Mengapa Kita Perlu Belajar Mengatakan “Saya Tidak Tahu”?

Confused Asian Girl Spread Empty Hands Sideways Shrugging Shoulders Clueless Standing Tshirt 1024x683

Ada satu kalimat yang sering terasa sulit diucapkan: “Saya tidak tahu.”

Di lingkungan yang menghargai pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan, mengakui ketidaktahuan kadang dianggap sebagai kelemahan. Kita ingin terlihat mampu menjawab pertanyaan, memahami situasi, dan memiliki solusi. Akibatnya, tidak jarang seseorang memilih memberikan jawaban meskipun sebenarnya belum mengetahui persoalannya dengan baik.

Padahal, mengatakan “saya tidak tahu” bisa menjadi awal dari pengetahuan yang lebih jujur. Ketidaktahuan bukan selalu sesuatu yang harus disembunyikan. Ia adalah kondisi yang wajar dalam kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang mengetahui segala sesuatu. Bahkan orang yang sangat berpengalaman tetap berhadapan dengan situasi baru yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

Masalahnya bukan pada tidak tahu. Masalah muncul ketika seseorang tidak tahu tetapi berpura-pura tahu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat akibatnya dengan mudah. Informasi yang belum diperiksa dibagikan sebagai fakta. Pendapat pribadi disampaikan seolah-olah merupakan kebenaran. Saran diberikan tanpa memahami konteks. Di media sosial, sebuah potongan informasi dapat menyebar sangat cepat sebelum seseorang sempat bertanya apakah informasi tersebut benar.

Karena itu, mengatakan “saya tidak tahu” sebenarnya membutuhkan keberanian. Kalimat tersebut membuka ruang untuk bertanya, mendengarkan, mencari informasi, dan belajar. Ia juga menunjukkan bahwa seseorang mampu membedakan antara apa yang benar-benar diketahuinya dan apa yang hanya diasumsikannya.

Ada kualitas penting di balik sikap tersebut: kerendahan hati intelektual. Kerendahan hati intelektual bukan berarti meragukan semua hal. Sebaliknya, ia berarti menyadari bahwa pengetahuan kita memiliki batas. Kita bisa yakin terhadap sesuatu sekaligus tetap terbuka terhadap informasi baru.

Dalam pekerjaan, sikap ini juga dapat menciptakan budaya yang lebih sehat. Seorang pemimpin yang berani mengatakan “saya belum tahu” memberikan ruang kepada anggota tim untuk menyampaikan perspektif. Seorang guru yang mengakui bahwa dirinya belum mengetahui sebuah jawaban menunjukkan bahwa belajar bukan proses yang hanya dimiliki murid. Bahkan dalam keluarga, orang tua yang mau mendengarkan penjelasan anak dapat membangun hubungan yang lebih terbuka.

Mungkin kita perlu mengubah cara melihat ketidaktahuan. Tidak tahu bukan akhir dari sebuah percakapan. Ia justru bisa menjadi awal. Kita bisa melanjutkannya dengan pertanyaan: “Bagaimana kita bisa mengetahuinya?”

Di tengah dunia yang dipenuhi informasi, kemampuan untuk mengetahui batas antara fakta, asumsi, opini, dan ketidaktahuan menjadi semakin penting. Sebab menjadi manusia yang berpengetahuan bukan berarti memiliki semua jawaban. Kadang-kadang, ia dimulai dari keberanian untuk mengatakan bahwa kita belum memilikinya.