Muhammad Aswary Pulungan: Membangun Peradaban Beretika sebagai Fondasi Masa Depan Indonesia

image

Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, isu etika kerap terpinggirkan oleh pragmatisme dan kompetisi. Namun bagi Muhammad Aswary Pulungan atau biasa dipanggil Kiky, Co-Founder Ginting Institute, etika justru merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang sehat dan berkelanjutan. Dalam wawancara khusus dengan Kiky, Kiky menegaskan bahwa lembaga yang ia dirikan bersama Daniel Ginting lahir dari kegelisahan yang sama: bagaimana memajukan isu-isu etika di Indonesia secara konkret dan berkelanjutan.

“Kami membangun yayasan ini dengan tujuan yang jelas memajukan isu-isu tentang etika di Indonesia,” ujar Kiky membuka percakapan.

Selama kurang lebih delapan tahun terakhir, Ginting Institute telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk membicarakan, mendiskusikan, dan mengembangkan potensi yang dapat dibangun melalui sejumlah sektor penting di Indonesia. Salah satu sektor utama yang menjadi fokus adalah pendidikan.

Menurut Kiky, kesadaran tentang pentingnya etika harus ditanamkan sejak dini. “Kami memiliki keyakinan bahwa jika ada kesadaran di tengah masyarakat tentang pentingnya etika, maka nilai itu akan terbawa dalam setiap aktivitas baik saat bekerja, berkarya, maupun berinteraksi,” jelasnya.

Ginting Institute aktif berdiskusi dengan tokoh-tokoh pendidikan dan pemangku kepentingan di berbagai jenjang mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat kondisi aktual pendidikan di Indonesia sekaligus merumuskan langkah strategis untuk masa depan.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, Kiky menyoroti berbagai isu yang berkembang di masyarakat, khususnya terkait integritas dan kejujuran. Ia melihat bahwa pembangunan Indonesia yang sehat dan bersih tidak dapat dilepaskan dari penguatan nilai etika.

“Banyak isu etika yang berkembang, terutama dalam kaitannya dengan integritas dan kejujuran. Bagi kami, ini bukan sekadar wacana, tetapi sebuah kesadaran yang harus dibangun sejak dini,” tegasnya.

Diskusi yang dilakukan Ginting Institute tidak terbatas pada isu pendidikan semata, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi, sosial, hingga kebaharian. Dalam pandangan Kiky, Indonesia memiliki sejarah peradaban yang kuat terutama di wilayah pesisir yang dibangun bukan hanya atas dasar kejayaan ekonomi, tetapi juga nilai yang dijunjung tinggi.

“Peradaban Indonesia pernah jaya karena ada nilai yang dipertahankan. Persatuan bangsa ini bertahan karena kita memiliki prinsip utama yang sama,” ujarnya.

Ke depan, Ginting Institute berkomitmen memperluas dampaknya melalui kolaborasi lintas sektor. Kiky mengakui bahwa banyak pihak baik lembaga nirlaba, perusahaan, maupun donor yang memiliki harapan untuk bekerja sama.

“Kami melihat ini sebagai peluang besar untuk memajukan etika bersama-sama. Kolaborasi menjadi penting selama memiliki kesamaan nilai untuk membangun Indonesia tanpa melepaskan isu utama: membangun peradaban yang memiliki etika kuat,” jelasnya.

Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu memperluas jangkauan program dan memperkuat dampak sosial yang berkelanjutan.

Bagi Kiky, generasi muda adalah bagian dari mimpi besar Indonesia. Dalam perjalanan Ginting Institute, anak-anak muda selalu dilibatkan sebagai tolak ukur arah gerak lembaga.

“Kami belajar dari mereka, apa yang menjadi perhatian dan cita-cita mereka. Ada yang ingin membangun di sektor pertanian, perikanan, teknologi. Mereka adalah masa depan bangsa,” katanya.

Ia berpesan agar generasi muda melihat kemajuan bangsa tidak hanya dari sisi fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari sisi nilai. “Kemajuan sejati tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi dari nilai yang kita pegang,” tegasnya.

Ginting Institute membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat, berkolaborasi, dan membangun kesadaran etika sebagai fondasi utama memajukan bangsa.

Menutup wawancara, Kiky menyampaikan ajakan terbuka kepada seluruh masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Bagi Ginting Institute, etika bukan sekadar wacana, melainkan komitmen jangka panjang untuk membangun Indonesia yang lebih bermartabat.

“Etika harus terus dijaga dan dilestarikan. Itulah fondasi peradaban yang ingin kita bangun bersama,” pungkasnya.