Buku Rimpang Rasa: Sebuah Perjalanan Menjadi Kolektor

srihadi sudarsono
Srihadi Sudarsono, Mt. Agung – Moment of Meditation | 145 x 154 cm | Cat minyak di atas kanvas | 2018

Di tengah semakin banyaknya buku seni rupa yang berfokus pada reproduksi karya atau biografi seniman, Rimpang Rasa karya Daniel Ginting hadir dengan pendekatan yang berbeda. Buku ini bukan katalog koleksi, bukan pula buku sejarah seni rupa Indonesia dalam pengertian akademis. Sebaliknya, Rimpang Rasa merupakan catatan reflektif tentang bagaimana seorang kolektor membangun hubungan dengan karya seni, menyusun narasi melalui koleksi, serta memahami seni sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Buku ini memperlihatkan bahwa setiap lukisan tidak berdiri sendiri. Sebuah karya menyimpan jejak sejarah, pengalaman penciptanya, hingga perjalanan orang-orang yang kemudian merawat dan meneruskan maknanya. Di tangan Daniel Ginting, aktivitas mengoleksi tidak berhenti pada kepemilikan, melainkan menjadi proses membaca, memahami, dan menjaga cerita yang terkandung di balik setiap karya.

Kolektor sebagai Penjaga Cerita

Daniel Ginting memulai buku ini dari pengalaman pribadinya sebagai kolektor. Ia menggambarkan bahwa perjalanan mengoleksi selalu menghadirkan dua sisi: kegembiraan sekaligus tantangan.

Kegembiraan hadir karena dunia seni rupa Indonesia menawarkan keberagaman yang luar biasa. Berbagai generasi pelukis, tema, gaya visual, hingga pendekatan artistik membuka kemungkinan yang hampir tak terbatas bagi seorang kolektor.

Namun justru karena begitu banyak pilihan, tantangan terbesar adalah menentukan arah koleksi.

Bagi Daniel, keindahan visual memang menjadi pintu pertama dalam memilih sebuah karya. Akan tetapi, pertimbangan tidak berhenti di sana. Nilai historis, posisi seniman dalam perkembangan seni rupa Indonesia, keaslian karya, hingga kisah yang melatarbelakanginya menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.

Ia menggambarkan bahwa sebuah lukisan sering kali menjadi “corner stone”, fondasi yang kemudian menentukan arah koleksi berikutnya. Dari sinilah koleksi berkembang bukan sebagai kumpulan benda, tetapi sebagai rangkaian cerita yang saling terhubung.

Membangun Koleksi Seperti Membangun Rumah

Salah satu gagasan yang paling menarik dalam Rimpang Rasa adalah analogi tentang membangun rumah. Daniel mengibaratkan koleksi seni sebagai sebuah rumah yang memerlukan fondasi kuat sebelum berkembang menjadi bangunan yang utuh.

Fondasi tersebut bukan jumlah karya yang dimiliki, melainkan kualitas pilihan. Ia mengingat nasihat seorang kolektor senior yang menjadi pegangan selama bertahun-tahun: lebih baik memiliki satu karya yang benar-benar penting daripada sepuluh karya biasa.

Prinsip ini kemudian membentuk cara pandangnya dalam mengoleksi. Ia tidak mengejar kuantitas, melainkan membangun koleksi secara perlahan dengan arah yang jelas, sehingga setiap karya memiliki hubungan dengan karya lainnya.

Pendekatan ini menjadikan koleksi sebagai narasi yang terus berkembang, bukan sekadar akumulasi aset seni.

Etika sebagai Fondasi Mengoleksi

Di balik pembahasan mengenai karya seni, Rimpang Rasa sesungguhnya banyak berbicara mengenai etika. Daniel menekankan pentingnya memastikan asal-usul karya (provenance), keaslian lukisan, kejujuran dalam transaksi, serta tanggung jawab moral seorang kolektor terhadap ekosistem seni rupa.

Baginya, mengoleksi bukan hanya persoalan membeli karya, tetapi juga menjaga integritas dunia seni. Pandangan tersebut juga berakar pada keyakinan pribadinya bahwa setiap pekerjaan perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Prinsip inilah yang kemudian membuat buku ini terasa berbeda. Pembaca tidak hanya diajak mengenal karya seni, tetapi juga memahami nilai-nilai yang seharusnya menyertai praktik mengoleksi.

Membaca Seni Melalui Narasi

Judul Rimpang Rasa bukan dipilih tanpa alasan. Sebagaimana rimpang yang tumbuh ke berbagai arah namun tetap saling terhubung, Daniel melihat bahwa karya seni juga memiliki hubungan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Satu lukisan dapat berbicara dengan lukisan lain. Seorang pelukis dapat memengaruhi generasi berikutnya. Sebuah koleksi dapat membentuk cerita yang lebih besar daripada nilai masing-masing karya.

Cara pandang inilah yang menjadi benang merah buku ini. Pembaca diajak melihat bahwa seni bukan sekadar objek visual, tetapi ruang dialog yang terus berkembang seiring waktu.

Kontribusi bagi Ekosistem Seni Rupa Indonesia

Di tengah masih terbatasnya literatur mengenai praktik kolektor seni di Indonesia, Rimpang Rasa memberikan perspektif yang relatif jarang ditemukan.

Buku ini memperlihatkan bagaimana kolektor dapat berperan sebagai penghubung antara seniman, galeri, kurator, peneliti, dan publik. Daniel juga menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar seni rupa Indonesia bukan hanya soal pasar, melainkan lemahnya dokumentasi dan pencatatan sejarah. Banyak karya, peristiwa, dan pengalaman penting yang berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan secara serius.

Dalam konteks tersebut, Rimpang Rasa menjadi lebih dari sekadar kisah pribadi. Buku ini merupakan upaya mendokumentasikan pengalaman mengoleksi sebagai bagian dari perjalanan seni rupa Indonesia.

Sebuah Buku untuk Pembaca yang Ingin Memahami Seni Lebih Dalam

Rimpang Rasa tidak hanya relevan bagi kolektor seni. Buku ini juga menarik bagi mahasiswa seni, kurator, peneliti, seniman, maupun pembaca umum yang ingin memahami bagaimana sebuah karya memperoleh makna melalui perjalanan waktu.

Alih-alih menyajikan teori yang rumit, Daniel memilih bertutur melalui pengalaman. Bahasa yang digunakan reflektif, personal, dan mengajak pembaca melihat seni sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Rimpang Rasa mengingatkan bahwa nilai sebuah lukisan tidak hanya berada pada apa yang tampak di atas kanvas, tetapi juga pada cerita yang menyertainya. Ketika karya dipahami melalui konteks, sejarah, dan pengalaman manusia, seni tidak lagi menjadi benda yang diam. Ia hidup, terus berbicara, dan menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Melalui buku ini, Daniel Ginting menunjukkan bahwa menjadi kolektor bukan sekadar mengumpulkan karya, melainkan merawat ingatan, menjaga etika, dan membangun narasi yang dapat terus menginspirasi perkembangan seni rupa Indonesia.

740185421 18446057911188476 6004295191184734195 n