Mengenal Hendra Gunawan dari Cerita Nuraeni

image
Hendra Gunawan, Bukit Nyalindung, 90 x 150 cm, Cat minyak di atas kanvas, 1974

Bagi seorang kolektor, sebuah karya seni tidak selalu berhenti sebagai benda yang dipajang dan dinikmati secara visual. Ada kalanya sebuah lukisan justru menjadi pintu masuk menuju cerita yang lebih panjang, tentang seorang seniman, kehidupan yang pernah dijalani, dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Pengalaman itulah yang dirasakan Daniel Ginting ketika berkesempatan mengenal Nuraeni, istri almarhum Hendra Gunawan.

Pertemuan Daniel dengan Nuraeni bermula dari sebuah lukisan lanskap karya Hendra Gunawan yang ia dan sang istri Quoriena peroleh dari keluarga kolektor lama yang dulu cukup dekat dengan Hendra. Pada suatu kesempatan, Daniel membawa karya tersebut untuk diperlihatkan kepada Nuraeni. Di hadapan lukisan itu, Nuraeni mengenali tempat yang tergambar sebagai Bukit Nyalindung. Baginya, lanskap tersebut bukan sekadar pemandangan yang pernah dilihat Hendra, melainkan bagian dari sebuah kenangan bersama.

Nuraeni bercerita bahwa ia dan Hendra sering melewati kawasan tersebut dengan sepeda motor. Di tempat perhentian itu juga ada penjaja makanan dan minuman. Bagi Daniel, cerita sederhana itu membuat lukisan tersebut terasa berbeda. Sebuah lanskap yang sebelumnya hadir sebagai karya seni tiba-tiba memiliki hubungan dengan pengalaman hidup dua manusia. Daniel bahkan membayangkan tempat itu sebagai semacam “bukit cinta”, sebuah ruang kecil yang menyimpan kenangan personal di balik sebuah karya.

Daniel pertama kali bertemu Nuraeni melalui Eddy Soetriyono. Ia datang ke rumah Nuraeni di Bandung yang sederhana, bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya. Pada pertemuan awal, suasananya masih cukup formal. Nuraeni juga tidak banyak membicarakan lukisan-lukisan Hendra. Namun, seiring beberapa kali pertemuan, hubungan tersebut menjadi lebih dekat dan percakapan mulai membuka cerita-cerita yang sebelumnya tidak banyak diketahui Daniel.

Dari Nuraeni, Daniel mengenal Hendra bukan hanya sebagai nama besar dalam sejarah seni rupa Indonesia, tetapi sebagai seorang suami, ayah, dan manusia dengan perjalanan hidup yang panjang. Nuraeni sendiri menikah dengan Hendra ketika keduanya berada di penjara Kebon Waru. Setelah Nuraeni dibebaskan lebih dahulu, ia menjalani kehidupan sambil membesarkan anak mereka, sementara Hendra masih berada di dalam penjara.

Cerita Nuraeni memberikan perspektif yang berbeda dari apa yang mungkin ditemukan melalui buku sejarah, penelitian, atau tulisan para kritikus seni. Bagi Daniel, pengetahuan mengenai seorang seniman tidak hanya datang dari para ahli. Orang-orang terdekat yang hidup bersama sang seniman juga menyimpan potongan sejarah yang sangat berharga.

Menariknya, Nuraeni bukan hanya seseorang yang mendampingi Hendra dalam kehidupan pribadi. Ia juga seorang pelukis. Ia belajar melukis dari Hendra ketika keduanya berada di Kebon Waru. Daniel dan Quoriena kemudian mengoleksi salah satu karya Nuraeni yang menggambarkan seorang perempuan sedang menyetrika. Karya tersebut memperlihatkan kekuatan garis dan permainan warna yang menjadi bagian dari ekspresinya.

image
Nuraeni, Nyetrika, 72 x 98 cm, Cat minyak di atas kanvas, 1978

Pengalaman bersama Nuraeni membuat Daniel melihat bahwa sebuah koleksi pada akhirnya bukan hanya tentang memiliki karya. Setiap karya dapat membawa cerita, hubungan, dan ingatan yang saling terhubung. Ketika cerita itu datang langsung dari seseorang yang pernah hidup bersama sang seniman, sebuah karya seakan mendapatkan lapisan makna baru.

Kini, Nuraeni telah berpulang. Namun cerita yang pernah ia bagikan tidak ikut hilang. Kenangan tentang Hendra Gunawan, perjalanan hidup mereka, dan kisah-kisah kecil di balik karya akan terus menjadi bagian dari perjalanan mengenal seorang seniman.

Selamat jalan Ibu Nuraeni. Terima kasih telah berbagi cerita, kenangan, dan sepotong kehidupan Hendra Gunawan kepada kami. Semoga cerita-cerita itu terus hidup, sebagaimana karya dan ingatan yang telah engkau tinggalkan.