Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua, Menghadirkan Dialog Seni Melintasi Ruang dan Waktu

20b102b3 a479 452c 8f48 6fde8a471222

Pameran seni rupa “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua” hadir sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan karya-karya seni dari berbagai generasi, latar pengalaman, serta lingkungan penciptaan yang berbeda. Pameran ini menghadirkan gagasan bahwa sebuah karya seni tidak pernah lahir secara terpisah, melainkan selalu memiliki hubungan dengan karya-karya yang telah hadir sebelumnya, pengalaman manusia, serta berbagai konteks yang membentuknya.

Melalui pendekatan tersebut, pameran ini mengajak para seniman untuk merespons karya yang telah ada melalui ekspresi artistik baru. Hubungan antara karya lama dan karya baru tidak dipandang sebagai pengulangan, melainkan sebagai percakapan kreatif yang terus berkembang—sebuah dialog imajiner yang melintasi ruang dan waktu, mempertemukan masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan.

Tema “Sahaja” menyoroti momen ketika rupa bersua—ketika sebuah karya berdampingan dengan karya lainnya dan membuka ruang bagi lahirnya pemaknaan baru. Pertemuan tersebut tidak hanya memperlihatkan hubungan antara penciptaan sebelumnya dengan penciptaan berikutnya, tetapi juga menghadirkan kemungkinan munculnya tafsir, inspirasi, dan pengalaman artistik yang baru.

Dalam konteks ini, seni dipahami sebagai proses yang terus bergerak. Ia tidak berhenti pada satu bentuk, satu pemahaman, ataupun satu batasan tertentu. “Kala Rupa Bersua” tidak berupaya menempatkan karya dalam hierarki nilai, melainkan menghadirkan ruang yang memungkinkan setiap karya berbicara melalui keberadaannya sendiri.

Pameran ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali hubungan antara seni, seniman, dan karya seni. Selama ini, pemahaman terhadap sebuah karya sering kali dikaitkan dengan latar pengetahuan, konsep, atau pengalaman penciptanya. Namun, melalui “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA”, karya diberikan ruang untuk hadir sebagai entitas yang dapat menyapa, berinteraksi, dan membangun hubungan dengan karya lain maupun dengan publik yang mengapresiasinya.

Setiap karya yang hadir membawa jejak pengalaman manusia, nilai-nilai etis, kondisi sosial budaya, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan semesta yang lebih luas. Karya seni tidak hanya menjadi objek visual yang dilihat, tetapi juga menjadi ruang pengalaman yang terus terbuka untuk ditafsirkan oleh berbagai generasi.

Pertemuan antara karya yang telah ada dan karya yang baru tercipta menunjukkan bahwa perjalanan seni selalu berlangsung melalui proses saling merespons, saling memengaruhi, dan saling menghidupkan. Sebuah karya dapat menjadi awal bagi karya berikutnya, membangun kesinambungan gagasan yang membuat seni terus tumbuh dan berkembang.

Lebih dari sekadar sebuah pameran, “Rimpang Rasa, Narasi Rawan. SAHAJA: Kala Rupa Bersua” merupakan undangan untuk memahami seni sebagai ruang perjumpaan, refleksi, dan dialog. Seni tidak berhenti di ruang pamer, tetapi hadir di tengah masyarakat sebagai medium untuk membuka percakapan, membangun empati, serta memperluas cara manusia memahami kehidupan.

Melalui peristiwa ketika rupa bersua ini, seni dihadirkan bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan, direnungkan, diperdebatkan, dan terus dihidupkan sebagai bagian dari perjalanan bersama dalam memahami manusia, dunia, dan berbagai kemungkinan makna yang lahir di antaranya.

Baca Juga: Ruang Dialog Seni di Tengah Perjumpaan Ekosistem Seni Rupa Indonesia

Foto-foto: Jessy