Makna Etika dalam Peribahasa “Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung”

two backpacker girls chat while using map front religious tourism temple

Etika bukan sesuatu yang hanya kita perlukan ketika berhadapan dengan orang lain; ia juga menentukan bagaimana kita memperlakukan ruang, alam, dan tempat yang bukan milik kita.

Setiap perjalanan mempertemukan kita dengan sesuatu yang berbeda: bahasa, makanan, kebiasaan, agama, aturan, bahkan cara masyarakat memandang ruang publik. Karena itu, menjadi wisatawan sebenarnya bukan hanya soal pergi ke tempat baru, tetapi juga belajar bagaimana menjadi tamu yang tahu diri.

Setiap 27 September, dunia memperingati World Tourism Day atau Hari Pariwisata Sedunia. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana pariwisata bukan sekadar industri yang menggerakkan ekonomi, tetapi juga ruang perjumpaan antarmanusia dan antarbudaya. Dalam pembahasan UN Tourism, pariwisata memiliki potensi untuk membangun pemahaman lintas budaya, mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda, dan mendorong sikap saling menghormati.

Dalam beberapa tahun terakhir, gagasan tentang ethical tourism atau pariwisata beretika juga semakin mendapat perhatian. Perubahan cara orang bepergian tidak lagi hanya berbicara tentang ke mana harus pergi dan apa yang bisa dilihat, tetapi juga tentang dampak yang ditinggalkan setelah perjalanan selesai. Apakah kehadiran wisatawan membantu masyarakat setempat? Apakah uang yang dibelanjakan ikut menggerakkan ekonomi lokal? Apakah lingkungan tetap terjaga? Dan apakah budaya yang kita datangi diperlakukan sebagai kehidupan yang perlu dihormati, bukan sekadar pengalaman untuk dikonsumsi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia. Dengan ribuan pulau dan keragaman ekosistem serta budaya, Indonesia memiliki banyak destinasi yang sekaligus menjadi ruang hidup masyarakat. Hutan, laut, kawasan konservasi, desa adat, situs bersejarah, hingga ruang-ruang keagamaan bukan hanya aset pariwisata, tetapi bagian dari kehidupan yang sudah ada jauh sebelum wisatawan datang.

Karena itu, pembicaraan mengenai pariwisata berkelanjutan tidak cukup berhenti pada persoalan mengurangi sampah atau memilih akomodasi yang lebih ramah lingkungan. Keberlanjutan juga berkaitan dengan bagaimana pariwisata memberi manfaat kepada masyarakat lokal, menjaga keberlangsungan budaya, melindungi alam, dan membuat wisatawan memahami tanggung jawabnya sebagai tamu.

Pendekatan semacam ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk: pariwisata berbasis masyarakat yang melibatkan warga lokal, program konservasi satwa dan habitat, perjalanan yang mendukung usaha kecil serta pengrajin setempat, hingga akomodasi yang berupaya mengurangi penggunaan energi dan menghasilkan lebih sedikit limbah.

Pada akhirnya, wisatawan juga memiliki ruang untuk menentukan dampak dari perjalanannya sendiri. Memilih restoran dan usaha lokal, membeli karya atau kerajinan langsung dari pembuatnya, menggunakan jasa pemandu setempat, mengikuti aturan kawasan konservasi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, atau sekadar tidak mengambil sesuatu dari alam adalah keputusan-keputusan kecil yang dapat membentuk cara kita berwisata.

Teknologi juga semakin membuka akses terhadap informasi tersebut. Sebelum berangkat, wisatawan kini dapat mencari informasi mengenai aturan destinasi, kondisi lingkungan, pilihan transportasi, akomodasi, hingga aktivitas yang memiliki dampak sosial dan ekologis lebih rendah. Namun, sebanyak apa pun informasi yang tersedia, teknologi tetap hanya menjadi alat. Keputusan untuk menghormati tempat yang kita datangi tetap berada pada manusia yang melakukan perjalanan.

Karena itu, perjalanan yang bertanggung jawab tidak berhenti pada menjaga lingkungan atau memilih akomodasi yang berkelanjutan. Ada satu hal yang sering kali lebih sederhana, tetapi justru paling mudah dilupakan: menghormati tempat yang kita datangi dan orang-orang yang membuat kita bisa menikmati tempat tersebut.

Di Indonesia, kita mengenal sebuah peribahasa yang sangat sederhana: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Artinya, ketika berada di tempat lain, seseorang perlu menghormati aturan, kebiasaan, adat, dan nilai yang berlaku di tempat tersebut.

Prinsip ini sebenarnya berlaku untuk siapa saja. Bukan hanya wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Orang Indonesia yang bepergian ke negara lain juga memiliki tanggung jawab yang sama. Ketika kita menjadi tamu, kita tidak datang dengan membawa hak untuk memaksakan seluruh kebiasaan kita kepada tuan rumah.

Ada kecenderungan untuk menganggap liburan sebagai ruang untuk “bebas”. Bebas berpakaian, bebas berbicara, bebas berpesta, bebas membuat konten, atau bebas melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di rumah.

Padahal, kebebasan seorang wisatawan selalu bertemu dengan batas ketika ia memasuki ruang milik bersama, ruang sakral, lingkungan masyarakat, atau wilayah yang memiliki aturan tertentu.

Sebuah pantai mungkin terlihat seperti ruang publik yang bebas. Tetapi sebuah pura bukan sekadar latar belakang foto. Sebuah upacara keagamaan bukan pertunjukan yang dibuat untuk wisatawan. Sebuah jalan kampung bukan resor pribadi. Dan masyarakat lokal bukan bagian dari dekorasi sebuah destinasi.

Sebuah restoran di Bali pernah menyerukan agar para tamunya memperlakukan staf dengan lebih sopan setelah melihat perilaku tidak menyenangkan yang terus berulang selama musim kunjungan. Pengelola restoran tersebut kemudian membuat sejumlah aturan bagi pengunjung dan menyatakan tidak akan menoleransi perilaku yang memperlakukan pekerja Indonesia seolah-olah mereka adalah pelayan yang boleh diperlakukan sesuka hati.

Dalam pernyataannya, pengelola restoran itu juga mengakui bahwa sebagian besar tamu mereka berperilaku baik dan justru sangat dihargai. Persoalannya adalah sebagian kecil pengunjung yang dianggap dapat mengganggu lingkungan kerja dan pengalaman orang lain. Karena itu, mereka memilih untuk menempatkan kenyamanan dan rasa aman staf sebagai bagian dari tanggung jawab bisnis, bahkan jika keputusan tersebut berpotensi membuat mereka kehilangan sebagian pelanggan.

Contoh ini menunjukkan bahwa etika pariwisata tidak hanya berbicara tentang jejak karbon, sampah, konservasi, atau pelestarian budaya. Ada manusia di balik setiap destinasi. Ada staf hotel yang membersihkan kamar, pelayan restoran yang menyajikan makanan, pengemudi yang mengantar wisatawan, pemandu yang menjelaskan sejarah sebuah tempat, dan masyarakat yang sehari-hari hidup berdampingan dengan industri pariwisata.

Ketika seseorang membeli layanan wisata, yang dibeli adalah sebuah layanan, bukan hak untuk merendahkan orang yang memberikannya.

Di sinilah etika menjadi penting. Etika perjalanan pada dasarnya adalah kemampuan untuk memahami bahwa tempat yang kita kunjungi memiliki kehidupan sebelum kita datang dan akan tetap memiliki kehidupan setelah kita pergi.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Indonesia jika etika menjadi pengingat di setiap langkah kita menjelajahi bumi yang indah ini?

Mungkin kita akan menikmati laut tanpa merasa perlu mengambil sesuatu darinya. Mengagumi alam tanpa meninggalkan jejak yang merusaknya. Memasuki sebuah desa dengan rasa ingin mengenal, bukan sekadar melihat. Dan menyaksikan sebuah tradisi dengan kesadaran bahwa budaya bukan sekadar atraksi, tetapi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kita akan lebih sering mengingat bahwa tempat yang kita datangi untuk berlibur adalah rumah bagi orang lain. Bahwa apa yang bagi kita hanya beberapa hari perjalanan, bagi mereka adalah kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin kita juga akan lebih sadar bahwa orang-orang yang kita temui selama perjalanan bukan bagian dari fasilitas wisata. Mereka adalah manusia yang memiliki pekerjaan, keluarga, martabat, dan batas yang layak dihormati.

Indonesia dianugerahi begitu banyak keindahan. Tetapi keindahan itu tidak akan terjaga hanya karena kita mencintainya. Ia terjaga ketika rasa kagum diikuti rasa tanggung jawab.

Mungkin itu yang perlu kita ingat: perjalanan yang baik bukan hanya tentang seberapa jauh kita menjelajah, tetapi bagaimana kita memperlakukan setiap tempat dan setiap orang yang kita temui di perjalanan.

Pada Juli 2026, seorang warga negara Belanda dideportasi setelah dilaporkan merusak sejumlah fasilitas di dua hotel di Jakarta. Kasus ini masuk ke ranah hukum, tetapi juga menyisakan pertanyaan etis: mengapa seseorang merasa bebas memperlakukan tempat yang bukan miliknya tanpa tanggung jawab? Hotel bukan rumah sendiri. Fasilitas publik bukan milik pribadi. Sesuatu yang bukan milik kita tetap perlu diperlakukan dengan hormat.

Persoalan berbeda terjadi di Yogyakarta. Between Two Gates di Kotagede sempat ditutup sementara pada Mei 2026 setelah lonjakan kunjungan dan keluhan mengenai wisatawan yang mengganggu kenyamanan warga. Kampung bukan museum. Rumah yang menarik secara visual tetap merupakan ruang privat bagi orang yang tinggal di dalamnya.

Pada kasus lain, otoritas Bali pada September 2026 menahan 13 warga negara asing dalam operasi terkait dugaan prostitusi di sejumlah kawasan wisata. Para pejabat menyatakan aktivitas tersebut diduga dilakukan oleh orang-orang yang masuk ke Indonesia sebagai wisatawan.

Di Raja Ampat, dugaan perburuan penyu oleh wisatawan menggunakan speargun kembali mengingatkan bahwa kawasan konservasi bukan sekadar latar belakang indah untuk media sosial. Alam memiliki batas yang harus dihormati. Hal serupa terlihat di Taman Nasional Komodo, ketika petugas masih menemukan wisatawan yang masuk tanpa tiket atau melakukan aktivitas di luar ketentuan.

Etika wisata juga menyangkut cara kita memperlakukan masyarakat lokal. Perbedaan budaya bukan alasan untuk berhenti belajar. Sebelum bepergian, kita perlu memahami aturan, kebiasaan, ruang sakral, dan batas-batas yang berlaku.

Pada akhirnya, prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” berlaku bagi siapa pun, termasuk kita ketika menjadi turis di negara lain. Menjadi wisatawan bukan hanya tentang hak menikmati tempat baru, tetapi juga tanggung jawab untuk tidak merusaknya, baik alamnya, budayanya, ruang hidupnya, maupun martabat orang-orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya.

Pariwisata yang baik bukan hanya membuat wisatawan merasa nyaman. Ia juga memastikan masyarakat lokal tetap dihormati, budaya tetap memiliki makna, dan lingkungan tetap terjaga. Sebab karakter seseorang sering kali terlihat bukan ketika ia berada di rumahnya sendiri, tetapi ketika ia menjadi tamu di tempat yang aturannya tidak ia buat.