Peluncuran Buku ‘Rimpang Rasa’: Menelusuri Rasa dalam Seni Lukis Indonesia

dsc01532 small

Daniel Ginting berbagi dua dekade perjalanan mengoleksi dan memahami karya seni lukis Indonesia

Jakarta, 30 Oktober 2025 – Advokat senior Daniel Ginting, meluncurkan buku seni rupa berjudul ‘Rimpang Rasa’, sebuah catatan perjalanan pribadi bersama sang istri, Quoriena Ginting, dalam mengenal, mengoleksi, merawat, dan terlebih lagi mempelajari seni lukis Indonesia. Diproduksi terbatas hanya 500 eksemplar, buku setebal 350 halaman yang dicetak indah ini menampilkan 140 karya lukis dari koleksi pribadi mereka yang dikumpulkan selama lebih dari 20 tahun.

“Buku ini bukan sekadar daftar koleksi. Ini adalah perjalanan memahami filosofi dan nilai di balik setiap karya seni lukis Indonesia, bagaimana keindahan dan makna saling bertaut dalam sebuah lukisan,” ujar Daniel dalam peluncuran bukunya di Soehanna Hall, Jakarta, sore tadi.

Peluncuran buku ini juga menghadirkan Rizki A. Zaelani, kurator seni rupa yang mengusulkan judul ‘Rimpang Rasa’ dan mendampingi proses penyusunan buku. Rizki menggambarkan buku ini sebagai sebuah ‘eksperimen tanpa preseden’ yakni upaya seorang kolektor menjelaskan sendiri hubungannya dengan seni dari sudut pandang pribadi.

 mm 2387 small

Makna di Balik ‘Rimpang Rasa’

Judul ‘Rimpang Rasa’ menjadi kunci memahami narasi di dalam buku. ‘Rimpang’ melambangkan batang tanaman yang menjalar dan terus tumbuh, sementara ‘Rasa’ mewakili intuisi, kepekaan, dan koneksi batin terhadap karya seni. Seperti batang yang bertumbuh, perjalanan ini merekam bagaimana perasaan dan pengalaman menjadi dasar setiap pilihan karya yang dipelihara.

Seni sebagai Proses Belajar

Bagi Daniel, mengoleksi seni bukan hanya tentang investasi, melainkan sebuah proses pembelajaran tanpa akhir. “Seorang kolektor senior pernah berkata kepada saya, lebih baik memiliki satu karya masterpiece daripada sepuluh lukisan biasa dari pelukis yang sama. Prinsip itu menjadi pegangan saya hingga kini,” ujarnya.

Perjalanan bersama Quoriena

Kecintaan Daniel terhadap seni sejalan dengan istrinya Quoriena, yang turut menelusuri perjalanan ini sejak awal. Keduanya memulai dari koleksi furnitur klasik, porselen Tiongkok, perunggu, dan wastra Nusantara sebelum akhirnya jatuh hati pada lukisan. Mereka berbagi peran, Quoriena mengikuti rasa dan keindahan visual, sementara Daniel menelusuri sejarah dan konteks karya.

Salah satu kisah paling berkesan adalah perjuangan mereka membawa pulang lukisan lima penari karya maestro Nyoman Gunarsa dari Bali. Lukisan besar berwarna hijau lembut itu kini menjadi pusat ruang keluarga mereka, menghadirkan ketenangan, harmoni, dan cerita yang terus hidup di antara para tamu yang datang berkunjung.

dsc01676 small

Karya Seni Menyapa Publik

Rasa ingin tahu publik terhadap koleksi lukisan Daniel Ginting dapat dipenuhi dengan mengunjungi pameran Rimpang Rasa yang berlangsung hingga Sabtu, 1 November 2025, di tempat yang sama. Pameran ini mengajak pengunjung menikmati sekaligus memahami gagasan yang dibangun Daniel selama dua dekade perjalanannya sebagai kolektor seni lukis. Setiap karya dipilih karena memiliki energi dan makna yang merepresentasikan kekayaan ekspresi seni lukis Indonesia.

Karya-karya yang ditampilkan disusun berdasarkan tema-tema yang juga diangkat dalam buku Rimpang Rasa, menghadirkan dialog antara pengalaman pribadi, estetika, dan pemikiran. Berkunjung ke pameran ini, seolah bertamu di beranda rumah kolektor yang pintunya terbuka lebar bagi para pecinta seni, kolektor, dan calon kolektor, untuk bersama-sama merayakan keindahan dan kedalaman karya seni lukis Indonesia.

Beberapa karya yang dapat dinikmati di pameran ini antara lain:

  • Han Snel, karya yang menjadi titik awal eksplorasi Daniel terhadap abstraksi Indonesia.
  • Srihadi Soedarsono, yang menggambarkan dinamika alam dan emosi manusia.
  • Dede Eri Supria, dengan realisme yang menyentuh sisi personal dan sosial.

Lebih dari Sekadar Buku

Melalui ‘Rimpang Rasa’, Daniel berharap pembaca dapat menemukan cara pandang baru dalam menikmati seni, bahwa setiap karya memiliki kehidupan, dan setiap kolektor adalah penjaga kisah di baliknya. “Semoga buku ini menjadi ruang refleksi bagi siapa pun yang mencintai seni, sekaligus pengingat bahwa keindahan akan selalu bertumbuh dari rasa,” tutupnya.