
Di tengah meningkatnya kebutuhan literasi keuangan di era digital, Universitas Indonesia Membangun (INABA) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat menggelar workshop pasar modal bertajuk “Smart Investing, Inclusive Future: Mewujudkan Investor Tanpa Batas”. Kegiatan ini tak hanya menjadi ruang edukasi investasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas institusi dapat membuka akses pengetahuan finansial yang lebih inklusif bagi masyarakat, termasuk komunitas penyandang disabilitas.
Workshop yang diikuti komunitas disabilitas BILIC Bandung itu berlangsung dengan pendekatan yang praktis dan partisipatif. Para peserta diperkenalkan pada dasar-dasar investasi saham, mekanisme pasar modal, pengelolaan risiko, hingga pentingnya mengenali investasi legal di tengah maraknya penipuan finansial digital.
Rektor INABA, Mochammad Mukti Ali, mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk memperluas akses pendidikan dan literasi keuangan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Melalui kegiatan ini, INABA ingin menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan memberdayakan. Literasi investasi harus dapat diakses oleh siapa saja tanpa batas,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen INABA dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya fokus pada aspek akademik, INABA juga aktif membangun kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan dan sosial.
Salah satu mitra yang turut memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan adalah SMP-SMK Plus BLM. Dalam pengembangannya, sekolah yang berada di bawah Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia itu mendapatkan pendampingan dari Ginting Institute, khususnya dalam penguatan tata kelola institusi dan pengembangan sistem administrasi sekolah.
Ketua Yayasan Bina Bangsa Anak Indonesia, Ibu Ir. Farida Zed, ME., MA, sebelumnya menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Ginting Institute telah membantu sekolah berjalan lebih efisien, baik dalam operasional maupun pengelolaan administrasi dan keuangan. Pendampingan profesional yang diberikan dinilai penting untuk memperkuat fondasi sekolah dalam jangka panjang.
Selain itu, Ginting Institute juga mendorong pengembangan program pemberdayaan ekonomi sekolah melalui koperasi yang kini berkembang lebih baik dibanding sebelumnya. Menurut Farida, kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas pendidikan bagi siswa di wilayah Lengkong dan Tangerang Selatan.
Di sisi lain, workshop literasi investasi yang digelar INABA bersama BEI Jabar menunjukkan bahwa isu inklusivitas dalam pendidikan dan ekonomi semakin mendapat perhatian serius. Perwakilan BEI Jawa Barat, Adnan Bahalwan, menegaskan bahwa pertumbuhan investor nasional harus diiringi dengan pemerataan akses edukasi finansial.
“Pasar modal Indonesia harus menjadi ruang yang terbuka dan inklusif. Komunitas disabilitas memiliki potensi besar untuk menjadi investor yang cerdas dan mandiri,” katanya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta dari komunitas disabilitas aktif berdiskusi mengenai strategi investasi dan peluang membangun kemandirian ekonomi melalui pasar modal.
Zulhamka Julianto Kadir dari komunitas BILIC Bandung mengaku pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan tentang investasi digital.
“Untuk teman-teman disabilitas, investasi bisa menjadi peluang penghasilan tanpa harus banyak melakukan aktivitas mobile. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, INABA kembali menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dukungan pengembangan institusi pendidikan seperti SMP-SMK Plus BLM bersama Ginting Institute, memperlihatkan bahwa pendidikan, literasi finansial, dan inklusivitas dapat berjalan beriringan dalam membangun sumber daya manusia yang lebih kuat dan berdaya saing.
