Seni dapat membuka percakapan, membangun empati, dan mendorong lahirnya tindakan yang membawa perubahan
Dialog berlangsung di tengah hangatnya perhelatan ArtJog 2026, yakni di Kiniko Art, Yogyakarta, pada Sabtu (20/6), mempertemukan seniman, kurator, kolektor, dan masyarakat pencinta seni dalam sebuah percakapan yang hidup tentang seni rupa Indonesia. Percakapan tidak hanya terjadi di antara para pembicara, tetapi juga melalui lukisan-lukisan yang saling merespons, menunjukkan bahwa sebuah karya dapat terus melahirkan tafsir dan pemahaman baru jauh setelah proses penciptaannya selesai. Diskusi yang dimoderatori seniman senior Yogyakarta, Jumaldi Alfi, berlangsung seru bersama Ugo Untoro, Daniel Ginting, dan kurator seni Rizki A. Zaelani sebagai pembicara, membahas berbagai tantangan, kegelisahan, sekaligus harapan bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Kehadiran Ugo Untoro sebagai pembicara mewakili seniman yang juga ikut berkarya merespon lukisan Lee Man Fong dan Itji Tarmidji, mengutarakan pentingnya pengetahuan sejarah seni rupa Indonesia bagi generasi sekarang. Percakapan berangkat dari kesadaran bahwa seni lahir dari pengalaman yang sangat personal. Setiap lukisan membawa jejak pemikiran, pengetahuan, emosi, dan perjalanan hidup penciptanya. “Bagi kami, setiap lukisan punya makna,” ujar Daniel Ginting. Bersama Quoriena istrinya, Daniel mengoleksi karya seni bukan semata untuk memeliki dan menikmati keindahannya, melainkan untuk memahami cerita dan gagasan yang hidup di baliknya. Namun, upaya memahami konteks sebuah karya sering kali tidak mudah karena referensi dan literatur seni Indonesia masih terbatas. Dalam kesempatan tersebut, Rizki A. Zaelani mengingatkan bahwa seniman tidak hanya melahirkan karya, tetapi juga pengetahuan. Dengan mempelajari karya para seniman terdahulu, kita dapat menyelami pengalaman hidup, pemikiran, dan konteks zamannya. Dari proses itulah lahir kemungkinan-kemungkinan baru untuk melihat, memahami, dan memaknai dunia. Semangat pertukaran gagasan itu juga tercermin melalui lukisan-lukisan yang hadir di Kiniko Art. Karya-karya dari koleksi pribadi Daniel dan Quoriena Ginting dipertemukan dengan respons para seniman yang membacanya dari sudut pandang berbeda. Pertemuan ini menunjukkan bahwa seni tidak pernah berhenti pada satu tafsir. Ia terus hidup melalui percakapan, pengalaman, dan perspektif yang dibawa setiap orang. Pada akhirnya, seni menjadi ruang perjumpaan yang menghubungkan gagasan, pengalaman hidup, dan cara pandang yang beragam. Foto-foto: Jessy

