
Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana: mengenali jenis sampah, membuangnya pada tempat yang tepat, menjaga kebersihan ruang bersama, dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap lingkungan. Gagasan sederhana inilah yang menjadi bagian penting dari program WRQ Sustainable Art – Edukasi “Ayo Peduli Sampah” yang dilaksanakan di Bali.
Pada 21 Agustus 2026, rangkaian program tersebut hadir di MI Al Hasanah, Tibubeneng, Bali. Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup perjalanan “Ayo Peduli Sampah” yang telah berlangsung sejak Juni 2026, menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal persoalan lingkungan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Ayo Peduli Sampah: 271 Siswa SD Fajar Harapan Belajar Menjaga Lingkungan dari Kebiasaan Sehari-hari
Bagi anak-anak, persoalan sampah mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana. Namun, di balik kebiasaan membuang atau mengelola sampah terdapat persoalan yang lebih luas tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap ruang yang digunakan bersama.
Karena itu, edukasi lingkungan tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan. Anak-anak perlu diajak mengalami, memahami, dan membangun kebiasaan yang dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui “Ayo Peduli Sampah”, anak-anak diajak mengenali lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Mereka belajar memahami mengapa sampah perlu dikelola dengan baik dan bagaimana kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan di sekitar mereka.
Pendekatan semacam ini penting karena pendidikan lingkungan pada dasarnya bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga membangun kesadaran mengenai mengapa tindakan tersebut penting. Ketika seorang anak mulai memahami bahwa sampah yang dibuang sembarangan dapat memengaruhi lingkungan dan orang lain, tindakan menjaga kebersihan tidak lagi sekadar menjadi aturan, tetapi perlahan menjadi bagian dari rasa tanggung jawab.

Momen penutupan pada 21 Agustus menjadi kesempatan untuk kembali belajar, berbagi, sekaligus merayakan perjalanan yang telah dilalui bersama. Hadir dalam kegiatan tersebut I Made Kamajaya, SE., Perbekel Tibubeneng, bersama para siswa, guru, dan berbagai pihak yang turut mendukung berlangsungnya program. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan bukan pekerjaan satu pihak saja. Sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak-anak tumbuh dengan kesadaran terhadap persoalan di sekitarnya.

Lebih dari sekadar sebuah rangkaian kegiatan edukasi, “Ayo Peduli Sampah” menjadi ruang untuk menanamkan sebuah pemahaman bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal yang paling dekat. Mengenali sampah, membangun kebiasaan baik, menjaga ruang bersama, dan berani mengambil tanggung jawab atas lingkungan tempat kita hidup.
Baca Juga: 1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan
Bagi Ginting Institute, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kepekaan dan tanggung jawab. Persoalan lingkungan menjadi salah satu ruang penting untuk menumbuhkan nilai tersebut sejak dini.
Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia tumbuh dari sebuah kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dan kemudian menjadi bagian dari karakter. Rangkaian “Ayo Peduli Sampah” mungkin telah sampai pada penghujung program. Namun, harapannya, pembelajaran yang dibawa pulang oleh setiap anak tidak berhenti bersama berakhirnya kegiatan.
Ia terus hidup dalam kebiasaan sehari-hari, dalam cara mereka memperlakukan sampah, menjaga lingkungan, dan memahami bahwa ruang tempat kita hidup adalah tanggung jawab bersama. Pada akhirnya, pendidikan tentang lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam. Ia juga tentang belajar menghargai kehidupan, memahami hubungan kita dengan orang lain, dan menyadari bahwa setiap tindakan kecil memiliki arti.
Dari Bali, perjalanan “Ayo Peduli Sampah” ditutup dengan satu harapan sederhana: semoga kepedulian yang ditanam hari ini tumbuh menjadi kebiasaan baik yang dibawa anak-anak dalam perjalanan mereka ke depan.
