
Di tengah ritme kehidupan yang semakin cepat dan padat, ruang untuk berhenti, mengamati, dan bernapas sering kali menjadi kemewahan. Dari kesadaran inilah lahir OXYGEN, pameran tunggal seniman Agus Budiyanto di Galeri ZEN1 (Jalan Purworejo No. 24, Dukuh Atas, Menteng, Jakarta Pusat), yang mengajak publik memaknai kembali hubungan antara manusia, alam, dan pengalaman batin melalui medium cat air.
Pameran yang dibuka oleh Hadi Cahyadi dan dikuratori oleh Rizki A. Zaelani ini menghadirkan rangkaian karya abstrak yang tidak menawarkan bentuk-bentuk yang mudah dikenali. Sebaliknya, Agus mengajak penikmat seni memasuki pengalaman visual yang dibangun melalui lapisan warna, aliran air, ritme, dan energi yang bergerak secara intuitif.
Menariknya, Agus sendiri tidak pernah menempatkan abstraksi sebagai tujuan utama dalam berkarya.
“Saya sebenarnya tak bermaksud membuat karya abstrak, selain hanya mengikuti aliran energi alam yang hidup dalam diri saya.”
Pernyataan tersebut menjadi kunci untuk memahami keseluruhan pameran ini. Abstraksi dalam karya-karyanya bukan hasil dari upaya menghindari bentuk, melainkan konsekuensi alami dari proses kreatif yang mengikuti kesadaran, intuisi, dan energi yang mengalir dari dalam dirinya.

Judul OXYGEN tidak sekadar merujuk pada unsur kimia yang menopang kehidupan. Dalam pembacaan kurator Rizki A. Zaelani, oksigen hadir sebagai metafora atas sesuatu yang semakin dibutuhkan manusia modern: ruang untuk bernapas secara batin.
Di tengah kehidupan perkotaan yang dipenuhi rutinitas, tekanan, dan tuntutan produktivitas, manusia perlahan kehilangan hubungan dengan alam maupun dirinya sendiri. Kota-kota besar menciptakan ruang hidup yang semakin padat, sementara waktu untuk mengalami keheningan menjadi semakin sempit.
Melalui karya-karya Agus Budiyanto, seni diposisikan sebagai “oksigen” yang memberi kesempatan bagi manusia untuk berhenti sejenak, merasakan kembali, dan menghidupkan sensitivitas yang kerap tertutup oleh kesibukan sehari-hari.
Selama ini medium cat air sering dipahami sebagai teknik yang identik dengan kelembutan, transparansi, dan representasi lanskap. Agus Budiyanto justru membawa medium tersebut ke wilayah yang lebih eksperimental.
Air bukan lagi sekadar pelarut warna, melainkan bagian dari proses penciptaan itu sendiri. Pigmen mengalir mengikuti gravitasi, saling bertemu, bertabrakan, lalu membentuk lapisan-lapisan visual yang sulit direkayasa secara sepenuhnya. Setiap sapuan menghadirkan kemungkinan baru yang tidak selalu dapat diprediksi.
Proses inilah yang membuat karya Agus terasa hidup. Warna-warna seolah bergerak mengikuti irama alam, menciptakan komposisi yang lahir dari dialog antara kontrol seniman dan spontanitas medium. Agus menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang mengendalikan material, tetapi juga tentang memberi ruang bagi alam untuk ikut berbicara.
Rizki A. Zaelani menjelaskan bahwa imaji-imaji abstrak dalam karya Agus lahir dari proses internalisasi pengalaman inderawi. Karena itu, karya-karya tersebut tidak dimaksudkan untuk dibaca secara literal, melainkan dirasakan melalui sensitivitas, intuisi, dan pengalaman batin setiap individu. Lapisan warna, gerak visual, kontras, hingga ruang-ruang kosong di dalam komposisi menjadi bagian dari pengalaman yang terus hidup selama karya dipandang.

Dalam konteks ini, setiap orang akan menemukan “oksigen”-nya sendiri. Ada yang melihat ketenangan. Ada yang merasakan energi. Ada pula yang menemukan ruang refleksi terhadap kehidupan yang sedang dijalani.
Meskipun tidak menghadirkan bentuk-bentuk alam secara langsung, karya Agus justru memiliki hubungan yang sangat kuat dengan semesta. Energi alam hadir melalui ritme warna, aliran air, tekstur, dan ruang yang terbentuk secara organik. Alih-alih menggambarkan gunung, laut, atau pepohonan, Agus menghadirkan pengalaman tentang bagaimana alam bekerja, mengalir, berubah, bertumbuh, dan terus bergerak.
Pendekatan ini membuat abstraksi dalam OXYGEN terasa dekat dengan kehidupan. Ia tidak meminta penonton memahami teori seni, tetapi mengajak mereka kembali pada pengalaman paling dasar sebagai manusia: bernapas, merasakan, dan terhubung dengan alam.
Melalui eksplorasi cat air yang intuitif, Agus Budiyanto memperlihatkan bahwa abstraksi bukan sekadar bentuk visual, melainkan pengalaman batin yang terus bergerak bersama setiap orang yang memandangnya.
Pada akhirnya, OXYGEN bukan hanya sebuah pameran lukisan cat air. Ia menjadi ajakan untuk kembali menemukan ruang bernapas di tengah kehidupan modern, ruang di mana seni, alam, dan manusia saling bertemu dalam keheningan yang penuh makna. Pameran ini berlangsung sampai tanggal 11 Agustus 2026.
