“Ekspresi lukisan itu menunjukkan segi kecantikan dan keanggunan dari kesederhanaan, tetapi seluruhnya mampu menangkap semangat etos kerja yang luar biasa.”
— Daniel Ginting | Rimpang Rasa

Hasil Panen | 150 x 105 cm | Cat minyak di atas kanvas | 1964
Tidak semua kekuatan bersuara lantang.
Sebagiannya berjalan tenang, memikul yang tak terlihat.
Dalam perbincangan publik, kekuatan sering digambarkan dengan cara yang dramatis, pidato yang berapi-api, keputusan besar yang mengubah arah sejarah, atau sosok yang berdiri di panggung dengan sorotan lampu. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita tahu bahwa kekuatan memiliki bentuk yang jauh lebih sunyi.
Ia hadir dalam ketekunan. Ia hidup dalam rutinitas yang berulang: merawat keluarga, menata ruang kerja, menjaga komunitas tetap berjalan, atau sekadar memastikan bahwa sesuatu yang rapuh tidak runtuh. Banyak dari pekerjaan itu tidak selalu terlihat, jarang dirayakan, dan sering dianggap sebagai kewajaran. Padahal, di sanalah fondasi kehidupan sosial dibangun.
Hari Perempuan Internasional bukan sekadar peringatan tahunan yang diisi dengan ucapan selamat atau simbol-simbol perayaan. Lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa sejarah manusia tidak pernah bergerak tanpa kontribusi perempuan baik yang tercatat dalam buku sejarah maupun yang hidup dalam ruang-ruang domestik, ruang pendidikan, ruang sosial, dan ruang kreatif.
Sering kali, yang paling kuat justru tidak mencari panggung. Mereka hadir dalam kerja yang konsisten. Dalam kemampuan untuk bertahan ketika keadaan tidak selalu berpihak. Dalam kepekaan membaca situasi, dalam kesabaran membangun sesuatu yang hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Ada kualitas etis dalam cara banyak perempuan menjalani perannya di dunia: kesadaran bahwa kehidupan adalah ruang bersama. Bahwa kemajuan bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi sesuatu yang harus memungkinkan orang lain ikut bertumbuh.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang kesetaraan, pembicaraan tersebut tidak hanya berhenti pada kesempatan yang sama. Kesetaraan juga berbicara tentang pembagian tanggung jawab yang adil.
Etika dalam kehidupan sosial menuntut kita untuk melihat kembali bagaimana kerja baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat dan dihargai. Siapa yang diberi ruang untuk berkembang. Siapa yang masih harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama.
Hari Perempuan Internasional mengingatkan kita bahwa penghormatan bukan hanya soal simbol. Ia hadir dalam cara kita memperlakukan satu sama lain setiap hari. Dalam kebijakan yang memberi ruang setara bagi perempuan untuk memimpin, berkarya, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Dalam lingkungan kerja yang menghargai kompetensi, bukan stereotip. Dalam keluarga yang berbagi tanggung jawab secara wajar.
Pada akhirnya, perayaan ini bukan hanya tentang perempuan. Ia adalah tentang kualitas kemanusiaan kita bersama. Sebuah masyarakat yang menghormati perempuan pada dasarnya sedang menjaga martabat dirinya sendiri.
Seperti dalam kutipan Daniel Ginting, ada sesuatu yang sangat kuat dalam kesederhanaan dalam keanggunan yang tidak perlu berisik untuk menunjukkan nilainya. Di sanalah kita sering menemukan etos kerja yang paling tulus: bekerja bukan untuk pengakuan, tetapi karena pekerjaan itu memang harus dilakukan.
Dan dunia berjalan karena orang-orang seperti itu ada. Hari ini kita merayakan mereka yang terlihat maupun yang tidak. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan komitmen untuk membangun dunia yang lebih adil, lebih beretika, dan lebih manusiawi.
Selamat Hari Perempuan Internasional. ❤️
