Ginting Institute Dorong Penguatan Ekosistem Seni, Living Eden Jadi Titik Refleksi

img 7833 small 1

Di tengah geliat pameran seni yang kian padat di ibu kota, pembukaan Living Eden di Neo Gallery, Jakarta, Sabtu (4/4/2026), datang dengan nada yang sedikit berbeda. Ia bukan sekadar peristiwa estetika, tetapi juga menyentuh satu isu yang kerap dihindari: lemahnya ekosistem seni rupa Indonesia. Pameran ini dikuratori oleh Anna Sungkar.

Founder Ginting Institute, Daniel Ginting, yang membuka pameran tersebut, secara terbuka menyinggung persoalan yang selama ini berulang, kualitas karya seniman Indonesia diakui, tetapi belum sepenuhnya ditopang oleh sistem yang kuat.

Pameran Living Eden sendiri mengangkat tema alam sebagai ruang estetika, emosional, dan spiritual. Namun di balik narasi tersebut, terselip upaya untuk menarik percakapan yang lebih luas: bagaimana seni diposisikan dalam konteks budaya, ekonomi, dan bahkan etika.

Pameran ini mempertemukan karya maestro seperti Affandi, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Dullah, hingga Basoeki Abdullah dengan generasi seniman kontemporer.

Nama-nama seperti Akbar Linggaprana, Putu Sutawijaya, Siont Teja, Tommy F. Awuy, serta Susilo Bambang Yudhoyono hadir membawa pendekatan yang beragam.

Di luar itu, kehadiran Bambang Sudarto, Chusin Setiadikara, Inda C. Noerhadi, Iryanto Hadi, Ni Nyoman Sani, P. Lanny Andriani, Pardoli Fadli, Prabu Perdana, R.E. Hartanto, dan Syakieb Sungkar memperlihatkan bahwa secara praktik, seni rupa Indonesia tidak kekurangan energi kreatif.

img 7520 msall

Data Pasar: Vietnam Melaju, Indonesia Tertahan

Dalam pidatonya, Daniel mengungkapkan data pasar lelang internasional (Christie’s dan Sotheby’s dari tahun 2020 hingga 2025 ) menunjukkan bahwa Vietnam dalam beberapa tahun terakhir mampu melampaui Indonesia dalam hal konsistensi nilai dan pertumbuhan harga karya.

Perbandingan ini bukan hal baru, tetapi jarang disampaikan secara terbuka di ruang publik seni.

Vietnam dinilai berhasil membangun ekosistem yang lebih terintegrasi dari galeri, kurator, hingga kolektor yang bekerja dalam satu arah. Sementara Indonesia masih cenderung berjalan parsial, dengan ketergantungan besar pada nama-nama besar masa lalu.

img 8019 small

Ekosistem: Kata Kunci yang Terlalu Lama Diulang

Isu ekosistem bukan hal baru dalam diskursus seni rupa Indonesia. Namun, sebagaimana terlihat dalam berbagai momentum, isu ini sering berhenti pada wacana.

Salah satu poin yang mengemuka adalah peran galeri. Dalam praktiknya, relasi antar galeri di Indonesia masih kerap diwarnai kompetisi yang tidak produktif. Alih-alih membangun kolaborasi, tidak sedikit galeri yang justru berjalan sendiri-sendiri, bahkan saling berebut pasar atau menjatuhkan satu sama lain. Pola ini, secara tidak langsung, menghambat pertumbuhan ekosistem yang sehat dan ini menjadi tantangan Galeri untuk saling berkolaborasi, karena biar bagaimana pun dalam ekosistem seni, galeri menjadi simpul penting yang menghubungkan seniman, kolektor, dan publik.

Ginting Institute, dalam konteks ini, mencoba mendorong agar percakapan tersebut bergerak ke arah yang lebih konkret. Bukan hanya melalui diskusi, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam pendidikan, kolaborasi lintas sektor, dan dukungan terhadap ruang-ruang seni.

Pendekatan ini menempatkan seni tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan pendidikan, nilai, dan pembentukan kesadaran publik.

Persoalan lain yang disorot adalah jarak antara seni dan masyarakat. Seni rupa masih kerap diposisikan sebagai ruang eksklusif baik secara akses maupun pemahaman.

Padahal, tanpa basis publik yang kuat, pasar domestik sulit berkembang.

Daniel menegaskan bahwa seni harus kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dinikmati oleh kolektor atau kalangan terbatas, tetapi juga dipahami oleh masyarakat luas.

Living Eden: Simbol atau Awal?

Dalam konteks itu, Living Eden bisa dibaca sebagai dua hal sekaligus: simbol dan peluang.

Simbol, karena ia menunjukkan bahwa dialog lintas generasi masih hidup. Peluang, karena ia membuka ruang untuk percakapan yang lebih jujur tentang kondisi seni rupa Indonesia hari ini.

Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah momentum seperti ini akan berlanjut menjadi gerakan yang lebih sistematis, atau kembali berhenti sebagai peristiwa?

Pameran akan berlangsung hingga 25 April 2026. Selebihnya, pekerjaan rumah tetap ada.

Di tengah semua itu, satu hal menjadi jelas: seni rupa Indonesia tidak kekurangan talenta, tidak kekurangan sejarah, bahkan tidak kekurangan perhatian. Yang masih dicari adalah satu hal yang paling mendasar adalah ekosistem yang benar-benar bekerja.