
Pendidikan tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak pengetahuan yang diterima peserta didik di dalam kelas. Di balik proses belajar yang baik, terdapat tata kelola sekolah yang sehat, budaya yang membentuk karakter, serta pengalaman yang mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan setelah lulus.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam podcast Ginting Institute bersama Dr. Mochammad Mukti Ali, S.E., M.M., sosok yang telah hampir tujuh tahun terlibat dalam perjalanan Ginting Institute mendampingi pengembangan pendidikan di Sekolah Plus Berkualitas Lengkong Mandiri (BLM), sekolah yang didirikan Prof. Dr. Soebroto almarhum dan diperuntukkan bagi masyarakat sekitar.
Kolaborasi tersebut bermula dari sebuah kegiatan mengenai etika pendidikan yang diselenggarakan di BLM. Mukti Ali saat itu diundang sebagai salah satu pembicara untuk berbagi pemikiran mengenai bagaimana membangun pendidikan yang baik bagi masyarakat dengan etika sebagai salah satu fondasinya.
Seiring waktu, keterlibatannya berkembang menjadi pendampingan yang lebih luas, khususnya dalam pembenahan tata kelola sekolah. Salah satu persoalan yang dihadapi BLM adalah pengelolaan keuangan dan arus kas yang berpengaruh terhadap keberlangsungan operasional sekolah.
Menurut Mukti Ali, pembenahan tata kelola kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan BLM. Ia menceritakan bahwa jika sebelumnya yayasan harus memberikan subsidi setiap bulan untuk mendukung operasional, kondisi tersebut perlahan berubah. Pengelolaan yang semakin baik membuat arus kas sekolah menjadi positif dan memberikan ruang yang lebih sehat bagi sekolah untuk menjalankan kegiatannya.
Perubahan dalam tata kelola tidak berhenti pada persoalan keuangan. Bagi Mukti, pengelolaan sekolah yang baik memiliki hubungan langsung dengan kualitas proses pendidikan.
Sekolah adalah sebuah ekosistem. Ketika aspek pengelolaan berjalan dengan baik, kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung tanpa terus-menerus terganggu oleh persoalan mendasar. Dalam kondisi tersebut, guru dapat lebih fokus mendampingi siswa dan peserta didik memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan potensinya.
Perjalanan BLM kemudian memperlihatkan munculnya berbagai prestasi peserta didik. Apa yang dahulu disebut Prof. Subroto sebagai “bibit unggul” mulai menemukan ruang untuk tumbuh. Sejumlah alumni mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa, termasuk kesempatan belajar ke Beijing, Tiongkok, dan melanjutkan pendidikan tinggi di berbagai institusi, termasuk Universitas INABA.
Namun, bagi Ginting Institute, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari jumlah siswa yang mendapatkan beasiswa atau memenangkan kompetisi. Ada sesuatu yang lebih mendasar: karakter.
Mukti Ali menegaskan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan dengan knowledge, tetapi juga manusia dengan karakter. Karena itu, pembentukan karakter tidak hanya ditujukan kepada peserta didik. Para pendidik juga harus menjadi bagian dari budaya tersebut.
Hal-hal sederhana dalam keseharian menjadi penting. Membiasakan salam, datang tepat waktu, membangun kedisiplinan, dan menciptakan lingkungan yang saling menghargai merupakan bagian dari proses pendidikan karakter. Nilai tidak cukup disampaikan sebagai teori; ia harus hadir dalam kebiasaan yang dialami secara konsisten.
Gagasan tersebut sejalan dengan visi Ginting Institute bahwa pendidikan merupakan proses membangun manusia secara utuh. Pengetahuan memberikan bekal untuk memahami dunia, sementara karakter membantu seseorang menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan vokasi, pembelajaran juga tidak dapat berhenti pada ijazah. Dunia kerja membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi dan mampu membuktikannya melalui pengalaman nyata.
Mukti melihat bahwa kebutuhan industri saat ini semakin menuntut adanya kompetensi yang konkret. Sertifikat pendidikan formal menjadi salah satu bagian dari perjalanan, tetapi pengalaman, keterampilan, sertifikasi kompetensi, serta praktik kerja juga menjadi penting.
Di sinilah pendidikan perlu membangun hubungan yang lebih erat dengan dunia industri. Program magang atau internship dapat menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Konsep link and match antara pendidikan dan industri sebenarnya bukan gagasan baru. Tantangannya adalah bagaimana konsep tersebut benar-benar diwujudkan dalam praktik. Salah satu caranya adalah dengan melibatkan lebih banyak praktisi industri dalam proses pembelajaran.
Ginting Institute telah mendorong pendekatan tersebut melalui keterlibatan praktisi dari dunia industri untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan peserta didik BLM. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengetahui apa yang dipelajari di sekolah, tetapi juga memahami bagaimana kompetensi tersebut digunakan dalam dunia kerja.
Ke depan, kolaborasi yang lebih luas dengan industri diharapkan dapat membantu sekolah membaca kebutuhan tenaga kerja secara lebih tepat. Industri dapat menyampaikan kompetensi yang dibutuhkan, sementara sekolah mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan yang relevan.
Bagi Mukti Ali, model pendidikan seperti inilah yang perlu terus diperkuat. Pendidikan, pemerintah, dan dunia usaha tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya perlu membangun sinergi agar pendidikan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Ia bahkan menyampaikan keyakinannya bahwa kolaborasi semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas. Kuncinya adalah mempertemukan tiga unsur penting: akademisi, pemerintah, dan dunia bisnis.
Pada akhirnya, perjalanan Ginting Institute bersama BLM menunjukkan bahwa membangun sekolah berkualitas bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan hanya dengan memperbaiki satu aspek. Tata kelola perlu dibenahi, karakter perlu dibangun, dan kompetensi perlu dipraktikkan.
Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang lulus. Sekolah perlu membantu melahirkan manusia yang mampu melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, berkontribusi kepada masyarakat, dan tetap memiliki karakter sebagai pijakan dalam menjalani kehidupan.
Inilah mengapa pendidikan menjadi ruang penting bagi Ginting Institute: bukan hanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi untuk membangun ekosistem yang memungkinkan setiap anak menemukan kesempatan untuk tumbuh dan menjadi bagian dari masa depan Indonesia.
