
Tidak semua lukisan berhenti ketika sapuan kuas terakhir selesai diletakkan. Di balik setiap warna, tekstur, dan komposisi, selalu ada kisah yang selalu bergerak melampaui kanvas. Ia hidup melalui setiap orang yang memandangnya, setiap percakapan yang lahir karenanya, dan setiap tafsir baru yang muncul dari waktu ke waktu.
Bagi sebagian orang, sebuah lukisan mungkin hanya tampak sebagai hasil kreativitas seorang seniman. Namun, di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang melibatkan pengalaman hidup, sejarah, pertemuan antarmanusia, hingga nilai-nilai yang membentuk proses penciptaannya. Karena itu, setiap karya sesungguhnya memiliki cerita yang tidak pernah selesai.
Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam Rimpang Rasa: Narasi Rawan. Pameran ini tidak hanya memperlihatkan karya-karya seni, tetapi juga menghubungkan berbagai pengalaman, generasi, dan cara pandang melalui sebuah narasi yang saling bertaut. Karya yang telah ada dipertemukan dengan karya yang lahir sebagai tanggapan, membentuk dialog yang terus berkembang dari satu masa ke masa berikutnya.
Narasi itu juga menjadi bagian penting dari perjalanan Daniel Ginting sebagai kolektor seni. Selama bertahun-tahun mengoleksi karya, Daniel tidak melihat lukisan semata sebagai benda yang layak dimiliki. Baginya, setiap karya adalah hasil sebuah perjumpaan antara seniman dengan zamannya, antara gagasan dengan pengalaman hidup, hingga antara karya dengan orang-orang yang kemudian menemukannya.
Cara pandang tersebut kemudian dituangkan melalui buku Rimpang Rasa, yang menjadi salah satu inspirasi lahirnya pameran ini. Buku tersebut tidak hanya menceritakan perjalanan sebuah koleksi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana karya seni dapat membangun hubungan yang lebih dalam dengan manusia.
Dalam perspektif Daniel Ginting, koleksi seni bukanlah sekumpulan objek yang tersimpan di ruang privat. Sebaliknya, setiap karya memiliki tanggung jawab untuk terus hidup melalui percakapan, pembelajaran, dan ruang-ruang publik yang memungkinkan lebih banyak orang mengalami makna yang dikandungnya.
Pemahaman itu sejalan dengan semangat pameran “SAHAJA: Kala Rupa Bersua”, yang dikurasi sebagai ruang dialog antar karya. Ketika sebuah karya dipertemukan dengan karya lain, lahirlah kemungkinan tafsir baru. Perjumpaan itulah yang membuat seni terus hidup, bukan hanya karena kehadiran senimannya, tetapi juga karena kehadiran para penikmatnya.

Di sinilah seni menemukan sifatnya yang paling mendasar. Sebuah karya tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan studio. Ia akan terus berubah melalui pengalaman setiap orang yang melihatnya. Setiap pengunjung membawa latar belakang, emosi, dan ingatannya masing-masing sehingga satu karya dapat melahirkan banyak cerita yang berbeda.
Melalui Rimpang Rasa: Narasi Rawan, publik diajak untuk melampaui kebiasaan melihat seni hanya sebagai sesuatu yang indah. Pameran ini mengundang setiap pengunjung untuk membaca, merasakan, dan memasuki cerita yang hidup di balik setiap karya.
Karena pada akhirnya, sebuah lukisan tidak pernah berhenti di atas kanvas. Ia terus hidup melalui setiap mata yang memandang, setiap hati yang merasakan, dan setiap perjumpaan yang meninggalkan jejak baru.
Pameran “Rimpang Rasa: Narasi Rawan – SAHAJA: Kala Rupa Bersua” yang berlangsung sampai dengan tanggal 20 Juli 2026 di Kiniko Art, Yogyakarta ini mengajak publik melihat karya seni bukan sekadar sebagai objek visual, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang terus melahirkan makna.
Foto-foto: Jessy
