Daniel Ginting: Menghidupkan Kembali Ruang Etika di Tengah Tantangan Zaman

thumbnail pak sendy (1)

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang semakin cepat, ruang publik kian dipenuhi oleh narasi yang sering kali menjauh dari nilai etika dan integritas. Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi lahirnya Ginting Institute, sebuah yayasan yang didirikan oleh Daniel Ginting bersama Kiky Pulungan, dengan satu tujuan utama: mengembalikan etika sebagai fondasi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ginting Institute kami dirikan untuk mempromosikan etika dan integritas di berbagai bidang kehidupan, khususnya pendidikan, seni, dan budaya,” ujar Daniel Ginting dalam wawancara khusus.

Menurut Daniel, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah semakin sempitnya ruang untuk membicarakan etika secara terbuka. Diskursus tentang nilai sering kali terbatas hanya di ruang-ruang privat, rumah ibadah, keluarga, atau forum tertutup. Padahal etika seharusnya menjadi bagian dari percakapan publik yang hidup dan relevan.

“Kita melihat bahwa masyarakat semakin sering dipertontonkan hal-hal yang jauh dari etika dan integritas. Karena itu, kami ingin menghadirkan ruang terbuka di mana nilai-nilai ini bisa dibicarakan, dipertanyakan, dan diperkuat bersama,” jelasnya.

Bagi Ginting Institute, etika bukan sekadar konsep normatif. Ia adalah praktik yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dalam cara bekerja, berinteraksi, hingga dalam proses pengambilan keputusan.

Pilihan untuk fokus pada sektor pendidikan bukan tanpa alasan. Daniel meyakini bahwa pendidikan adalah titik paling strategis untuk menanamkan nilai etika dan integritas sejak dini.

“Ketika etika dibangun sejak masa sekolah, itu akan menjadi bekal ketika mereka kelak menjadi pemimpin,” katanya.

Salah satu contoh konkret adalah pendampingan yang dilakukan Ginting Institute terhadap Sekolah BLM. Selama tujuh tahun, yayasan ini terlibat dalam proses pembenahan manajemen sekolah, peningkatan kualitas pengajaran, hingga penguatan sistem internal.

Hasilnya mulai terlihat. Pada akhir 2025, sekolah yang sebelumnya menghadapi berbagai tantangan berhasil meraih akreditasi A, sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan peningkatan kualitas akademik, tetapi juga keberhasilan dalam membangun budaya disiplin dan nilai.

“Pendampingan kami tidak hanya di level manajemen, tetapi juga menyentuh guru dan pengurus yayasan. Ini adalah kerja kolektif,” tambah Daniel.

Memasuki tahun 2026, Ginting Institute mulai memperluas cakupan programnya dengan pendekatan yang lebih kolaboratif dan lintas sektor. Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan adalah kampanye kesadaran lingkungan terkait penanganan sampah, yang akan dilakukan di desa Tibubeneng Bali.

Menariknya, program ini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga menggabungkan unsur seni dan pendidikan. Ginting Institute akan bekerja sama dengan para seniman untuk mengajak siswa SD dan karang taruna serta komunitas dalam mengolah sampah menjadi karya kreatif. Ginting Institute bekerjasama dengan desa Tibubeneng juga menyiapkan bahan ajar kesadaran penanganan sampah bagi siswa sekolah.

“Kami ingin mengkombinasikan etika, kesadaran lingkungan, seni, dan pendidikan. Hasil karya anak-anak nanti akan dipamerkan di galeri maupun hotel,” jelas Daniel.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa etika tidak berdiri sendiri. Ia dapat hadir dalam berbagai bentuk termasuk melalui ekspresi kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tahun 2026 dipandang sebagai fase penting bagi Ginting Institute. Dengan kepemimpinan eksekutif direktur yang baru, Daniel berharap yayasan ini dapat bergerak lebih luas dan memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap ini menjadi kebangkitan baru. Kami ingin lebih banyak pihak terlibat dalam mengkampanyekan pentingnya etika dan integritas,” ujarnya.

Bagi Daniel, membangun bangsa tidak hanya soal pembangunan fisik atau ekonomi. Lebih dari itu, ia adalah proses membangun peradaban yang hanya bisa bertahan jika ditopang oleh nilai.

Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan sederhana namun tegas:
“Tetap semangat membangun Indonesia.”

Di tengah tantangan zaman, Ginting Institute hadir bukan hanya sebagai lembaga, tetapi sebagai pengingat bahwa etika dan integritas bukan nilai yang usang, melainkan fondasi yang justru semakin relevan untuk masa depan.