Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial

 dsf1718 copy small

Pembukaan Wija Reksa Quoriena (WRQ) Art Hub & Residency sekaligus menjadi momentum penyelenggaraan Tibubeneng Sustainable Art, sebuah pameran seni yang mengangkat isu lingkungan sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Berbeda dari pameran seni yang hanya berfokus pada estetika, program ini menghadirkan seni sebagai medium edukasi, dialog, dan upaya membangun kesadaran bersama terhadap persoalan lingkungan.

Bagi Daniel Ginting, Founder Ginting Institute sekaligus kolektor seni, kehadiran WRQ sejak awal dirancang sebagai ruang yang tidak berhenti pada aktivitas seni semata.

“Seni itu tidak boleh berhenti di ruang pamer saja. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan,” ujar Daniel.

Menurut Daniel, seni memiliki kemampuan untuk menjembatani berbagai kelompok masyarakat. Melalui ruang seperti WRQ, seniman, komunitas, intelektual, dan masyarakat dapat bertemu untuk membangun gagasan yang memiliki dampak lebih luas.

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Quoriena Ginting, kolektor seni yang memiliki perhatian besar terhadap warisan budaya Nusantara. Ia melihat bahwa karya seni yang berbicara tentang lingkungan bukan hanya persoalan visual, tetapi juga menjadi pengingat terhadap kondisi bumi.

“Seni yang berbicara tentang persoalan lingkungan bukan sekadar tampilan yang mengejar keindahan. Ada pesan yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, sadar, dan mengambil tindakan,” ungkap Quoriena.

Salah satu bagian menarik dalam pameran ini adalah keterlibatan siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng. Melalui program edukasi lingkungan, para siswa mengikuti workshop Plasticology bersama seniman Made Bayak. Dalam proses tersebut, mereka belajar mengolah limbah plastik menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan.

 dsf1738 copy small

Karya-karya anak-anak tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan dapat dibangun melalui pengalaman kreatif. Banyak pengunjung mengapresiasi hasil karya siswa yang mampu menghadirkan visual kuat dari material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.

Di ruang galeri WRQ, pameran juga menghadirkan karya dari berbagai seniman lintas disiplin yang merespons isu lingkungan. Sejumlah seniman yang terlibat antara lain Made Wianta (alm.), Made Bayak, dan Andry Boy Kurniawan. Sementara dari bidang seni kartun hadir Jango Pramartha, Ida Bagus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky Sinanta, serta Putu Dian Ujiana “Beluluk”. Pameran ini juga menampilkan karya fotografi dari Andang Iskandar dan Tjandra Hutama.

Kurator pameran, Yudha Bantono, menjelaskan bahwa Tibubeneng Sustainable Art merupakan inisiatif yang mempertemukan praktik seni kontemporer dengan gagasan pembangunan lingkungan berkelanjutan.

“Pameran ini menjadi ruang dialog kreatif antara anak-anak, seniman, masyarakat desa, dan pemangku kepentingan lingkungan untuk mendorong kesadaran serta solusi nyata terhadap tantangan lingkungan,” ujar Yudha.

Menurutnya, seni dapat menjadi alat transformasi sosial ketika dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Penggunaan material daur ulang, bahan ramah lingkungan, serta pendekatan kreatif menjadi cara untuk menghadirkan pesan keberlanjutan secara lebih mudah diterima publik.

Perbekel Tibubeneng I Made Kamajaya melihat Tibubeneng Sustainable Art sebagai bentuk nyata kolaborasi berbagai pihak dalam menjawab persoalan lingkungan, khususnya isu sampah yang menjadi perhatian desa.

 dsf2128 copy small

“Melalui seni, budaya, dan kegiatan kreatif, masyarakat dapat lebih mudah diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” katanya.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art menghadirkan lebih dari 20 karya seni berupa lukisan, instalasi, kartun, hingga fotografi. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Banjar Kulibul Kawan, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali.

Melalui WRQ, Tibubeneng menunjukkan bahwa seni dapat mengambil peran lebih besar: bukan hanya sebagai ruang ekspresi, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan membangun kesadaran, kepedulian, dan masa depan lingkungan yang lebih baik.