Budaya Lokal Mengajarkan Harmoni dengan Alam: Dari Pengetahuan Leluhur hingga Gerakan Lingkungan

thailand farmer worker

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, di balik hutan, sungai, laut, dan tanah yang membentang dari Sabang hingga Merauke, terdapat kekayaan lain yang tidak kalah penting: pengetahuan masyarakat dalam menjaga hubungan dengan alam. Jauh sebelum istilah sustainability menjadi bagian dari percakapan global, masyarakat di berbagai wilayah Nusantara telah memiliki cara sendiri dalam memahami lingkungan dan mengatur kehidupan agar tetap berjalan seimbang dengan alam.

Dalam banyak tradisi lokal, terdapat pengetahuan mengenai kapan menanam, kapan memanen, bagaimana memanfaatkan hasil bumi, hingga wilayah mana yang harus dijaga. Pengetahuan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk buku atau aturan tertulis. Ia diwariskan melalui cerita, kebiasaan, ritual, kesenian, serta praktik kehidupan sehari-hari. Karena itu, berbicara mengenai keberlanjutan sesungguhnya juga berarti berbicara mengenai kebudayaan.

Dalam kehidupan masyarakat Karo, misalnya, hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan sosial dapat ditemukan dalam tradisi Merdang Merdem atau Kerja Tahun. Tradisi ini bukan sekadar perayaan setelah masa panen, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai siklus pertanian, hasil bumi, kebersamaan, dan rasa syukur atas kehidupan. Ginting Institute turut mengangkat Merdang Merdem (Baca artikel: Merdang Merdem) sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Karo kepada masyarakat yang lebih luas.

Hubungan semacam ini penting untuk kembali dibicarakan di tengah kehidupan modern. Ketika masyarakat semakin jauh dari proses bagaimana makanan tumbuh, dari mana air berasal, atau bagaimana sebuah lingkungan menopang kehidupan, hubungan manusia dengan alam perlahan menjadi semakin abstrak. Budaya lokal dapat membantu mengembalikan hubungan tersebut menjadi sesuatu yang lebih dekat dan nyata.

Persoalan lingkungan hari ini memang berbeda dengan tantangan yang dihadapi masyarakat pada masa lalu. Pertumbuhan kota, pariwisata, pola konsumsi, penggunaan plastik, serta meningkatnya produksi sampah menghadirkan persoalan baru yang membutuhkan pendekatan baru. Namun, prinsip dasarnya tetap sama: manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat ia hidup.

Pemikiran tersebut kemudian menemukan bentuk yang konkret dalam berbagai kegiatan Ginting Institute di Desa Tibubeneng, Bali. Bersama Pemerintah Desa Tibubeneng, Ginting Institute mengembangkan pendidikan lingkungan hidup yang melibatkan siswa sekolah dasar. Anak-anak diperkenalkan pada persoalan sampah, mulai dari mengenali, memilah, hingga memahami bagaimana sampah dapat dikelola. Pendidikan lingkungan kemudian diperluas melalui kegiatan literasi, salah satunya lomba mengarang cerita bertema “Ayo Peduli Sampah” bagi siswa sekolah dasar. (Baca artikel: 1.500 Siswa SD di Tibubeneng Belajar Kelola Sampah, Langkah Awal Membangun Generasi Peduli Lingkungan).

Ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah atau penyampaian secara lisan. Anak-anak dapat belajar melalui pengalaman, kreativitas, cerita, dan keterlibatan langsung dengan persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar. Ketika seorang anak menulis tentang sampah yang ia lihat di sekolah atau di rumah, persoalan lingkungan berubah menjadi sesuatu yang personal dan dekat dengan kehidupannya.

Dari pendidikan, Ginting Institute kemudian mempertemukan persoalan lingkungan dengan seni melalui Tibubeneng Sustainable Art. Sampah dan persoalan lingkungan dibawa ke dalam ruang kreatif untuk dilihat dari perspektif yang berbeda. Seni menjadi medium untuk mengajak masyarakat berhenti sejenak, melihat kembali lingkungan di sekitarnya, dan mempertanyakan hubungan mereka dengan benda-benda yang selama ini dianggap tidak lagi memiliki nilai. (Baca artikel: Pameran Tibubeneng Sustainable Art: Seni Menjadi Ruang Kesadaran Lingkungan dan Perubahan Sosial).

Gagasan tersebut juga menemukan ruang yang lebih luas melalui Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency di Tibubeneng. Ruang ini dikembangkan sebagai tempat bertemunya seni, masyarakat, generasi muda, pendidikan, budaya, dan berbagai gagasan tentang lingkungan. Kehadirannya memperlihatkan bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Ia dapat tumbuh melalui ruang seni, ruang publik, interaksi komunitas, maupun pengalaman langsung.

Apa yang dilakukan Ginting Institute di Tibubeneng memperlihatkan bahwa keberlanjutan dapat dibangun melalui banyak pintu. Pendidikan menjadi salah satunya, seni menjadi pintu lainnya, sementara budaya menyediakan pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya lokal pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga tarian, pakaian adat, bahasa, rumah tradisional, atau ritual agar tidak hilang. Di dalamnya terdapat cara pandang mengenai bagaimana manusia berhubungan dengan tempat tinggalnya, bagaimana sumber daya digunakan, bagaimana komunitas dibangun, dan bagaimana kehidupan berjalan berdampingan dengan lingkungan.

Pengetahuan tersebut tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama. Ia dapat diterjemahkan kembali untuk menjawab persoalan kehidupan hari ini. Nilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun cara baru dalam mendidik generasi muda tentang lingkungan.

Dari sebuah tradisi, kita belajar tentang hubungan manusia dengan alam. Dari sekolah, kita belajar membangun kebiasaan. Dari seni, kita belajar melihat persoalan melalui perspektif yang berbeda. Dan dari masyarakat, kita belajar bahwa perubahan membutuhkan keterlibatan bersama.

Mungkin masa depan keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang semakin canggih, tetapi juga oleh kemampuan kita untuk mengingat kembali pengetahuan yang pernah dimiliki masyarakat sebelum kita. Sebab, sebelum berbicara tentang bagaimana menyelamatkan bumi, kita perlu kembali memahami satu hal sederhana: kita hidup di dalam alam, bukan di luar alam.

Ketika pengetahuan lokal, pendidikan, seni, dan keterlibatan masyarakat dapat berjalan bersama, budaya tidak lagi sekadar menjadi warisan masa lalu. Ia dapat menjadi cara untuk memahami persoalan hari ini sekaligus membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.