Ginting Institute dan Desa Tibubeneng Resmikan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Ruang Kolaborasi Seni untuk Perubahan Sosial dan Lingkungan

 dsf2087 copy small

Tibubeneng, Badung, Bali, 13 Juni 2026 — Ginting Institute bersama Pemerintah Desa Tibubeneng resmi membuka Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency (WRQ), sebuah ruang kolaborasi yang dirancang untuk mempertemukan seniman, masyarakat, generasi muda, dan berbagai komunitas dalam menciptakan perubahan melalui seni, budaya, pendidikan, dan kepedulian lingkungan.

Kehadiran WRQ menjadi bagian dari upaya menghadirkan ekosistem seni yang tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat antara seni dan kehidupan masyarakat. Berlokasi di Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali, ruang ini hadir sebagai tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dan berbagai inisiatif sosial yang berorientasi pada keberlanjutan.

Peresmian Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency sekaligus menjadi puncak dari rangkaian program Tibubeneng Sustainable Art, sebuah gerakan kolaboratif yang mengajak masyarakat untuk melihat persoalan lingkungan, khususnya sampah, melalui pendekatan seni dan pendidikan.

Program ini berangkat dari pemahaman bahwa isu lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis. Dibutuhkan perubahan cara pandang dan kesadaran bersama yang dibangun sejak dini. Melalui seni, sampah tidak hanya dilihat sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga sebagai medium pembelajaran, ekspresi, dan refleksi terhadap hubungan manusia dengan alam.

Pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, menyampaikan bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun kesadaran publik.

 dsf2237 copy small

“Seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan mendorong tindakan. Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency hadir sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, masyarakat, dan berbagai gagasan yang dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Daniel.

Berbeda dari ruang seni konvensional, WRQ dirancang sebagai ruang yang terbuka dan partisipatif. Selain menjadi tempat berkarya dan residensi seniman, WRQ akan menjadi pusat berbagai program edukasi, pengembangan komunitas, pelestarian budaya, serta inisiatif lingkungan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Kepala Desa Tibubeneng, I Made Kamajaya, mengatakan bahwa kolaborasi bersama Ginting Institute memperkuat komitmen desa dalam membangun lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Menurutnya, pendekatan seni menjadi salah satu cara efektif untuk mengajak masyarakat terlibat karena pesan lingkungan dapat disampaikan melalui pengalaman kreatif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Ketika pesan lingkungan hadir melalui karya seni dan kegiatan kreatif, masyarakat dapat lebih mudah memahami dan merasakan relevansinya. Ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bersama, terutama bagi generasi muda,” katanya.

Rangkaian Tibubeneng Sustainable Art sebelumnya dimulai melalui program edukasi lingkungan “Ayo Peduli Sampah” yang melibatkan siswa sekolah dasar di Desa Tibubeneng. Para siswa diperkenalkan pada pengelolaan sampah, prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace), pengolahan kompos, hingga pemahaman mengenai dampak limbah terhadap lingkungan.

Program tersebut kemudian berkembang melalui workshop kreatif yang melibatkan seniman Bali dan Indonesia. Melalui workshop Plasticology bersama Made Bayak, peserta diajak memahami bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan lingkungan.

Selain itu, workshop kartun bersama Jango Pramartha memperkenalkan pendekatan visual storytelling, di mana isu lingkungan diterjemahkan melalui gambar dan narasi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Pada pembukaan WRQ, masyarakat dapat melihat hasil perjalanan kolaborasi tersebut melalui pameran karya yang melibatkan siswa SD Desa Tibubeneng bersama sejumlah seniman Bali dan Indonesia, antara lain Made Wianta, Made Bayak, Boy Andry, Jango Pramartha, Gus Surya Dharma, Chuk Handono, Pinky, Putu Dian Ujiana, Tjandra Hutama, dan Andang Iskandar.

Karya-karya yang ditampilkan membawa berbagai refleksi mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah menjadi karya yang menghadirkan pesan tentang kepedulian, tanggung jawab, dan keberlanjutan.

Ke depan, Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency akan terus mengembangkan berbagai program yang mempertemukan seni, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi bersama seniman, komunitas, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat menjadikan Tibubeneng sebagai contoh bahwa seni dapat mengambil peran aktif dalam membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Melalui WRQ, seni tidak ditempatkan sebagai ruang eksklusif, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan manusia dengan persoalan di sekitarnya. Sebuah ruang yang menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi bagian dari solusi.

Pameran Tibubeneng Sustainable Art terbuka untuk umum hingga 30 Juni 2026 di Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Bali.