnya, bagaimana sumber daya digunakan, bagaimana komunitas dibangun, dan bagaimana kehidupan berjalan berdampingan dengan lingkungan. Pengetahuan tersebut tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama. Ia dapat diterjemahkan kembali untuk menjawab persoalan kehidupan hari ini. Nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun cara baru dalam mendidik generasi muda tentang lingkungan. Dari sebuah tradisi, kita belajar tentang hubungan manusia dengan alam. Dari sekolah, kita belajar membangun kebiasaan. Dari seni, kita belajar melihat persoalan melalui perspektif yang berbeda. Dan dari masyarakat, kita belajar bahwa perubahan membutuhkan keterlibatan bersama. Mungkin masa depan keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang semakin canggih, tetapi juga oleh kemampuan kita untuk mengingat kembali pengetahuan yang pernah dimiliki masyarakat sebelum kita. Sebab, sebelum berbicara tentang bagaimana menyelamatkan bumi, kita perlu kembali memahami satu hal sederhana: kita hidup di dalam alam, bukan di luar alam. Ketika pengetahuan lokal, pendidikan, seni, dan keterlibatan masyarakat dapat berjalan bersama, budaya tidak lagi sekadar menjadi warisan masa lalu. Ia dapat menjadi cara untuk memahami persoalan hari ini sekaligus membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Budaya Lokal Mengajarkan Harmoni dengan Alam: Dari Pengetahuan Leluhur hingga Gerakan Lingkungan Read More »

asian girl holding plant soil

Sekolah Bukan Sekadar Tempat Mengajarkan Lingkungan

Perubahan perilaku tidak akan tumbuh jika pendidikan lingkungan hanya ditempatkan sebagai materi tambahan di dalam kelas. Anak mungkin mengetahui bahwa sampah harus dipilah, air perlu dihemat, dan lingkungan harus dijaga. Namun, pengetahuan tidak selalu otomatis berubah menjadi kebiasaan. Di sinilah sekolah memiliki peran yang jauh lebih besar. Sekolah bukan hanya tempat anak mendengar tentang lingkungan, tetapi juga tempat mereka mengalami bagaimana lingkungan dihargai. UNESCO melalui konsep Green School mendorong pendekatan menyeluruh terhadap pendidikan keberlanjutan. Lingkungan tidak hanya diajarkan melalui kurikulum, tetapi juga diterapkan melalui tata kelola sekolah, fasilitas dan operasional, proses belajar-mengajar, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini mengubah cara kita memandang sekolah. Setiap ruang, kebiasaan, aturan, dan keputusan dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar. Ketika sekolah menyediakan sistem pemilahan sampah, siswa belajar bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika guru mengurangi penggunaan barang sekali pakai, siswa melihat bahwa nilai yang diajarkan benar-benar dipraktikkan. Ketika sekolah menghemat air dan energi, siswa memahami bahwa sumber daya memiliki nilai dan harus digunakan secara bertanggung jawab. Dengan kata lain, sekolah itu sendiri dapat menjadi bagian dari kurikulum. Pendidikan lingkungan juga tidak harus berdiri sebagai satu mata pelajaran. Persoalan lingkungan dapat masuk ke berbagai proses pembelajaran. Dalam matematika, siswa dapat menghitung jumlah sampah atau penggunaan air. Dalam ilmu pengetahuan, mereka dapat mempelajari ekosistem dan perubahan iklim. Dalam seni, material bekas dapat menjadi medium untuk menciptakan karya sekaligus menyampaikan pesan tentang keberlanjutan. Yang lebih penting, siswa perlu mengalami langsung persoalan lingkungan. Mengamati kondisi sungai, melakukan pemilahan sampah, merawat tanaman, membuat kompos, atau melakukan audit sederhana terhadap penggunaan air dan listrik dapat menjadi pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna daripada sekadar membaca tentang lingkungan di buku. Dari pengalaman tersebut, siswa tidak hanya mengetahui, tetapi mulai memahami. Dari pemahaman dapat tumbuh kepedulian, dan dari kepedulian dapat muncul tindakan. Di sinilah pendidikan lingkungan bertemu dengan pendidikan karakter. Ketika siswa memilah sampah, mereka belajar disiplin. Ketika bekerja bersama membersihkan lingkungan, mereka belajar kolaborasi. Ketika merawat tanaman secara rutin, mereka belajar konsistensi. Ketika memahami bahwa tindakan mereka berdampak pada orang lain, mereka belajar tanggung jawab dan empati. Karakter tidak dibentuk melalui satu seminar atau poster yang ditempel di dinding sekolah. Karakter tumbuh melalui pengalaman yang berulang. Karena itu, sekolah hijau bukan sekadar sekolah yang memiliki lebih banyak tanaman atau tempat sampah terpilah. Sekolah hijau adalah sekolah yang menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari cara institusi berpikir, mengambil keputusan, mengajar, dan berhubungan dengan masyarakat. Pada akhirnya, pendidikan lingkungan bukan hanya tentang menghasilkan anak yang tahu cara membuang sampah dengan benar. Lebih jauh dari itu, pendidikan lingkungan adalah tentang membentuk manusia yang memahami hubungan antara pilihan pribadi, kehidupan bersama, dan masa depan. Sebab ketika nilai-nilai tersebut dipraktikkan setiap hari, pendidikan lingkungan tidak lagi menjadi sekadar pelajaran. Ia menjadi budaya. Dan budaya, seperti halnya karakter, dibangun dari apa yang kita lakukan berulang kali.

Sekolah Bukan Sekadar Tempat Mengajarkan Lingkungan Read More »

whatsapp image 2026 07 24 at 7.25.22 am (2)

Membangun Karakter dari Budaya Positif Sekolah

Pendidikan karakter menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sekolah saat ini. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, sekolah tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu membentuk pribadi yang memiliki integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap sesama. Berangkat dari semangat tersebut, Direktur Eksekutif Sisi Soeratman-Suhardjo bersama Co-Founder Ginting Institute, Kiki Pulungan, pada Rabu, 8 Juli 2026, diundang untuk berbagi gagasan mengenai pembangunan karakter dalam kaitannya dengan budaya positif di Sekolah Plus Berkualitas Lengkong Mandiri. Kegiatan yang berlangsung di sela-sela rapat kerja guru ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai bagaimana sekolah dapat membangun karakter peserta didik secara lebih terarah dan berkelanjutan. Diskusi tersebut menegaskan bahwa karakter bukan sesuatu yang dapat dibentuk melalui ceramah, slogan, ataupun aturan yang tertulis di dinding sekolah. Karakter tumbuh melalui pengalaman yang dialami siswa secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam diskusi adalah pentingnya melihat sekolah sebagai sebuah ekosistem. Setiap unsur di dalamnya, mulai dari guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, kegiatan pembelajaran, hingga aktivitas di luar kelas, memiliki peran yang saling berkaitan dalam membentuk karakter peserta didik. Karena itu, pembangunan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada mata pelajaran tertentu atau program khusus. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan harus hadir dalam setiap pengalaman belajar, cara guru berinteraksi dengan siswa, proses pengambilan keputusan di sekolah, hingga budaya yang dibangun dalam keseharian. Dengan kata lain, pendidikan karakter menjadi tanggung jawab seluruh warga sekolah. Dalam sesi diskusi juga disampaikan bahwa kegiatan ekstrakurikuler memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter. Selama ini, ekstrakurikuler sering dipandang sebagai pelengkap kegiatan akademik. Padahal, justru melalui aktivitas di luar kelas, siswa memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai yang sulit dipelajari hanya melalui teori. Melalui organisasi siswa, olahraga, seni, pramuka, maupun kegiatan sosial, peserta didik belajar mengenai gotong royong, kepemimpinan, disiplin, kreativitas, kemandirian, hingga kemampuan menyelesaikan persoalan bersama. Karena itu, setiap kegiatan ekstrakurikuler perlu dirancang bukan hanya untuk mengembangkan bakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran karakter yang nyata. Agar pembangunan karakter berjalan efektif, seluruh program sekolah perlu bergerak menuju tujuan yang sama. Dalam forum tersebut dibahas pentingnya menetapkan target karakter yang jelas, kemudian memetakan kontribusi setiap kegiatan terhadap nilai-nilai yang ingin dibangun. Dengan demikian, guru tidak bekerja secara sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam menciptakan pengalaman belajar yang utuh bagi peserta didik. Kolaborasi antarguru menjadi salah satu kunci keberhasilan. Ketika seluruh tenaga pendidik memiliki pemahaman yang sama mengenai nilai karakter yang menjadi prioritas sekolah, maka setiap aktivitas pembelajaran akan memperkuat pesan yang sama kepada siswa. Pendekatan ini juga membantu sekolah membangun budaya positif yang tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar tercermin dalam praktik sehari-hari. Sebagai tindak lanjut dari diskusi, sekolah didorong untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai program yang telah berjalan. Audit tersebut bertujuan melihat sejauh mana kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler benar-benar mendukung pembentukan karakter yang diharapkan. Dari hasil evaluasi tersebut, sekolah dapat menentukan satu atau dua nilai karakter sebagai fokus bersama yang kemudian diterapkan secara konsisten di seluruh aktivitas sekolah. Selain itu, penyusunan pedoman pelaksanaan yang selaras dengan budaya positif menjadi langkah penting agar setiap guru memiliki acuan yang sama dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut. Melalui pendekatan ini, pembentukan karakter tidak lagi berlangsung secara kebetulan, melainkan menjadi proses yang dirancang, dijalankan, dievaluasi, dan terus diperbaiki. Keterlibatan Ginting Institute dalam kegiatan ini sejalan dengan komitmennya untuk mendorong pendidikan yang berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh. Bagi Ginting Institute, pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan kepemimpinan yang akan menjadi bekal peserta didik dalam menghadapi tantangan masa depan. Melalui kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan, Ginting Institute terus mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan budaya positif, tata kelola sekolah, serta pembelajaran berbasis pengalaman sebagai fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Membangun Karakter dari Budaya Positif Sekolah Read More »