Ruang Dialog Seni di Tengah Perjumpaan Ekosistem Seni Rupa Indonesia

0f6719fc b425 419b 8cd0 fea285d1c035

Yogyakarta kembali menjadi ruang pertemuan bagi ekosistem seni rupa Indonesia melalui  ArtJog 2026, sebuah festival dan pameran seni rupa yang mempertemukan seniman, kolektor, galeri, kurator, akademisi, komunitas kreatif, hingga para penikmat seni dari berbagai daerah dan negara. Di tengah atmosfer perjumpaan tersebut, berbagai diskusi dan pameran yang digelar menjadi ruang penting untuk melihat kembali dan berdiskusi bagaimana seni berkembang, diwariskan, dan dimaknai dari waktu ke waktu.

Salah satu percakapan yang hadir dalam rangkaian aktivitas seni di Yogyakarta adalah diskusi publik dalam pameran “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” yang diselenggarakan oleh Ginting Institute, Galeri ZEN1, dan Kiniko Art. Tidak hanya menghadirkan pertemuan karya seni, acara ini membuka ruang refleksi melalui diskusi yang mempertemukan seniman, kolektor, dan kurator untuk membicarakan kembali perjalanan, sejarah, serta masa depan seni rupa Indonesia.

Bertempat di Kiniko Art, Yogyakarta, diskusi yang menjadi bagian dari rangkaian pameran “SAHAJA: Kala Rupa Bersua” menghadirkan kolektor sekaligus pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, kurator Rizki A. Zaelani, seniman Ugo Untoro, serta dimoderatori oleh seniman Jumaldi Alfi. Forum ini menjadi ruang percakapan mengenai hubungan antara karya seni, sejarah, generasi, dan bagaimana ekosistem seni rupa terus berkembang.

Diskusi berangkat dari gagasan utama bahwa tidak ada karya seni yang lahir secara terpisah. Setiap karya memiliki hubungan dengan pengalaman sebelumnya, sejarah, tradisi, maupun pemikiran yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, pembicaraan kemudian berkembang menjadi refleksi yang lebih luas mengenai hubungan generasi hari ini dengan sejarah seni rupa Indonesia. Seniman Ugo Untoro menyoroti pentingnya pemahaman terhadap perjalanan sejarah seni sebagai bagian dari proses penciptaan.

Menurutnya, perkembangan seni tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan terhadap jejak para seniman sebelumnya. Nama-nama besar seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, hingga Affandi menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk karakter seni rupa Indonesia.

Persoalan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan penting: bagaimana hubungan antara sejarah, ingatan, dan penciptaan karya seni kontemporer hari ini?

Kurator Rizki A. Zaelani menjelaskan bahwa gagasan pameran “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” memang berangkat dari upaya mempertemukan berbagai lapisan waktu dalam seni. Karya lama dan karya baru tidak ditempatkan dalam hubungan hierarki, tetapi sebagai bagian dari dialog yang terus berkembang.

Menurut Rizki, ketika karya dipertemukan dengan karya lain, akan muncul kemungkinan pembacaan baru. Seni selalu hidup melalui hubungan dan perjumpaan antar gagasan, pengalaman, serta perspektif.

Sementara itu, Jumaldi Alfi melihat bahwa tantangan seni rupa Indonesia tidak hanya terletak pada hubungan antar generasi, tetapi juga pada persoalan dokumentasi dan pencatatan sejarah. Banyak peristiwa seni yang terjadi, namun tidak seluruhnya terdokumentasi secara baik sehingga menyebabkan terputusnya hubungan antara satu periode dengan periode berikutnya.

Dari perspektif kolektor, Daniel Ginting menyoroti pentingnya membangun ekosistem seni yang tidak hanya bergerak berdasarkan nilai pasar. Baginya, koleksi seni bukan sekadar tentang memiliki karya, tetapi tentang menjaga cerita, konteks, dan nilai yang melekat di dalamnya.

Melalui buku “Rimpang Rasa”, Daniel mencoba menghadirkan perjalanan koleksi sebagai sebuah narasi personal yang memperlihatkan bagaimana karya seni memiliki hubungan dengan sejarah, manusia, dan pengalaman hidup.

Ia melihat bahwa seni membutuhkan ruang percakapan yang lebih luas agar tidak berhenti sebagai objek estetika. Seni perlu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, membuka diskusi, membangun empati, dan menciptakan pemahaman baru.

Diskusi ini juga memperlihatkan bahwa Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Sebagai salah satu pusat pertumbuhan seni, Yogyakarta terus menjadi ruang pertemuan berbagai ide dan praktik kreatif. Namun, ekosistem seni juga membutuhkan refleksi berkelanjutan agar tetap terbuka, dinamis, dan mampu menjawab perubahan zaman.

Pada akhirnya, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” bukan hanya berbicara tentang sebuah pameran, tetapi tentang bagaimana seni menjaga ingatan. Sebuah pengingat bahwa karya seni, seniman, kolektor, kurator, dan masyarakat berada dalam satu jaringan yang saling terhubung.

Seni menjadi ruang tempat pengalaman masa lalu, persoalan hari ini, dan kemungkinan masa depan dapat bertemu dalam satu percakapan yang terus hidup.

Pameran “Rimpang Rasa, Narasi Rawan” berlangsung di Kiniko Art, Yogyakarta, hingga 20 Juli 2026.

Baca Juga: Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu

Foto-foto:  Jessy